Siang terasa begitu terik. Matahari seolah sedang ganas-ganasnya menyengat ibukota. Anak-anak kecil terlihat berceloteh riang di tengah antrian. Dan saya salah satu orang yang sedang rapi antri di pemeriksaan tiket kereta. Satu hal yang tidak saya jumpai pada masa lalu.


Tapi ketika melihat kereta Matarmaja, ingatan saya seolah dipaksa pada belasan tahun silam. Sosok pemuda labil yang nekad backpackeran dengan modal sisa-sisa tabungan dari kerjaan buruh pabrik, demi sebuah tempat yang konon katanya merupakan surga bagi para pejalan. Bali

Namun sayang, ketika memasuki gerbong-gerbong kereta saya di pemuda labil pada masa lalu itu, susah sekali mengenalnya. Matarmaja yang dulu saya kenal, sudah bertransformasi menjadi sebuah kereta bersih dengan pendingin udara menggantung di beberapa bagian gerbongnya. Para penumpang yang bersesak ria di gerbong juga menghilang entah kemana. Matarmaja sekarang sudah berubah seiring kebutuhan jaman yang juga berubah.

Dulunya kereta Matarmaja ini lewat jalur selatan (jogja dan purwokerto). Tapi saat ini dialihkan melewati jalur utara melewati Semarang dan Solo. Dan pemandangan jalur ini adalah favourit saya, karena ada hamparan sawah hijau dan Pantai.

*sutiknyo-Matarmaja-7mei-15:50-gerbong6-nomer14c






