Saya, Motor dan Tuhan

Malam kian larut, namun demam yang bersemayam di dalam tubuh ini rasannya enggan untuk pergi barang sejenak. Sudah dua hari kondisi tubuh saya terasa lemah. Demam dan diare seolah menyedot semua energi yang ada dalam tubuh.

Mendapat “hadiah” dari gusti Allah SWT berupa sakit ketika sedang dalam perjalanan itu rasanya tiada terkira. Saya harus berjuang sendiri melawan rasa sakit yang ada dalam tubuh ini. Mungkin ini pertanda bahwa pencipta raga ini menyuruh saya untuk beristirahat sejenak dari perjalanan panjang menyurusi sudut-sudut nusantara ini.

Saya menganggap ini adalah sebuah tantangan yang harus saya hadapi. Dan ini belum seberapa jika di bandingkan perjuangan adik-adik saya di Sumba yang harus berjalan berkilo-kilo meter untuk pergi ke sekolah, perjuangan para ibu-ibu di pulau Rote yang harus berjalan jauh sambil memikul air untuk kebutuhan keluarga, serta kehidupan masyarakat Sabu yang tergantung dengan kondisi cuaca laut.

Tantangan yang saya dapatkan ini belum seberapa di banding dengan tantangan nyata yang mereka hadapi setiap harinya. Tapi yang membuat saya harus kuat adalah Semangat mereka dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.  Dari mereka saya banyak belajar tentang bagaimana bertahan di tengah sebuah keterbatasan.

Indonesia timur memang belum setara dalam hal kesejahteraan jika dibandingkan dengan Indonesia bagian barat, apalagi dengan pulau Jawa terlebih ibu kota Jakarta. Perjalanan ini mengajarkan saya tentang banyak hal. Dan semakin saya berjalan ke timur semakin besar pula rasa syukur saya atas nikmat yang sudah tuhan berikan.

Dengan mudahnya saya mengakses sarana transportasi nyaman, listrik 24 jam, sinyal komunikasi bagus, serta jalan-jalan mulus. Sementara di timur Indonesia ini saya banyak sekali menemukan kampung yang belum teraliri listrik, susahnya mendapatkan air bersih, dan belum sampainya akses telekomunikasi.

Putaran roda motor harus terus berputar untuk semakin jauh menyusuri sudut-sudut nusantara ini. Panas, dingin, haus, lapar, takut dan bosan merupakan hal biasa yang saya alami selama perjalanan. Namun kesemuanya itu hilang dengan sendirinya ketika saya merasa berada selalu dekat dengan-Nya. Saya selalu percaya bahwa Tuhan itu akan selalu melindungi para pejalan dan orang baik itu ada di mana-mana. Tidak ada yang lain yang bisa kuandalkan dalam perjalanan ini selain diri saya sendiri, sepeda motor dan Tuhan.

Ba’a, Pulau Rote 14 juni 2014.

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

13 Responses

Leave a Reply