Indahnya pagi di puncak Danau Kelimutu

3
Indahnya Pagi di Kelimutu
Indahnya Pagi di Kelimutu

Malam masih gelap. Pagi juga baru saja hadir. Tapi bayangan indahnya matahari terbit dari puncak Danau Kelimutu memaksa saya harus keluar dari selimut tebal di sebuah penginapan sederhana yang ada di Moni.

Jalanan menuju ke puncak Danau kelimutu masih terlihat kosong. Belum banyak orang yang melewatinya. Sementara di ujung timur sudah mulai terlihat tanda-tanda matahari akan segera muncul.

Kelimutu di Pagi Hari
Kelimutu di Pagi Hari

Saya dan beberapa teman blogger dan media yang ikut dalam Fam Trip yang diadakan oleh kementrian Pariwisata ini punya tujuan sama. Menikmati syahdunya matahari terbit dari puncak Kelimutu dengan pemandangan tiga danaunya yang indah.

pagi kelimutu
pagi kelimutu

Sampai di parkiran, pak Vincent selaku grup leader membagikan sarung Ende kepada kami. Yah konon katanya sarung Ende ini kehangatannya melebihin pelukan hangat mantan, Upsss!

Namun ada satu godaan yang teramat sangat menyakitkan pagi itu. Teh manis panas dan Mi rebus hangat. Pasti itu akan nikmat sekali di nikmai saat cuaca cingin seperti ini.


Pagi Menjelang di Kelimutu
Pagi Menjelang di Kelimutu

Tapi Godaan itu akhirnya bisa saya hadapi. Godaan untuk menikmati sunrise di puncak Kelimutu jauh lebih menggoda, wlaupun aslinya kedinginan dan males jalan naik, Eh! Kapan ya ada tempat bagus yang gak usah pakai susah-susah jalan kaki ato harus dingin-dinginan seperti ini. Tapi itulah alam, Seperti juga hidup. Untuk mencapai masa depan yang gumilang, pasti ada godaan-godaan keras yang datang seilih berganti. Godaan kenangan kehangatan pelukan mantan misalnya.

Satu persatu anak tangga menuju Danau Kelimutu saya lewati. beban tas kamera dan tripod semakin membuat saya ingin menyerah untuk tidak naik keatas. Tapi sekali lagi saya teringat penjuangan ninja hatori yang jauh lebih susah, mendaki gunung dan menuruni lembah yang lebih terjal.

Penikmat Pagi
Penikmat Pagi

Akhirnya dengan keteguhan hati yang luar biasa *lebay saya berhasil sampai di puncak Kelimutu disaat mentari pagi belum bersinar. Artinya saya masih mempunyai kesempatan untuk menikmati keindahan semesta yang di tunggu-tunggu penikmat sunrise ini.

Peralatan foto saya siapkan. Secangkir teh panas juga saya sudah pesan kepada ibu-ibu yang berdagang tepat di bawah tugu puncak Danau Kelimutu. Namun sebuah keajaiban terjadi. Baru saja teh panas itu saya terima, tapi godaan untuk menekan shutter kamera juga datang. hanya beberapa shutter saja, kemudian saya kembali memegang gelas teh panas yang yadi saya pesan. Ajaibnya panas beberapa saat lalu tiba-tiba sudah menjadi dingin. Mungkin ini keajaiban pertama saya di Kelimutu. *padahal memang cuacanya sangat dingin sih.

Matahari Terbit di Kelimutu
Matahari Terbit di Kelimutu

Cakrawala mulai terlihat memerah. tanda-tanda matahari sesaat lagi akan keluar menyinari bumi . Cahaya yang dinanti oleh semua umat manusia di bumi. terlebih bagi kami para penikmat matahari terbit di puncak Kelimutu ini.
Dari dinginnya puncak Kelimutu saya belajar satu hal. Ternyata sarung tenun Ende ini benar-benar hangat. Tenunannya tebal sehingga bisa menghalau dingin yang menusuk di puncak Kelimutu. Terimakasih saya haturkan kepada bapak Vincent dan sang istri yang meminjamkan kami sarung tenun yang indah dan berguna itu.

Setelah matahari bersinar, barulah terlihat cantiknya tiga kawah yang ada di puncak kelimutu itu. Untuk cerita lebih lanjut tentang ketiga kawan dan misteri dibalik berubah warnanya silahkan mampir di postingan saya sebelumnya disini.

Hangat berkat sarung Ende
Hangat berkat sarung Ende
Peserta Pesona Ende
Peserta Pesona Ende

Dan pantang dong ketemu tempat indah seperti itu dilewatkan tanpa foto-foto. Alhasil ratusan foto terekam dalam memory digital yang ada di masing-masing kamera kami. Tentu juga banyak sekali foto selfie kami didalam ratusan foto-foto itu. Satu hal lagi yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah tentang bagaimana menjadi traveler pemula yang baik dan benar seperti di tulisan kak Wiranurmasyah ini.

danau Kelimutu
danau Kelimutu
Diatas Puncak Kelimutu
Diatas Puncak Kelimutu
Kabut pagi di Kelimutu
Kabut pagi di Kelimutu
Yang hijau di puncak Kelimutu
Yang hijau di puncak Kelimutu

Setelah puas berfoto-foto kami bergegas turun karena rencananya siang ini akan melanjutan perjalanan menuju pantai Koka. Walaupun sejatinya pantai Koka sudah tidak berada di kawasan kabupaten Ende, tapi letaknya sangat berdekatan dengan gerbang perbatasan. Dan pantainya sangat recomended untuk di datangi ketika mengunjungi Nusa Tenggara Timur.

Berjalan di kelimutu
Berjalan menuruni tangga di kelimutu

Perjalanan turun dari atas puncak kelimutu juga bukan perkara mudah, bagi saya mantan pendaki yang masih di bayangi cedera lutut akibat kecerobohan pada masa lalu. Tapi dengan keindahan yang tersaji, rasanya jadi lupa dengan kekhawatiran akan cedera lutut itu.

Calon Pengantin di Kelimutu
Calon Pengantin di Kelimutu

Ditengah perjalanan saya bersua dengan pasangan calon memepalai yang handak mengabadikan foto preweding mereka di puncak Kelimutu. Tapi kenapa kostum yang dikenakan malah adat Rote ya, lengkap dengan topi Ti’langanya ya. Tapi mungkin mereke menyimpan cerita manis dari tempat ini di awal percintaan mereka dulu, seperti misterinya kisah saya dan mantan.

3 COMMENTS

Komennya disini ya..