Waktu itu.., Catatan kecil tentang masa lalu

3

Cerita in berawal ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di pulau Sumatra, tepatnya di pedalaman propinsi Jambi, di sebuah kawasan transmigrasi, SP-D itu lah nama desa kami, yang penduduknya apabila mau ke pasar kecamatan saja harus rela berjalan kaki melewati hutan dan sungai selama lebih dari 2 jam. Cara Lain bisa juga dengan menumpang truk pabrik yang sering lewat situ. Cuma sekali sehari dengan jadwal berangkat jam 6 pagi.

Namun kepabanyakan dari penduduk lebih memilih berjalan kaki, hal ini dikarenakan waktu tempuh. Jika kita menaiki truk harus memutar jalan, hingga waktu yang di butuhkan adalah 5 jam, lebih lama 3 jam dari jika berjalan kaki. Untuk mencapai pasar Pemenang tersebut para penduduk juga harus melewati ganasnya sunga Batanghari dengan menumpang pada sebuah perahu. sementara perahu itu sendiri beroperasi dengan bertumpu  pada seutas tali yang melintang dari diantara dua sisi pinggiran sungai. Bahkan sempat pula terpikirkan olehku, bagaimana jika tali itu putus, sementara arus di sungai Batanghari sendiri sangat tidak terduga.

Ketika itu aku masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar di area transmigrasi tersebut, tidak perlu kejelaskan bagaimana ceritanya sampai aku terdampar di pedalaman yang sunyi ini, tanpa listrik ataupun alat elektronik yang canggih. Televisi hanya ada dua waktu itu, satu ada di rumah pak Makmur, satu-satunya warung kelontong di desa kami dan satunya lagi ada di rumah bapak kepala desa yang beliau adalah seorang tentara. Program dwi fungsi ABRI waktu itu sangat berguna bagi masyarakat.  Kepemimpinan beliau saat itu sungguh bisa diacungi 10 jempol, karena dari kepemimpin beliau desa kami bisa meraih berbagai kesuksesan, diantaranya adalah daerah pertanian terbaik, peraih juara pertama pada pertandingan olah raga antar desa di kawasan transmigrasi, dan masih banyak lagi kisah sukses seiring dengan kepemimpina  beliau.


 

Jarak rumah dan sekolah kami sangat jauh, kami harus berjalan sejauh satu jam guna sampai di sekolah untuk menuntut ilmu, itu juga karena rute yang kutempuh adalah jalan pintas, melewati tengah rawa-rawa, jadi kami harus melompat dari bekas tebangan kayu bagian pangkalnya.ke bekas tebangan kayu lainnya, untuk sampai di halaman belakang sekolahku. Padahal di tempat itu dulu pernah terjadi kejadian tragis seorang murid sekolah kami kelas satu di telan  seekor ular, dan pada saat di bedah perut ular itu sang anak itu meringkuk kaku di dalam perut ular, pertama-tama aku tidak percaya dengan berita tersebut, tapi setelah melihat foto-foto kejaidan tersebut di ruang kepala sekolah aku jadi percaya. Meskipun begitu jalur itu tetap menjadi jalur favourite kami, sebab waktu yang dibutuhkan lebih singkat setengah jam.

Di desa ini juga aku menemukan seorang sahabat yang tulus, namanya adalah HARY SAKTIYO panggilannya KELIK, kami adalah 2 bersahabat yang terbilang akrab waktu itu. Ayah si kelik adalah seorang guru, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, banyak waktu yang kami habiskan berdua, pergi ke tengah hutan hanya untuk berburu kancil atau hanya mencari buah MATA KUCING. Sejatinya buah ini adalah buah dari tumbuhan menjalar sejenis rotan. Bentuk buahnya adalah seperti buah kelengkeng, tapi lebih manis. Kenapa kami beri nama buah mata kucing karena struktur bijinya menyerupai sebuah mata kucing. 

Berbagai jenis binatang buas juga sering kami temukan di dalam hutan, seperti harimau, biawak, buaya, orang hutan, siamang, ular, babi hutan dan masih banyak lagi lainya. Pernah suatu ketika hari menjelang magrib kami masih asik memasang jerat rusa, sewaktu kami sedang cuci tangan di sebuah sungai kecil, kami berdua tersadar bahwa dari tadi kami sudah di perhatikan oleh sesuatu, dan benar adanya setelah kami melihat ke seberang sungai yang jaraknya gak lebih dari 5 meter di depan kami, seekor harimau Sumatra sedang memperhatikan kami dengan sepasang matanya yang tajam melihat kearah kami dengan kemarahan yang sangat dalam dari sorot matanya. 

Wajah si kelik pucat pasi, tapi aku berusaha untuk tenang, aku yakin kata seorang sesepuh desa bahwa harimau dengan sedikit loreng putih di kepala adalah harimau penjaga hutan, dan para penduduk sering memanggilnya “mbah”. Ayat suci alquran apa yang aku inget saat itu kubaca semua, kami berdua mengucapkan assalamualaikum ke harimau tersebut, habis kami mengucapkan salam dia berbalik dan pergi dengan begitu cepat. Satu lompatannya saja mungkin lebih dari 6 meter, tidak terbayang apabila harimau tersebut mau menerkam kami hanya dengan satu lompatan pasti kami akan binasa, badannya yang lebih besar dari badan kami berdua, tingginya lebih tinggi dari kami waktu itu, akhirnya kami pulang dengan perasaan lega. Memang di kampung kami masih sering harimau melintas di pemukiman penduduk, dan yang lebih parah lagi di kampung seberang ada 2 petani yang di mangsa oleh harimau.

Sesampainya di rumah aku ceritakan kepada ayah dan ibunya kelik, sama ibunya kami langsung di madikan  dengan air kembang setaman, dan sang ayah bertutur kejadian itu mempunyai arti bahwa kami di peringatkan oleh “mbah” agar jangan main di hutan sampai malam, karena jenis binatang buas yang laen mengintai kalian, serta yang membuat kami bahagia adalah kalimat terakhir bahwa orang yang bisa ketemu dengan “mbah” insyaallah orang tersebut akan di berikan kesuksesan di kemudian hari. Amin saya menjawabnya dalam hati. Kami sangat bersyukur waktu itu, dan berjanji untuk tidak mengulangi kekonyolan bermain di dalam hutan sampai menjelang malam, akhirnya kami bisa tidur dengan tenang.


Keesokan harinya adalah penerimaan rapor di sekolah kami, para orang tua dan wali murid semua hadir di sekolah, tak terkecuali kakeku, beliau adalah paman dari ibu, dan rumah beliau lah yang paling deket dengan sekolah, sehingga aku di titipkan di rumah beliau supaya bisa menuntut ilmu, karena di lokasi perkebunan tempat mereka bekerja tidak ada fasilitas Sekolah. setiap akhir pekan beliau selalu datang sekedar melepas kangen dan membawakanku kebutuhan-kebutuhan sekolah.

Terkadang aku merasa iba kepada mereka, untuk sampai di tempatku saja  mereka harus bersepeda berboncengan di jalan yang naik turunnya sangat curam, tak jarang sepeda harus di tuntun apabila menaiki atau menuruni jalan yang sangat curam, dan struktur jalannya juga masih merupakan jalan proyek sehingga bukan aspal, aku pernah beberapa kali diajak ke tempat mereka bekerja, dan di saat di bonceng ayah aku menangis terharu membayangkan perjuangan mereka hingga bisa sampai di rumah kakek, dan saat itu juga tercetus di dalam dadaku “aku harus bisa membuat mereka bangga dengan nilai-nilai raportku”, dan di jalan inilah pada akhirnya ibu harus menghembuskan nafas terakhirnya dalam sebuah kecelakaan, tertabarak oleh mobil proyek yang hilir mudik di jalan tersebut.

Waktu pembagian raport adalah hari jumat sehingga orang tuaku belum bisa hadir, mereka baru datang di rumah kakek adalah sabtu sore dan minggu siang sudah harus pulang, karena pekerjaan sebagai buruh di pekerbunan sudah menanti mereka. Sangat ramai suasana di sekolah saat itu, semua orang tua memakai baju kebesaran mereka, tak terkecuali kakek, dengan menaiki sepeda kumbangnya beliau berangkat ke sekolah untuk mengambil raporku dan rapor cucunya, ada 3 buku rapor yang harus diambil beliau.

Setelan jas jaman dulu banget membuatnya bangga bisa hadir di sebuah sekolah dasar negeri SP-D, yang tidak beliau temukan pada jaman penjajahan dulu. Beliau sendiri hanya mengenyam sebentar pendidikan di sekolah di SR (sekolah rakyat), makanya beliau selalu menekankan kepada kami arti pentingnya belajar buat keberhasilan. Bahkan tidak jarang aku harus belajar di gubuk kami di ladang sambil menunggui padi kami yang sudah menguning dari serangan babi hutan maupun burung-burung pemakan padi. dan tak jarang pula aku harus menginap di gubuk tua reyot itu bila hari panen sudah semakin dekat.


Saat ibu guru mengumumkan siapa yang mendapat peringkat ke satu semua murid terlihat  tegang, tak terkecuali aku dan kelik, wajah kelik terlihat begitu serius sekali. Karena dia punya ambisi yang sangat besar untuk menjadi juara satu, tapi aku sadar ketika namaku di sebut, Thaks GOD pelukan haru dan hangat dari sahabatku kelik langsung kudapatkan, melihat kakek maju kedepan dengan perasan bangga aku bahagia sekali bisa mejadi kebanggan dari orang-orang yang mencintaiku.

Tak berselang lama dari kejadian  itu kedua orang tua ku datang, pakaian lusuhnya terlihat sangat mencolok di sekolah, karena semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka. Karena harus menempuh perjalan selama hampir 6 jam bersepeda dan berjalan kaki sehingga membuat pakaian yang dari rumah sudah kelihatan rapi harus lusuh oleh keringat. Aku sangat terharu melihat mereka bisa hadir, raport dengan peringkat ke satu kupersembahkan kepada mereka, Pelukan dan ciuman hangat dari ibu menentramkan hatiku, ayah hanya menatapku dengan bangga dan sesekali mengusap kepalaku. Kami pulang berjalan kaki ke rumah kakek, berbarengan denga orang tua kelik.  Para orang tua kami saling bercerita, dan kelik adalah orang yang meraih juara dua, dan itu artinya setelah liburan satu minggu kedepan kami sudah menginjakkan kaki di kelas tiga. Bahagia sekali kami waktu itu, dan kebahagiaan itu bertambah ketika besok paginya aku mendapat sebuah kejutan, sebuah sepeda mini di hadiahkan oleh bapak kepadaku atas jerih payahku belajar dengan giat selama ini. 

Tanpa sepengetahuanku bapak berjalan kaki selama 2 jam untuk pergi ke pasar kecamatan  guna membeli sepeda tersebut, bukan sepeda baru juga sebenarnya, tapi aku senang sekali dengan hadiah tersebut.

Langsung kupamerkan sepeda baruku ke rumah sahabatku kelik, dan dia juga senang sekali karena sepedaku ada boncenganya, itu artinya setiap berangkat maupun pulang sekolah kami bisa berboncengan, dan waktu tempuh ke sekolah tidak terlalu lama, tapi kami tidak bisa melewati rawa-rawa di belakang sekolah kami lagi. Kami langsung berboncengan naik sepeda keliling kampung. Sepanjang jalan di depan sekolah kami, terlihat rombongan suku anak dalam, mereka adalah suku pedalaman di propinsi Jambi, pakaian yang mereka kenakan hanya seadanya, dan mereka selalu membawa anjing kemanapun mereka pergi, Karena menurut cerita dari sesepuh desa anjing ini selain berguna sebagai teman mereka di hutan juga sebagai teman bila ada salah satu anggota rombongan yang sakit, mereka akan membuatkan gubuk di tengah hutan dan meninggalkan mereka yang sakit disana sendirian dengan di temani seekor anjing. 

Kami berdua sering menemukan sebuah gubuk reyot dengan tengkorak manusia berserakan di bawahnya.  jika yang di jaga ini meninggal sang anjing akan meninggalkannya dan kembali  mencari jejak rombongan yang telah meninggalkannya, Jika kehadirannya tidak di sertai oleh yang sakit semua anggota rombongan suku menyimpulkan bahwa anggota keluarga yang sakit sudah meninggal dunia.


 

Singkat cerita sebuah tragedi kecelakaan dan mengakibatkan aku harus kehilangan salah satu orang tuaku. sedih dan bingung banget saat itu, seorang anak kecil yang baru hendak duduk di kelas 3 SD harus kehilangan orang yang sangat di cintainya. Kelik selalu menghiburku dengan mengajakku memancing ikan gabus di rawa-rawa. Tidak berselang lama dari tragedi itu aku harus menghadapi kenyataan pahit lagi karena ayah memutuskan untuk pindah lagi ke desa kelaiharanku, di sebuah desa kecil di sebuah kabupaten kecil di  pulau jawa. 

Istirahat yang tenang bu..
Istirahat yang tenang bu..

Aku harus berpisah dengan sahabatku kelik, jujur dia adalah pertimbangan terberatku saat itu, aku harus berpisah dengan ladangku, hutanku, kakekku, sekolahku, guru-guruku juga dengan semua teman-temanku di sekolah. Mereka mengantarkanku hingga ke ujung desa, tepatnya adalah di sebuah sunga hitam, disana dulu kami sering berenang bersama. Struktur tanah gambut membuat rata-rata sungai dan rawa disini airnya berwarna hitam pekat. Lambaian tangan mereka menyayat relung batinku yang paling dalam, kulihat kelik di jajaran para pengantarku, matanya sembab, pelukan penuh persaudaraan terakhir kali sudah dia berikan, dia hanya berbisik,

“jadilah orang yang berguna, jangan lupa senantiasa mendoakan almarhumah ibu”. semua orang yang kucintai harus kutinggalkan, sepenggal perjalanan hidup sudah kulalui penuh kebahagiaan di desa kecil itu, meskipun harus berakhir dengan sedih, tapi aku bahagia sudah bisa menjadi bagian dari mereka, trima kasih semua, ibu aku rindu……

Setelah hampir sembilan belas tahun berlalu. Kini diriku terdampar di sebuah kota dengan kesemprawutan yang sangat luar biasa, ternyata benar kata orang ibu kota lebih kejam dari ibu tiri, tapi alhamdulillah aku bisa mendapatkan gelar sarjana dari hasil jerih payahku sendiri, tetesan2 keringatku sebagai kuli di sebuah pabrik kertas kukumpulkan demi cita-citaku meraih gelar sarjana. Dengan tekad dan semangat dari orang-orang yang kucintai di sebuah desa terpencil di pedalaman propinsi Jambi, aku bisa mewujudkan itu, sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan penerbangan swasta di Jakarta, walau hanya menjadi seorang bawahan dan pekerja kasar namun aku bangga dengan ini semua.

hanya sebuah halaman persembahan di skipsiku yang bisa mengungkapkan rasa terima kasihku.

…niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu
Dan orang-orang yang dibeti ilmu pengetahuan beberapa derajat

Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan

(Q.S. Al.Mujaadilah : 11)

Hari ini telah kudapatkan satu kebanggaan

Yang kupersembahkan kepada orang-orang yang kusayangi

Kepada bapak Wagiman yang telah mencurahkan keringatnya
Memberikan kehidupan buatku
Serta kepada ibu Djasmi tercinta yang di dalam setiap do’a nya
Aku tahu selalu mengharapkan yang terbaik untukku

Dan juga kepada (alm) ibu yang senantiasa ada dalam hatiku

Dimanapun aku berada

Sayang beliau tidak sempat melihat kebanggaan ini untuknya

Semoga karya kecilku ini mampu menyeka keringatmu dan menyapu air matamu

Sebagai penyejuk hati serta meredakan penat dan letihmu..

Terimalah sebaagai wujud terima kasih atas do’a, kasih sayang & cintamu

Thank’s God, because you gave me a great parents in the whole world like them

Tak lepas dari dukungan dan semangat dari saudara-saudara dan sahabatku

Mas Giyanto, mas Priyanto, mbak Nur, Mbak Ratih, and my best friend Kelik & Dhito

Juga keponakanku Ida, Bayu, dan Adhit yang senantiasa membuatku tersenyum

Hingga semua ini dapat terselesaikan dengan baik

Semoga aku dapat menjadi yeng terbaik untuk mereka

Thank you for being my spirit.

 

Untuk seseorang yang ada di surga sana….

Yang telah menemani langkahku dalam suka maupun duka

Yang telah menjadi inspirasi, motivasi dan kekuatan untuk ku

Semua ini menjadi berarti karena dirimu ada, tetaplah berada di sampingku…

Meski alam kita beda aku yakin kamu ikut tersenyum sekarang..

I’m truly blessed to have some one like you…

Langkahku belum berhenti sampai disini,
Dan masih panjang perjalanan yang harus kulalui
Mungkin jalan itu akan lebih sulit dari apa yang hari ini telah kudapatkan.
Tapi dari keyakinan dan semangat yang ada
Serta iringan doa dari orang-orang di dekatku, pasti akan kucoba untuk menghadapinya
Ya Allah…
Biarkanlah nikmat dan karunia Mu
Terus mengalir…mengiringi langkah ku
Agar selalu dapat kusaksikan orang-orang yang kucintai
Tersenyum bahagia dengan keberhasilanku
Amien….


* Cerita ini saya tulis hampir 3 tahun yang lalu ketika saya sedang rindu dengan almarhumah Ibu dan sahabat kecilku Kelik, Entah dimana dia Sekarang, sejak perpisahan itu kabarnya tidak pernah saya dengar lagi. Terakhir tahun 2009 saya ke rumahnya dulu sudah tidak ada disana, kata tetangga sebelahnya tidak lama sejak kepergian saya keluarganya juga pindah dari daerah itu, tapi tidak tahu kemana.

3 COMMENTS

Komennya disini ya..