Didi Kempot, Kenangan Yang Tercecer

Didi Kempot

Suasana panggung kecil itu begitu gegap gempita dengan lantunan lagu-lagu patah hati. Terlihat semua larut dengan larik-larik syair sendu yang mengalun. Namun terlihat kontras dengan suasana yang penuh semangat sekali membawakannya. Saya sempat iri sama mereka, para kaum patah hati yang sedang bernyanyi dengan lord-nya, Didi Kempot.

Disaat itu juga, dada kok rasanya makin sesak ya. Mata terasa mbrambang, ada rasa haru yang menyelinap. Karya seni yang dulu dianggap kampungan, kini malah diminati olah kalangan muda kamu millenial. Acara Ngobam (ngobrol bareng musisi) yang dibuat oleh Gofar ini, sudah kembali mengantarkan Didi Kempot kembali pada masa kejayaanya. Namun bukankah Didi Kempot bukan lagi musisi, tapi sudah menjadi salah satu maestro yang melegenda. Harusnya Ngobam ini kepanjangan dari (ngobrol bareng maestro) he he.

Didi Kempot bukanlah sosok yang asing buat saya. Walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung, namun rasa yang dituangkan lewat syair-syair lagu yang diciptakannya sudah membuat hati saya merasa dekat dengan sosok beliau ini.

Ada satu kisah kecil di terminal seleko Pati puluhan tahun yang lalu. Hari itu adalah hari pertama kalinya saya akan merantau jauh ke propinsi Riau. Tak ada orang yang mengantar, karena memang tak ada kendaraan yang dipakai. Saya nunut gerobak tetangga yang lewat di depan rumah untuk ke terminal. Ketika sedang menunggu Bis yang akan membawa saya menuju daerah perantauan, saya mendengar ada penjual kaset yang sedang memutar lagu-lagu jawa. Dan lagu yang sangat membekas dalam ingatan saya itu adalah “stasiun balapan”- Didi Kempot.

“Kowe Ninggal Aku
Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku”-stasiun balapan

Syair yang keluar dari dalam pengeras suara itu seolah mewakili apa yang tengah saya rasakan saat itu. Dan seolah ada hawa ghaib yang menggerakkan, saya mendatangi penjual kaset itu dan membelinya dengan uang tabungan yang seharusnya jadi uang saku saya dalam perantauan nanti. Bahkan untuk biaya perjalanan saja saya harus berhutang dulu sama “pengantar”. Orang ini yang membelikan tiket terlebih dahulu, baru nanti kita bayar kalau kita sudah punya uang dengan tambahan yang sudah disepakati tentunya.

Kaset itulah yang jadi teman saya di perantauan. Bahkan ketika sampai di daerah Perawang, desa kecil di pelosok Riau, saya sering datang kerumah tetangga untuk numpang muter kasetnya agar bisa mendengarkan lagu-lagunya Didi Kempot ini.

Lewat Lagu-lagu ini, sedikit mengobati rasa kangen saya pada kampung halaman waktu itu. Juga pada seseorang yang saya tinggalkan di tanah Jawa sana. Seseorang yang cintanya sedang saya perjuangkan dengan merantau ini. LDR-an kalau istilah anak sekarang. Namun apa yang saya perjuangkan itu tidak berakhir dengan bahagia. Dia tak sabar menunggu saya kembali membawa keberhasilan. Ditinggal kawin dengan lelaki lain ceritanya. Lengkaplah sudah cerita hidup saya dengan diksi-diksi yang dihadirkan dalam lagunya Didi Kempot.

dek opo salah awakku iki
kowe nganti tego mblenjani janji
opo mergo kahanan uripku iki
mlarat bondo seje karo uripmu“-Cidro

Lirik lagu diatas seolah mewakili perasaan yang saya rasakan waktu itu. Berjuang untuk bisa kembali kumpul dengan akhir sebuah kebahagiaan, tapi ternyata susah memang. Sempat berfikir, apa karena saya miskin dan bukan dari keluarga yang berada ya hingga dia tega meninggalkan saya demi lelaki itu?. Tapi sudahlah, patah hati ini harus dinikmati. Dijogeti saja biar gak terlalu terbawa perasaan. Dua tahun di tanah rantau, membuat rindu ini sangat berat. Rindu dengan semuanya yang ada di kampung halaman. Untunglah lagu-lagunya Didi Kempot menemani dan mengobati sedikit kerinduan akan kampung halaman.

Satu lagi lagu yang begitu membekas dalam hati saya adalah “bapak”. Lagu ini juga ternyata punya cerita menarik dibelakang kisah pembuatannya.

kamu ini sudah menciptakan lagu ratusan, tapi mosok gak ada satupun tentang bapakmu ini” ujar Mbah Ranto Gudhel sang bapak dari Didi Kempot.

Dari latar belakang inilah, lagu bapak tercipta. Lagu yang liriknya tak pernah membuat saya bisa membendung tangis. Rasa rindu kepada almarhum bapak, terwakili dengan lagu ini. Dan konon katanya lagu ini juga yang mengantarkan Jenazah mbah Ranto Gudhel ke peristirahatan terakhir sesuai permintaan beliau.

kalau aku nanti meninggal, lagu itu haus diputar dan semua anak-anakku harus ikut nyanyi“Pesan mbah Ranto Gudhel.

Dan malam ini, saya kembali terharu dengan tayangan di sebuah stasiun TV yang menayangkan live ngobrol bareng Didi Kempot. Dan hebatnya lagi sempat jadi trending topik pertama di Twitter malam ini. Rasa bangga yang tiada terkira, lagu yang dulu pernah dianggap kampungan, kini mulai disenangi oleh generasi muda saat ini. Semoga ini menular kepada kesenian-kesenian daerah lain di seluruh negeri ini. Karena saya yakin, budaya lah yang akhirnya nanti bisa kembali menyatukan bangsa ini yang sempat terpecah beberapa waktu lalu.

Dan akhirnya saya Bangga sudah menjadi salah satu Sobat Ambyar yang mengagumi ‘The Godfather Of Broken Heart’ Didi Kempot.

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

2 Responses
  1. Sebagai warga masyarakat Jawa Barat, saya tetap merasa bangga sekaligus takjub dengan antusias anak muda yang mendukung seniman sekaliber Didi Kempot. Dan saya sepakat kalau budaya kembali menyatukan bangsa ini …

Leave a Reply