Teluk Jailolo, Keindahan Maluku Utara Yang Sempurna

Sering kali saya mendapatkan ajakan dari teman-teman untuk mengunjungi Teluk Jailolo ini. Saya pribadi, sudah sejak lama pula ingin menjamah keelokan salah satu kabupate di Propinsi Maluku Utara, yang sejak tahun 2009 sering menggelar Festival Budaya tahunan. Pun akhirnya saya mantap untuk menjadikannya sebagai destinasi berpetualang saya selanjutnya.

Penat masih terasa ketika mobil kijang Inova yang saya sewa bersama 3 orang teman tiba di sebuah penginapan sederhana yang terletak tidak jauh dari pasar ikan atau tempat pelelangan ikan Jailolo. Seperti halnya di Morotai, saya harus menunggu lebih dari 40 menit untuk bisa bertemu dengan resepsionis Penginapan Camar ini. Itu pun setelah dua orang yang berjaga di counter handphone yang berada di samping penginapan berkali-kali menelponnya.

Hal ini disebabkan karena masih sepinya wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, jadi sang resepsionis bosan berada di belakang meja seharian. Jika bisa mengutip perkataan penjaga hotel Alfa Mas di Tobelo ketika saya bertanya tentang dimana saya harus menginap di Morotai nantinya, dan apakah perlu saya harus booking hotel dulu via telepon? Dengan entengnya si mbak penjaga hotel bilang gini:

“Disini tidak seperti Jakarta kok mas, mau nginep aja harus booking-booking dulu”.

Dan benar adanya tidak perlu booking terlebih dahulu, tapi harus sabar menunggu sang resepsionis datang.

Formasi kamar kembali dibagi, saya seorang diri dan 3 trio ibu-ibu berada dalam satu kamar. Namun jenis kamar yang kami ambil berbeda, karena saya sendiri saya ambil kamar yang murah dengan satu tempat tidur kecil, sedangkan bagi mereka bertiga harus memilih kamar dengan ukuran tempat tidur yang besar.

Dermaga nelayan Teluk Jailolo
Dermaga nelayan Teluk Jailolo

Penginapan ini ternyata memiliki teras belakang yang menghadap langsung ke Teluk Jailolo. Hutan bakau yang rimbun menyambut saya ketika duduk-duduk sejenak di teras belakangnya. Di sana, terdapat pula sebuah dermaga kayu yang terlihat  menggelitik rasa ingin tahu saya. Ternyata itu adalah dermaga tradisional milik masyarakat setempat untuk para nelayan berlabuh menjual hasil tangkapannya. Letaknya di belakang pasar atau tempat pelelangan ikan.

Aktifitas sore di teluk Jailolo
Aktifitas sore di teluk Jailolo

Di ujung terlihat beberapa warga sedang asik mmemancing ikan sambil menikmati indahnya teluk di waktu petang. Memang pantulan cahaya matahari senja membuat teluk ini tarasa damai dan nyaman sekali untuk sejenak menghilangkan penat. Apalagi setelah hampir 6 jam menempuh perjalanan darat dengan rute yang sangat aduhai sekali mengocok isi perut. Bahkan seperti biasanya, tiga orang teman seperjalanan saya harus terlihat pulas tidur untuk mengurangi efek guncangan-guncangan yang di akibatkan jalan yang berkelok dan mobil yang melaju sangat kencang.

Gunung Jailolo yang gagah
Gunung Jailolo yang gagah

Gunung Jailolo terlihat indah sekali petang itu, awan sedikit berarak diatasnya. Matahari terlihat terbenam ke arah balik gunung, sementara kapal-kapal nelayan bolak-balik menyambangi dermaga ini.

Mereka datang untuk menjual hasil tangkapannya kepada para pedagang, dan kembali melaut untuk mencari hasil laut selanjutnya. Para pedagang juga terlihat sibuk dengan ikan-ikan yang dibeli dari nelayan. Mereka biasanya menaruh ikan dalam sebuah tempat pendingin untuk dijual lagi keesokan harinya. Petang yang benar-benar damai berada di sebuah teluk seperti teluk Jailolo ini.

Malam sudah menjelang, lampu-lampu kapal di pelabuhan terlihat kerlap-kerlip memancarkan keindahan, perut juga rasanya sudah lapar.

Agenda selanjutnya adalah makan, salah satu kegiatan yang selalu saya tungu-tunggu ketika bepergian, mencicipi masakan setempat akan menjadi hal yang sangat menarik sekali. Malam itu saya harus bolak-balik jalan kaki, karena menurut informasi  dari seorang sahabat, di dekat pelabuhan ada soto yang sangat lezat, ternyata setelah berjalan kaki di kegelapan saya tidak menemukan warung itu. Terlihat sekelompok penduduk sedang asik bersendau gurau, entah apa yang mereka perbincangkan. Kepada mereka akhirnya saya bertanya tentang keberadaan warung-warung yang menjual makanan.

Dari keterangan beliau-beliau ini saya kemudian mendapat informasi bahwa di daerah dekat kantor pos banyak terdapat warung makan. Akhirnya meluncurlah saya menuju lokasi yang disebut. Dan benar adanya banyak sekali terdapat warung makan dsini, mulai dari sate kambing, sate ayam, warung coto makasar, pecel lele, pecel  ayam juga ada.

Namun saya sedikit kecewa tidak bisa menikmati menu seafood yang sejatinya harus bertebaran di daerah yang merupakan penghasil  ikan seperti Teluk Jailolo ini. Ah, sudah lah, perut juga rasanya sudah berontak untuk segera diisi.

Warung Lamongan pun menjadi pilihan kami. Pemiliknya adalah Kang Suarno. Dari beliau saya mendapatkan keterangan bahwa perantau dari Pulau Jawa juga banyak bermukim di daerah Jailolo ini. Merekaa biasanya bekerja pada perkebunan cengkeh yang tersebar di beberapa wilayah di kabupaten Jailolo.

“Kalau sabtu-minggu disini sepi mas, para pekerja pemerintahan pada pulang ke Ternate semua”.

Begitu keluhan yang terlontar dari mulut Kang Suarno ketika saya menanyakan, kenapa malam minggu di sini sepi sekali.

***

Pagi menjelang dan hampir saja saya kesiangan untk berburu sunrise di atas dermaga rakyat di samping penginapan saya. Kamar trio ibu-ibu juga masih terlihat gelap, berarti mereka masih terlelap tidur memeluk mimpinya terbang bersama burung Bidadari  dan burung Nuri yang banyak  terdapat di pulau ini.

Bias cahaya matahari pagi begitu mempesona sekali, teluk juga masih terlihat tenang dan sepi, hampir saja saya terlena tidak membidikkan lensa untuk merekam keindahan pagi itu. Satu persatu trio ibu-ibu sahabat saya mulai terlihat di atas dermaga.

Beberapa nelayan juga terlihat sibuk dengan menjual hasil tangkapannya. Sungguh melimpah sekali hasil laut disini.

Selain pesona yang terpancar dari teluk ini idah ini, Gunung Jailolo juga terlihat gagah sekali pagi itu. Awan sedikit berarak memayungi puncaknya, namun hanya berlangsung sebentar.

Begitu awan tersibak, puncak gunung terlihat menantang sekali. Puas rasanya menikmati  keelokan pagi di Teluk Jailolo ini. Bergegas kembali ke penginapan adalah pilihan yang tepat karena harus  berkemas dan melanjutkan perjalanan kembali ke Ternate.

***

Pelabuhan Jailolo
Pelabuhan Jailolo

Pelabuhan Jailolo terlihat sedikit lengang pagi menjelang siang waktu itu. Hanya sedikit penumpang yang sedang duduk di ruang tunggu tempat berangkatnya boat menuju pelabuhan Dhufa-dhufa di ternate. Setelah hampir satu jam menunggu ternyata boat belum berangkat juga, akhirnya saya mencoba untuk menyewa boat saja supaya waktu kami tidak terbuang percuma dengan menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Menurut keterangan beberapa sahabat yang sudah datang ke Jailolo mendingan sewa boat sendiri saja supaya cepat. Setelah deal dengan sang pemilik boat, saya segera menuju ke boat yang hendak mengantarkan saya menuju Trenate.

Namun masalah mulai muncul dari sini, seorang bapak-bapak ngotot tidak memperbolehkan boat kami berangkat, sambil sibuk pegang HT (radio komunikasi). Menurut dia, saya harus ikut dalam antrian boat yang akan berangkat ke Ternate.

Oh God, apalagi ini. Boat yang sedang dalam antrian terlihat besar sekali, berkapasitas 50 orang, sementara yang sudah berada di ruang tunggu tidak kurang dari 10 orang, mau sampai jam berapa saya harus menghabiskan waktu disini. Akhirnya dengan muka bersungut dan pasrah saya kembali ke ruang tunggu, berusaha berkompromi dengan keadaan yang terjadi dalam perjalanan ini.

Bukankan esensi dari sebuah perjalanan itu adalah proses perjalanan nya itu sendiri, begitulah saya menghibur diri.

Duduk di  ruang tunggu saya dapat teman baru untuk berbincang.

“Owalah wong Pati tah mas, neng kene akeh wong Pati jadi tentara ama brimob, wes suk nek mrene meneh nginep neng barak wae.”
(Ternyata orang pati ya mas, disini banyak orang Pati jadi tentara sama Brimob, nanti kalau kesini lagi nginap di Barak saja)

Begitulah sang tentara berseloroh. Namanya Mas Joko, seorang tentara yang berasal dari Rembang, tidak jauh dari kampung saya berasal, namun ketemunya di lokasi yang jauh sekali dari pulau Jawa, dari dialah saya banyak mendapat keterangan tentang Jailolo.

Mas Joko juga bercerita sudah hampir 9 tahun bertugas disana. Seberkas harapan juga diungkapkan kepada saya, berharap suatu saat bisa mengajukan mutasi ke pulau Jawa biar bisa dekat dengan orang tuanya, semoga ya mas.

Tak selang beberapa lama dari obrolan dengan mas Joko tadi, serombongan orang datang. Doa saya adalah semoga mereka itu penumpang yang akan menyeberang ke Ternate, dan benar mereka semua memasuki boat yang sedang mengantri giliran untuk berangkat, itu artinya saya akan segera berangkat ke Ternate setelah hampir 3 jam menunggu.

Tuhan selalu mendengar doa para Pejalan.

Satu jengkel yang masih belum bisa hilang saat itu adalah Si bapak-bapak yang ngotot melarang boat kami berangkat tadi ternyata adalah nahkoda boat besar itu. Ahh… sudahlah, nikmati saja indahnya Teluk Jailolo ini.

Lambaian tangan Mas joko melepas keberangkatan saya, Gunung Jailolo juga mulai terlihat semakin jauh, masih beratap langit biru di sertai awan berarak seolah berbisik kepada saya:

“Festival Teluk Jailolo tahun depan datang ya Lang”

SEMOGAA!

***

Artikel ini merupakan cerita perjalanan saya saat berkunjung dan melihat keindahan Teluk Jailolo dalam rentang tahun 2011. Mungkin terdapat beberapa informasi yang sudah tidak relevan saat ini.

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

Leave a Reply