Lukisan Batuan nan Magis, LihatIndonesia #22

3

Desa batuan adalah sebuah desa seni yang masuk di kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar Bali. Desa ini merupakan salah satu desa kuno yang ada di Bali, terbukti dengan di temukannya sebuah gapura purbakala di salah satu bagian desa.

Semangat komunal sendiri sangat berkembang di desa Batuan, ini terlihat ketika ada tradisi ngayah atau gotong royong. Seorang individu hanya akan bermakna ketika berada di sebuah komunitas besar, sehingga sikap saling membutuhkan dan saling menghormati merupakan pilar dasar keberlangsungan desa ini.


Matahari terasa menyengat terik sekali pada suatu siang ketika saya dan team Lihat Indonesia berkunjung ke rumah dua orang pelukis Batuan. Kenapa di namakan pelukis Batuan, karena mereka melukis di desa batuan dengan tehnik yang hanya berkembang di Batuan, yakni menggunakan penelak (bambu yang di runcingkan) dan tinta Cina.

Dua orang pelukis Batuan itu adalah Made Suryana dan I Made Cat Suteja. Kedua pelukis ini sudah menorehkan namanya di jajaran prestasi dalam bidang melukis.  Dan karya-karya nya juga sudah banyak melanglang buana hingga ke manca negara. Namun sosok keduanya bukan lah seperti seorang seniman besar, mereka masih asik diajak berbincang di sela-sela pekerjaan melukis nya.


MADE SURYANA

Made Suryana
Made Suryana

Pria Bali ini mulai melukis sejak kelas 5 SD, dan prestasi juara dua pelukis terbaik se-BALI sudah dia raih ketika kelas 6 sekolah dasar. Belajar melukis dari almarhum bapaknya. Di sela-sela aktiftas melukisnya dia bertutur tentang segala hal mengenai seni lukis Batuan. Biasanya tema yang diangkat adalah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Selain itu tentunya kisah-kisah pewayangan seperti Mahabarata dan Ramayana.

sebuah lukisan karya Made Suryana
sebuah lukisan karya Made Suryana

Lukisan Batuan sendiri terkenal rumit dan detail. Untuk menghasilkan sebuah lukisan biasanya Made Suryana membutuhkan waktu tiga sampai empat bulan. Itu juga tergantung banget sama mood. Jika mood sedang jelek di paksakan seperti apapun pasti hasilnya tidak maksimal, bahkan saya sempat mendengar cerita bahwa ada seorang seniman membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk menuntaskan lukisannya.


I MADE CAT SUTEJA

Cat Suteja sedang memamerkan hasil karya lukisannya
Cat Suteja sedang memamerkan hasil karya lukisannya

Lain lagi dengan pelukis yang satu ini. Pria Bali yang kalem ini melukis di teras rumahnya. Banyak sudah lukisan-lukisannya yang di koleksi oleh para kolektor lukisan dari berbagai negara, bahkan beberapa diantaranya sudah memenangkan  lomba lukis yang diadakan regional Bali ataupun se-Indonesia.

Made Cat Suteja tidak sendirian melukis di sanggar pribadinya. Ada beberapa saudara dan teman nya juga yang ikut melukis disana. Rata-rata pelukis-pelukis di desa Batuan ini mendapatkan ilmu dari orang tua atau tetangga nya, jadi jarang yang menempuh jalur pendidikan formal khusus menekuni bidang seni lukis. Hasilnya juga tidak usah di ragukan lagi. Sejak tahun 1930 seni lukis Batuan sudah dikenal dunia, bahkan dua orang pelukis barat Rudolf Bonnet, dan Walter Spies tertarik untuk menekuni seni lukis ini. Bonnet dan spies banyak mengajarkan tehnik melukis modern kepada para pelukis Batuan, tapi anehnya hingga sekarang para pelukis Batuan lebih memilih cara melukis tradisional untuk setiap lukisanya.

sebuah mahakarya dari Cat Suteja
sebuah mahakarya dari Cat Suteja

Di sela-sela obrolan Made Cat memamerkan kepada kami koleksi-koleksi hasil lukisannya yang sudah selesai dibuat. Rata-rata terbuat hitam putih. Memang asal muasal lukisan batuan adalah hitam putih dan dilukis diatas kertas. Namun menyesuaikan diri dengan pasar, sekarang-sekarang ini beberapa sudah mulai di warnai dan memilih mengangkat cerita-cerita yang sedang berkembang serta di lukis diatas canvas, namun tehnik melukisnya tetap menggunakan cara tradisional.

Penelak, sebuah bambu runcing untuk melukis gaya Batuan
Penelak, sebuah bambu runcing untuk melukis gaya Batuan

Tahapan melukis gaya Batuan dari dulu sampai sekarang selalu sama. Proses awal dimulai dengan ngorten (membuat sketsa dengan pensil), lalu nyawi (menegaskan garis dengan tinta Cina), selanjutnya ngucak (memberi efek jauh-dekat dan terang-gelap), menyunin (memberi kesan berisi), lalu nyawi (memberi ornamen dan detail dengan warna), dan terkahir ngewarna (mewarnai). Hal ini berlaku untuk jenis lukisan hitam putih ataupun berwarna. Denga tahapan-tahapan yang banyak ini tidak heran jika lukisan batuan detai dalam menggambarkan objek sekecil apapun.


Kesan pertama melihat lukisan-lukisan Batuan bagi saya adalah pesona magis nya yang luar biasa kental, apalagi jika lukisan itu di buat hitam putih dan menceritakan sebuah upacara adat dengan penggambaran dewa-dewa yang di muliakan oleh warga Batuan yang mayoritas penganut hindu yang taat. Saya seolah terhanyut dan sedikit bergidik melihat lukisan-lukisan yang penuh makna dengan visualisasi yang khast tersebut. Sejatinya memang lukisan-lukisan Batuan dulu di buat untuk penghias Pura.

rumitnya proses melukis Batuan
rumitnya proses melukis Batuan

“Sekarang ini, banyak anak muda Batuan lebih terpengaruh kesenian modern yang dikampanyekan televisi. Mereka kurang memiliki kebanggaan pada seni lukis Batuan yang telah dikenal di manca negara sejak zaman dahulu” tutur Made Suryana.

Dia juga berharap generasi muda sekarang bisa menekuni seni lukis ini supaya tidak punah, karena seni lukis Batuan merukapan salah satu ciri khas kesenian yang ada di desa Batuan. Dan menurut penuturan Made Suryana juga, saat ini dia sedang mengajarkan tehnik lukis ini kepada keponakannya, namun sayangnya sang keponakan lebih memilih bekerja sebagai karyawan hotel dari pada menjadi pelukis yang mengharumkan nama desanya.

Mungkin karena kerumitan proses nya itu sekarang ini jarang anak muda yang menekuni seni lukis ini. Mereka lebih memilih tehnik lukis modern yang mudah di serap pasar. Oleh karenanya sekarang sudah mulai di galak kan regenerasi oleh para pelukis senior di desa itu kepada pelukis-pelukis muda, supaya seni lukis Batuan yang adiluhung ini tetap lestari dan mengharumkan nama desa mereka khususnya, dan negara Indonesia pada umumnya.


 

Dan pada 15 desember 2012 sebuah buku tebal berjudul “Inventing Art, The Paintings of Batuan Bali” yang ditulis oleh Bruce Granquist di luncurkan pada sebuah pembukaan pameran lukisan Batuan di Ubud. Bruce sendiri  adalah seorang ilustrator, fotografer, dan pelukis abstrak kelahiran Chicago, Amerika. Bule ini  memiliki ketertarikan tersendiri pada seni lukis Batuan.

Buku  tebal itu  memuat kajian mendalam tentang seni lukis Batuan, berkaitan dengan objek dan narasi lukisan, struktur, warna, dan pola garis. Bruce membutuhkan setidaknya tiga setengah tahun untuk merampungkan buku ini. Tehnik repostasenya berdasarkan hasil wawancara dan riset terhadap 600-an lukisan Batuan yang dikoleksi oleh seorang kolektor di Singapura.

Sayangnya kuluhuran nilai seni lukis Batuan ternyata lebih menarik di mata seorang Bruce daripada anak bangsa ini sendiri.

Thank you Sigma Indonesia for the Lenses.

 

 

 

 

 

 

3 COMMENTS

  1. sangat luar biasa tulisannya Mas. menurut teman saya yang asli Negara, Bali Barat, karya seni yang dibuat seniman Bali dibuat dengan sentuhan jiwa seni dan menghasilkan ‘Taksu’ atau dalam aura dari sebuah karya. Mungkin itu yang Mas Lostpacker rasakan sebagai sentuhan magis saat melihat lukisan Batuan.

    salam kenal mas.

Komennya disini ya..