Mbok Jas, Teman Perjalanan Terbaik

55
Air Suci Tanah Lot
Air Suci Tanah Lot

Valentine day atau hari kasih sayang memang identik dengan kemesraan bersama pasangan. Namun sebenarnya, makna kasih sayang itu sangat universal sekali. Dan momen hari kasih sayang ini, saya dan beberapa blogger dari Travel Blogger Indonesia, menggelar ritual untuk posting blog secara bersamaan.

Tema yang menjadi dasar penulisan cerita blog kali ini adalah tentang Travelmate atau teman perjalanan. Nah berbicara tentang teman perjalanan, banyak sekali teman terhebat yang seruuntuk di jadikan travelmate dalam sebuah perjalanan. Namun kali ini saya akan bercerita tentang kisah perjalanan saya dan mbok Jasmi beberapa saat lalu. Berlibur ke tanah Sulawesi, Bali dan Jogjakarta, adalah waktu yang sangat berharga buat saya. Dari kisha perjalanan ini, saya bisa membuat simbok tersenyum lebar, melupakan sejenak kenangan pahit yang harus kami lalui pada masalalu.

Ceria di Bali
Ceria di Bali

Lahir di keluarga yang serba kekurangan memang bukan sebuah pilihan yang bisa saya pilih. Tapi bukankah Tuhan memeluk mimpi setiap hambanya, dan menghadiahi sebuah nikmat keberhasilan ketika hambanya itu benar-benar ingin meraihnya.

Welcome to Bali ya Mbok

Pada sebuah petang, terlihat keriuhan di salah satu sudut pulau Dewata. Bangunan pura diatas tebing itu juga seolah menjadi saksi dari kisah-kisah yang sudah pernah terjadi di Uluwatu itu. Ya, sore itu saya mengajak simbok, menyaksikan pertunjukan tari kecak di pura Uluwatu.

Kecak Bali
Kecak Bali
Simbok Seneng Nonton Kecak di Uluwatu
Simbok Seneng Nonton Kecak di Uluwatu

Tugas saya sore itu adalah sebagai translator dan pencerita buat simbok, karena bahasa penyampaian intro di sampaikan dalam bahasa Inggris. Cerita tentang tokoh-tokoh pewayangan yang ada di pentas tari kecak di Uluwatu ini. Sejatinya tokoh-tokoh yang ada di cerita pewayangan ini sudah sangat di kenal oleh mbok Djasmi. Dulu beliau sering mengajak saya dan kakak nonton banyak kesenian tradisional. Wayang kulit, wayang orang, ketoprak. Bahkan ketika ada rombongan ketoprak terkenal mentas di Pati, simbok bela-belain beli tiket tribun paling belakang yang paling murah. Hari ini beliau terlihat bahagia sekali mendengar cerita saya dan tingkah polah Hanoman yang lucu. Petang menghilang berganti malam. Dan pertunjukan pun usai..

Naik Tangga ke Pura Uluwatu
Naik Tangga ke Pura Uluwatu

Ketika saya sedang memotret simbok di depan sebuah pura, ada wanita seumuran simbok juga ikut motoin simbok. Simbok hanya senyum saja. Si nenek bule itu mengajak ngobrol simbok dengan bahasa Inggris. Mbok ku hanya senyum2 saja. Saya coba batuin menjelaskan ke nenek bule tadi kalau mbok saya gak bisa bahasa Inggris. Malah jadi ngobrol panjang lebar.

Pura Uluwatu
Pura Uluwatu
Uluwatu
Uluwatu

Saya cerita kalau lagi ngajak jalan-jalan simbok saya. Tapi kok si nenek itu malah mau nangis ya, akhirnya saya menyudahi cerita tadi dan sepertinya nenek tadi mau bercerita. Benar beliau menumpahkam ceritanya kalau anaknya seumuran saya meninggal kerja di Pelayaran. Tiba-tiba saya di peluk dan beliau menangis. Kening saya di cium seperti beliau mencium anaknya. Simbok bingung dengan fragmen kecil yang terjadi di depan beliau tanpa tahu cerita apa yang sedang terjadi. Si nenek bule yang saya tahu akhirnya bernama Maria, memeluk Simbok saya dengan senyum bahagia.

Ibu yang melahirkan saya memang sudah lama di panggil Tuhan ketika saya masih kelas satu sekolah dasar di pedalaman Jambi. Meninggal akibat kecelakaan di tabrak supir truck balak di pedalaman Jambi. Tapi sore saya sangat bahagia, berada diantara dua ibu yang sama-sama berhati mulia. Sepenggal kisah yang tidak akan mungkim saya lupakan, sampai kapanpun.
Sedikit cerita tentang Rencana simbok mau jalan-jalan ke Bali. Dulu beliau itu sudah mendaftar ikut tour di desa kami, sudah bayar 400ribu. Rencana perjalanan itu Ziarah Wali Songo terus lanjut ke Bali. Tapi ternyata beliau harus ke Jakarta karena anak kakak saya di khitan. Dan uang yang sudah di bayarkan harus hangus. Saat beliau cerita, terbersit niat untuk mengaknya jalan-jalan.

Tapi ya gitu, selalu ada alasan untuk menolaknya.

“Uangnya gak mendingan buat beli beras aja le”.

Mesti selalu gitu. Ini saja jalan-jalan ke Bali saya harus bohong, Pulang dari berkunjung ke rumah saudara di Makassar langsung saya culik ke Bali. Saya matur ke Baliau kalau pesawat yang akan kita tumpangi bakal landing Surabaya terus lanjut ke Pati naik bis. Padahal saya mengajaknya landing di Denpasar.

Pantai Pandawa Bali
Pantai Pandawa Bali
Pantai Pandawa Bali
Pantai Pandawa Bali
Pantai Pandawa Bali
Pantai Pandawa Bali

Baru setelah sampai kamar hotel saya bilang kalau kita sedang di Bali. Pertama beliau agak ragu dan sedikit kecewa, tapi akhirnya tersenyum dan ambil air wudhu terus sholat. Saya tidak tahu beliau sholat apa, tapi yang pasti doanya lama sekali. Saya yang pura-puta tidur beberapa kali mendengar nama saya di sebut dalam lirihnya doa yang keluar dari mulut simbok.

“Pantes mau kok pengumumane ke Denpasar”

Simbok memang bukan wanita terpelajar yang bisa membedakan dimana letak kota Surabaya dan Denpasar.

Tapi dalam kesederhanaan simbok mengajarkan makna keikhlasan. Dan dalam keterbatasan beliau mengajarkan kepada saya untuk ikhlas berbagi sebagai wujud syukur kita kepada gusti Allah. Dari sosok inilah saya belajar makna ikhlas dan arti syukur yang sesungguhnya.

Pura Ulundanu Bedugul
Pura Ulundanu Bedugul
Bahagia di Bali
Bahagia di Bali

P9550142

Pura di Desa Panglipuran Bali
Pura di Desa Panglipuran Bali

Cerita demi cerita tertoreh dalah kisah perjalanan saya dan simbok di pulau Dewata. Meski pertama agak susah merayu beliau untuk menikmati liburannya, akhirnya beliau menyerah dan ikut menikmati agenda khusus yang saya hadiahkan kepada beliau. Terbiasa mengumpulkan recehan demi recehan di sebuah pasar tradisional dengan berjualan sayur mayur, membuat simbok selalu tidak rela kalau saya harus membayar lebih sejumlah rupiah untuk makanan atau membeli sesuatu. Bahkan terkadang saya harus berbohong dengan harga asli dari barang atau makanan yang kami beli.

Tindak menyang Jogja

Bahagia bisa berkumpul semua akhirnya
Bahagia bisa berkumpul semua akhirnya

Setelah Makassar dan Bali, Perjalanan saya dan Simbok berlanju ke kota Jogjakarta. Simbok saya itu belum pernah ke kota Jogja. Padahal letak Jogja dan Pati itu tidak terlalu jauh. Bisa melihat Keraton, Candi-candi secara lagsung semoga bisa membuat beliau senang.

Dan kembali saya harus membohonginya.

“Ingih mbok, nanti sampai Jogja langsung numpak bis ke Pati”, jawabku ketika beliau bertanya tentang rencana pulang ke Pati dari Jogjakarta.

Padahal saya sudah menyewa mobil untuk langsung ngajak beliau Mlaku-mlaku ke Borobudur, Prambanan dan Keraton untuk hari ini. Mungkin akan beberapa hari muter-muter Jogja.

“Lho jare neng terminal numpak bis muleh Pati, kok malah neng hotel meneh?”

Mbok Djasmi berseloroh sambil menjewer kuping saya. Taksi yang saya tumpangi berhenti di sebuah hotel Gallery Prawirotaman.

“Wes tho mbok, kita jalan-jalan dulu neng Jogja”

Di Lobby Hotel Gallery Prawirotaman
Di Lobby Hotel Gallery Prawirotaman

Dengan muka sedikit kecewa, tangan beliau saya gandeng masuk menuju lobby hotel. Nah Simbok mulai tersenyum kembali ketika satu persatu cucunya keluar dari arah belakang. Sedikit kaget bercampur bahagia saya lihat di raut mukanya. Airmatanya juga saya lihat sedikit meleleh tapi beliau menyembunyikannya dari siapapun. Satu ilmu yang saya pelajari dari beliau adalah Tegar. Serumit apapun masalah yang membelit, beliau selalu yakin akan kebesaran Tuhan.

Bahagia bisa berkumpul semua akhirnya
Bahagia bisa berkumpul semua akhirnya

Ya, kami dadakan merencanakan semua ini untuk simbok. Anak, menantu, cucu bahkan buyut dan besan beliau juga ikut berkumpul hari itu di Jogja. Keluarga kecil kami terpisah di beberapa tempat, seperti Makassar, Jakarta dan Pati semua berkumpul hari ini.

Dikamar saya mendapati simbok sedang sujud dengan mukena usangnya. Mukena yang dulu sewaktu saya kecil dipakainya untuk belajar sholat.

“Simbok ajari moco sholat yo le”

Permintaan simbok ketika saya masih duduk di bangku kelas 4 SD. Saya membelikannya buku tuntutan sholat dari hasil mocok ngangsu ( buruh ngambil air). Tapi ternyata tulisan di buku itu kecil-kecil. Akhirnya saya menuliskannya dalam tulisan tangan yang besar-besar huruf latinnya.

Setiap subuh saya mendengar beliau sholat dengan sedikit mengeraskan bacaan-bacaanya. Suatu ketika saya penasaran, mengintip dari lobang pintu gedhek rumah kami. Ya, dinding anyaman bambu di rumah memudahkan saya untuk melakukan hal ini.

Ternyata simbok menaruh 2 lembar kertas tadi di tempat beliau sujud. Dan kenapa beliau membacanya agak keras, karena beliau sambil mengeja bacaan-bacaan itu.

Pagi menjelang, dan rutinitas beliau berjuakan sayur mayur di emperan kios pada sebuah pasar tradisional di Rogowangsan Pati. Tapi dari penghasilan beliau berjualan yang tak seberapa itulah kami semua ada di sini. Dan sekali lagi saya lihat muka simbok hari ini begitu bahagia.

Kembali saya harus berbohong kepada simbok, ketika saya meminta beliau memilih baju batik yang di sukai. Karena simbok saya itu tidak bisa membaca dan menulis, jadi beliau percaya kalau saya menyebutkan harga dari baju yang beliau sukai.

“iki regane piro le?” Tanya simbok

“Tiga puluh ribu mbok” 

saya berbohong untuk harga sebuah baju kurung batik tulis yang beliau pilih. Untungnya saya bisa membayar baju-baju yang di pilih simbok dengan kartu debit yang saya punya. Jadi simbok tak perlu melihat berapa harga aslinya. 

Simbok Milih Baju
Simbok Milih Baju
Naik Dokar di Malioboro
Naik Dokar di Malioboro
Milih batik di Malioboro
Milih batik di Malioboro

Pertama susah banget untuk merayu simbok milih batik yang beliau suka. Banyak sekali pertimbangan beliau untuk membeli baju baru. Penghasilan berjualan di pasar yang tak seberapa, membuat simbok bener-bener menghargai jumlah rupiah yang akan di keluarkan. Akhirnya saya harus berbohong dan menyembunyikan harga asli dari barang-barang yang beliau Suka.
“Iki nggo pengajian iso le”

Dan baju-baju yang beliau pilih akan dipakainya untuk pengajian grup pedagang pasar yang diikuti simbok. Jalan-jalan malam di Malioboro saya akhiri dengan mengajak beliau muter-muter pakai Andong.

Keteladanan itu memang tidak bisa kita ambil dari para tokoh hebat saja. Terkadang orang yang ada paling dekat adalah sosok peneladan yang sempurna.

Akhir sebuah cerita perjalanan bareng Simbok

Petang menjelang di iringi senja dan hujan yang sepertinya enggan berhenti barang sejenakpun. Akhir sebuah fragmen cerita harus berakhir petang ini. Sebuah cerita perjalanan seorang Janda penjual sayuran, yang rumahnya selalu direndam banjir setiap tahunnya.
Bandar Udara Adi Sutjipto di Yogyakarta terlihat begitu riuh. Muka-muka bahagia dan sedih terlihat begitu nyata di hadapan saya. Bahagia karena sudah menyelesaikan sebuah kisah. Kisah klasik yang akan kami kenang dengan indah di kemudian harinya. Serta sedih karena kisah ini harus berakhir dan kami harus kembali berpisah.

Simbok Berpisah
Simbok Berpisah

Saya melihat muka Simbok begitu bahagia. Menghabiskan akhir pekan bersama anak, menantu dan cucu-cucunya. Sebuah senyum yang jarang kami dapati ketika saya dan kakak-kakak saya masih kecil dulu. Bahkan terkadang saya malah mendapati senyum getir beliau ketika pulang dari pasar menggendong banyak sekali sayuran yang tidak laku dijual.
“Pasare sepi le, sesuk sarapan sego wadang wae yo yen meh mangkat sekolah”

Kami sudah terbiasa sarapan dengan menu itu. Sego wadang berteman sambel korek dan krupuk. Sego wadang adalah nasi sisa kemarin yang hampir basi, sedang sambel korek adalah cabe di ulek dengan garam saja.

Kami anak-anak simbok selalu memutar otak supaya bisa meringankan beban beliau membiayai sekolah kami. Membantu tetangga berjualan buah di terminal Sleko Pati, buruh ngambil air untuk mengisi bak-bak dapur tetangga, bahkan buruh beset tebu seharian yang membuat badan kami gatal-gatal setelah itu. Beset tebu adalah membersihkan tebu-tebu dari daun kering yang masih menempel di batangnya. Dan hasil sekeping dua keping rupiah itu, saya dan kakak-kakak saya sudah bisa membiayai sekolah kami sendiri sejak sekolah dasar.

Simbok memeluk satu persatu anak, menantu dan cucu-cucunya. Beberapa dari kami harus melanjutkan perjalanan ke Makassar, Jakarta dan kembali ke kampung halaman di desa Banjarsari, Gabus-Pati
sana. Kami semua harus berpisah. Kakak-kakak saya harus kembali melanjutkan rutinitas sebagai abdi negara. Simbok juga pasti sudah kangen dengan lapak dagang sayurnya di pasar Rogowangsan Pati. Ponakan-ponakan saya pun harus kembali ke bangku sekolah demi meraih cita-citanya. Terakhir mbok Djasmi memeluk saya dengan erat sambil mencium kening saya dan berpesan,

“Kowe nek kerjo ati-ati, ojo lali sholat. Duwite iku di simpen seng setiti yo le”

Saya melihat ada air yang menggenang di matanya, tapi beliau lagi-lagi selalu ingin terlihat tegar di hadapan orang lain.

Saya hanya menjawab pesannya dalam hati saja.

“Iyo mbok, matur nuwun dongane. Mugi-mugi murah rejeki ya mbok, dan semoga tahun ini kita bisa ke tanah suci Mekkah bareng-bareng”.

Mlaku-mlaku ke Borobudur
Mlaku-mlaku ke Borobudur
Simbok dan Masku
Simbok dan Masku

Semua harus berpisah. Fragmen cerita hidup kembali saya torehkan di sebuah lembar-lembar buku berjudul pelajaran hidup. Sudah saatnya saya harus kembali ke jalanan. Bertemu dengan teman-teman perjalanan lain. Menorehkan kisah bersama teman-teman seperjalanam lainnya. Menyusur setiap sudut nusantara hingga muncul kembali rindu untuk pulang. Pulang ke rumah simbok. Pulang karena rindu aroma dapur kayunya ketika sedang masak menu kesukaan saya, rindu kasur lusuh tipis yang entah sudah berapa puluh tahun saya tiduri.

Bukankah sejauh apapun perjalanan, rumah adalah tempat terindah untuk pulang.

Penglipuran Bali
Bahagianya Simbok di Penglipuran Bali
Penglipuran Bali
Penglipuran Bali

Getir, luka dan bahagia adalah bagian dari hidup, tugas kitalah yang memberikan bumbu segar pada bagian-bagian tak sedap yang harus di lalui. Bukankah hidup adalah kejutan yang tak akan pernah berakhir, ia adalah rangkaian episode perjalanan dengan lakon berbeda di tiap babaknya. Dan lakon perjalanan kali ini adalah simbok saya, mbok Jasmi. Wanita tegar yang punya cita-cita luhur agar anaknya tidak buta huruf seperti beliau. Dan beliau berhasil, setidaknya saya menamatkan sarjana saya, bahkan kakak menghadiahkan ijazah S2-nya untuk setiap tetes keringat beliau yang dulu tercurah untuk kami.

– selesai –

Kisah lain tentang mbok Jasmi ada di link ini.

Mbok Djasmi kartini ku

Cerita lain tentang teman perjalanan dari para sahabat klik di link di bawah ini.
1. Shabrina
2. Astin Soekanto
3. Parahita Satiti
4. Dea Sihotang
5. Titiw Akmar
6. Mas Edy Masrur
7. Olive Bendon
8. Leo Anthony
9. Indri Juwono
10. Rembulan
11. Karnadi Lim

55 COMMENTS

  1. Terharu baca kisah kak bol :’)
    Semoga kak bol slalu dilimpahi kesehatan dan rezeki biar tetep bisa bahagiain Mbok ya
    Salam hormat buat Mbok 🙂

  2. aku abis dari blog kak Bulan ngikik2, trus nyambung ke blog ini trenyuh-nggregel. aku orangnya jarang/susah nangis, bahkan pas bapak meninggal. tapi baca ini… ah sudahlah.. *melipir cari tisu*

  3. aku baca sambil berkaca-kaca, apappun yang kita lakukan kepada oran tua, tak cukup rasanya untuk membalas pengorbanan mereka. sungkem buat simbok.

    tapi kak, ngemeng-ngemen postingan #ultimatetravelmate ku belum di backlink 😀

  4. Boro-boro nenek bule itu yang ketemu langsung, aku yang baca aja ikut terharu, mas. Sama seperti mas Bolang, aku juga berasal dari keluarga yg sederhana di Jogja. Salah satu mimpiku untuk traveling, aku bisa ngajak keluarga kecilku (minimal ibu & kakak) buat traveling ke satu negara. Makasih sudah menginspirasi ya, mas. Mudah-mudahan bisa menyusul jejak mas Bolang ini 😀

  5. waahh inspirasi sangat mas… saya salah satu penggangum karya2mu lhoo.. blog dan vlognya menarik…

    terus menginspirasi yap.. salam inspirasi dari mas olo (sesuapnasi.com)

Komennya disini ya..