Kagem Simbok

-Paris, Spring 2017-

Mbok, alhamdulillah anak lanangmu bisa jalan jauh ke tempat ini, Tempat yang dulu hanya bisa saya lihat di peta dunia,  Tempat yang dulu sepertinya jauh di awang-awang, yang tidak akan bisa kita datangi,  Setidaknya buat anak kampung, seperti anak lanangmu ini.

“Jangankan sekolah, buat makan aja susah”

Kata-kata yang sering saya dengar hingga saat ini mbok.  Tapi tekadmu bulat untuk mendidik anak-anakmu, agak tidak buta huruf seperti dirimu.

“Cukup simbok seng ora iso moco lan nulis le, kowe, kakangmu, mbakyumu kudu iso sekolah sing dhuwur”

kata-kata yang selalu keluar dari mulutmu ketika sedang menyisir rambutku dengan baluran minyak kemiri.

Tak pernah bosan lihat senyum dan doa yang teriring ketika saya mudik

Mbok, disini dingin banget sekarang Sedingin sego wadang yang dulu sering kau sajikan untuk menu sarapan kami sebelum berangkat sekolah. 

“Simbok raiso nyangoni, sarapan seng wareg ben nek olah raga ora ngelih” sambil membereskan ikatan-ikatan sayur mayur yang hendak kau jual di pasar.

ketika lelah hadir, pulang adalah jawabannya

Jangankan jalan-jalan ke luar negeri yang sangat jauh seperti Eropa. Nyekar ke kuburanya Ibu di Pelosok Jambi saja saya tidak berani bisa membayangkan. Jarak Pati ke pulau Sumatra pasti cukup jauh dan lama. Belum lagi biaya yang harus keluar.

Mbok, Walaupun kamu bukanlah raden ajeng kartini, putri jawa yang punya cita-cita luhur dalam hal pendidikan buat kaumnya. Walaupun mungkin kamu luput dari perhatiannya Raden Ajeng Kartini. Jangankan berkarier, membaca saja simbok masih harus mengeja huruf per huruf. 

Tapi saya yakin, seandainya Raden Ajeng Kartini masih hidup, beliau pasti bangga denganmu mbok. Janda penjual sayur mayur di pasar rogowangsan, yang bisa mencetak gelar sarjana dan Master ke anak-anaknya. 

Raden Ajeng Kartini memang tidak mengenalmu mbok, tapi saya yakin semangat kalian sama. Semangat untuk keluar dari kebodohan, kemiskinan dan keterbatasan.

Kita memang tidak bisa memilih akan di lahirkan di keluarga mana, tapi kita juga yang harus menentukan nasib kita sendiri. Beruntung saya bisa menemukan kasih sayang dari Simbok, wanita yang membesarkan saya sejak ibu meninggal puluhan tahun yang lalu. Percayalah, pendidikan adalah salah satu cara untuk memutus tali kemiskinan yang sudah membelit sejak nenek moyang dulu.

Selamat Hari Kartini kagem Simbok Djasmi dan seluruh wanita yang ada di Nusantara ini.  Habis Gelap Terbitlah Terang.

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

Leave a Reply