Sebuah cerita tentang pulang

17

Sebuah perjalanan memberikan palajaran kepada saya akan banyak hal. Tentang indahnya bersyukur, tentang indahnya berbagi, dan tentang kebanggaan yang tiada terkira sudah lahir di nusantara tercinta ini.

Perjalanan mengelilingi Nusa Tenggara yang baru saja saya jalani adalah obsesi diri yang sudah terpendam lama. Tantangngan yang saya hadapi di jalanan bukanlah apa-apa jika di bandingkan dengan kesukaran para wanita Rote mencari air bersih untuk kebutuhan keluarga, belumlah seberapa jika dibandingkan dengan peluh yang terkucur dari bocah-bocah Sumba timur berjalanan kaki berkilo-kilo demi kesekolah dan tiada artinya apa-apa pula jika dibandingkan dengan dengan perjuangan hidup masyarakat Sabu ketika musim angin tiba.

Namun dari itu semua saya banyak belajar, bagaimana tetap bertahan dan berjuang agar perjalanan ini dapat terus saya lanjutkan, agar bisa melihat secara nyata wajah indah negeri ini dengan mata dan kepala saya sendiri.

Entah sudah berapa liter peluh yang mengucur, dan entah sudah berapa kilo kesukaran yang saya jumpai dijalanan. Namun yang pasti saya selalu percaya bahwa jika kita menebar kebaikan maka kita akan menerima kebaikan.

Panas, dingin, lapar, haus, sendiri, takut dan bosan rasanya hilang jika kita merasa dekat dengan kuasa Tuhan. Sebuah kepercayaan bahwa Tuhan selalu bersama para pejalan menjadi pelecut untuk berpetualang semakin jauh lagi.

Perjalanan ini rasanya masih panjang, entah kisah-kisah apalagi nanti yang akan saya temui di jalanan, dan entah ksukaran apalagi yang akan saya hadapi nantinya di jalanan, serta orang-orang hebat seperti apalagi yang nanti akan saya jumpai di jalanan. Tapi sampai kapan petualangan ini akan berakhir? Entahlah.

Satu hal yang pasti saat ini saya rindu pulang. Pulang bersimpuh di hadapan ibu. Bercerita tentang betapa serunya perjalanan ini. Bercerita tentang betapa indahnya negeri ini, bercerita tentang banyaknya ketimpangan yang terjadi di ujung negri sana, dan bercerita tentang manis dan ayunya gadis Sabu yang saya temui.

Saya rindu senyuman tulus yang keluar dari bibirnya, saya rindu usapan halus tangannya di kepala ini, saya rindu aroma dapur kayunya ketika sedang masak menu kesukaan saya, saya rindu kasur lusuh tipis yang entah sudah berapa puluh tahun saya tiduri.

Saya rindu rumah…

Sejauh apapun kaki ini melangkah, sekuat apapun sayap ini mengepak, rumah adalah tempat terindah untuk pulang.

 

Postingan ini saya tulis untuk ikutan posting bareng Travel Blogger Indonesia bertema #tentangpulang, untuk tulisan lainnya silakan dibaca:

17 COMMENTS

  1. […] Tidak, Adalah Pilihan Rembulan Indira Soetrisno – Yogyakarta, Pulangnya saya Sutiknyo – Sebuah Cerita tentang Pulang Indri Juwono – Cirebon : Mudik dan Perut yang Manja Matius Teguh Nugroho – Selalu Ada […]

  2. Life is GOOD and I won’t be go HOME (baca: kalo lagi takabur). Ya jelas rumah itu tempat yang paling istimewa, sebarapa jauhpun kaki melangkah. Jujur, saya sangat terkesima menonton VIDEO Petualangan di Timur Indonesia (sudah saya sdeto semua, versi HD), mau saya prmosikan ke teman-teman mancanegara. Biar Bulek taunya, bukan cuma BALI!!!

    Salam Kenal Ya Pak Sutiknyo

Komennya disini ya..