Terpikat dengan Savana Lamanabi di Flores Timur

Cuaca sangat terik siang itu. Pemandangan sepanjang perjalanan membuat saya rasanya enggan memejamkan mata didalam mobil. Mulai dari pantai, hutan, rumah-rumah penduduk hingga kebun jagung terlihat begitu mempesona,dalam bentangan cakrawala indah berlatar langit biru yang mempesona.

Perjalanan menuju savana Lamanabi

Rizal, travelmate saya kali ini matanya tak pernah lepas dari ponsel miliknya. Saya gak tau kenapa dia selalu menatap layar ponsel mungil itu. Kalaupun tak ngutak atik ponselnya pasti dia sedang tidur. 
“Ini mau ke pertapaan apa hanya ke savananya saja mas” Pertanyaan om Berry memecah lamunan saya siang itu.

Saya tidak pernah tahu informasi tentang pertapaan ini sebelumnya. Inilah kebiasaan yang saya sukai dari dulu. Kejutan-kejutan yang tak pernah saya duga sebelumnya. Biasanya hampir 50 persen informasi saya kantongi sebelum melakukan perjalanan, gunanya supaya tidak mati gaya ketika smapai di lokasi. Sisanya biarlah kejutan-kejutan seperti ini.

Kapel di Pertapaan Lamanabi

Tanpa pikir panjang saya mengiyakan saja pertayaan om Berry. Pemandangan luar sudah mulai bagus dengan hamparan savana, tapi mobil yang saya tumpangi terus melaju sampai ke ujung jalanan hotmix itu. Ternyata disanalah Pertapaan Lamanabi berada. Saya membunyikan lonceng sebanyak 5 kali. Karena penasaran ingin melihat dalamnya seperti apa. Sekilas suasana dari luar pertapaan ini sepeerti tidak berpenghuni. Sunyi sekali tak ada suara lain selain nyanyian burung-burung di hutan yang berada disamping pertapaan.

Frater Ponsianus

Pintu utama pertapaan dibuka. Saya disambut oleh salah satu frater yang bertugas disana. Bapak Ponsianus namanya. Darinya saya banyak dapat informasi mengenai pertapaan ini. Beliau menejelaskan dengan ramah sekali. Saya dipersilahkan melihat sebuah kapela yang ada di bagian belakang pertapaan ini. Kapel ini dibangun sangat cantik sekali. Dindingnya dilapis dengan bebatuan alam, sementara daun-daun pintunya juga dihias dengan ornamen-ornman klasik. 

Suasana di dalam kapel Pertapaan lamanabi

Didalam kapel terlihat kursi jemaat baris menghadap ke altar. Sementara diatas altar terdapat sebuah kubah yang cantik. Di hias dengan cat bertema awan, seolah kapel itu tak beratap dan langsung di bawah awan. 
Pemandangan di luar kapel juga sungguh menarik. Perbukitan hijau menghiasi hampir sejauh mata memandang. Dan inti dari semuanya adalah, tempat ini sangat sunyi.

“Sudah pernah ke Pertapaan yang ada di Rawaseneng Jawa Tengah?” Tanya frater ponsianus kepada saya.

Suasana Tenang di Pertapaan Lamanabi

Saya hanya menggeleng pelan. Lalu dia bercerita panjang lebar tentang hubungan pertapaan yang ada di Lamanabi dan Rawaseneng itu. 
Biara Trappist merupakan salah satu cabang dari keluarga besar Ordo Benediktin. Ordo ini didirikan oleh uskup Benediktin pada abad Vi di Italia. Frater Ponsianus bercerita kenapa Lamanabi dipilih jadi salah satu lokasi pertapaan, karena lokasinya sunyi jauh dari kota, dekat dengan air dan hutan. 

Memang sih terlihat sangat sunyi disini. Di depan bangunan Pertapaan ini juga ada gua Maria yang letaknya diatas sebuah bukit. Buat msyarakat Katholik yang ingin Ziarah kesini, ada penginapan yang disediakan oleh pihak pertapaan. Tarif seharinya 150ribu saja perorang. Sudah dengan makan untuk ruangan yang tak ber AC. Sementara ruangan yang ada ACnya 200 ribu /orang.

Hari makin siang, kami meminta ijin untuk numpang makan siang di ruang makan pertapaan ini. Bekal yang saya bawa dari homestay saya makan diruang makan tersebut. Dan satu kesan yang saya tangkap dari ruang makan itu adalah bersih dan tertata rapi. Kagum saya dibuatnya.

Savana Lamanabi

Setelah berpamitan kepada Frater Posnianus, saya melanjutkan perjalanan ke arah savana lamanabi. Kenapa namanya Lamanabi, karena letak savana ini ada di desa Lamanabi kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur.
Begitu sampai kembali di padang Savana ini, mata saya dimanjakan dengan hijaunya pemandangan sekitar. Mobil berhenti di spot terbaik, disamping pohon perdu yang juga spot untuk nyari sinyal. Memang di pertapaan Lamanabi tadi saya tidak mendapatkan sinyal.

Keindahan Savana Lamanabi berpadu dalam Bentang Cakrawala

Hamparan Savana hijau, dengan latar belakang bukit-bukit yang subur membuat saya betah berada lama-lama di sana. Tak usah dikomaandoi, saya segera meloncat keluar dari mobil dan berjalan kearah padang ilalang yang cantik itu. Hanya merekam beberapa shoot saja di lensa saya, kemudian saya simpan kamera dan menikmatinya saja. Tiba-tiba kepikiran untuk nerbangin drone disana. Drone mungil saya siapkan dan tak perlu waktu lama untuk terbang. Melihat panorama alam dari atas membuat saya makin takjub. Disalah satu sisinya terlihat laut yang dihiasi hutan hijau disepanjang mata memandang. Juga terlihat beberapa embung yang jadi seumber air warga sekitar sepertinya.

Coba tebak aku ada disebelah mana?

Jalanan menuju lokasi ini juga sudah bangus sekali. Pemandangan sepanjang perjalanan juga menarik. 

Danau Asmara di Tanjung Bunga Flores Timur

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke Danau Asmara. Mendengar cerita  legenda kenapa namanya jadi danau Asmara dari warga sekitar, tak membuat saya kaget. Seperti kisah klasik lainnya dibeberapa tempat. Percintaan dengan latar belakang perbedaan dan tidak disetujui keluarga. Mereka memilih untuk bunuh diri bersama masuk kedalam danau itu. Menurut penuturan warga sekitar, didanau itu duhuni oleh banyak sekali buaya.

Pemandangan dari atas rumah pohon

Jadi mustahil ketika orang masuk kesana jasadnya akan ditemukan. Namun anehnya, jenazah dua sejoli ini ditemukan 3 hari setelah kejadian. Dari cerita itulah, makan nama danau ini dinamakan sebagai danau asmara. Saksi asmara antara dua sejoli tersebut. Dan konon mitosnya kalau ajak pacar kesini pasti akan segera jadi pasangan hidup. Terus kemarin saya kesana berempat batangan semua, gimana dongg, semoga gak jadi buaya semua ya kami 🙂

Perjalanan Ke Flores Timur kali ini untuk melihat secara langsung prosesi Semana santa yang juga jadi rangkaian Festival Bale Nagi yang sedang di gelar oleh pemerintah daerah Flores Timur.

Tertari ke Lamanabi? Bale Nagi Larantuka

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

2 Responses

Leave a Reply