“Antaro merak jo bakauheni, antaro sabak jo gadang hati, den tinggakan kampuang nan denai cinto, dek harok kabatuka untuang jo parasaian” Lirik lagu dari daerah Sumatra Barat itu seolah terngiang kembali ketika saya duduk di salah satu sudut kapal ferry yang menyeberangkan saya dari tanah jawa menuju pulau Sumatra ini.
Hal serupa juga saya rasakan belasan tahun yang lalu ketika pertama kalinya saya harus pergi merantau meninggalkan segala kesenangan di kampung halaman demi sebuah harapan baru di pulau Sumatra. Cerobong asap mengepulkan asap hitam yang seolah mengabarkan bahwa kapal ferry ini sudah mulai renta. Para penumpang lain terlihat hilir mudik membunuh rasa bosan diatas kapal. Beberapa supir truck juga terlihat sedang asik bersendau gurau dengan beberapa penjual jamu gendong di geladak kapal. Saya selalu suka dengan suasana kapal seperti itu.
Tiba di kota Bandar Lampung sudah hampir jam 9 malam. Motor matic saya juga terasa seolah kecapekan. Perut juga terasa mulai melilit kelaparan. Akhirnya di sebuah warung pecel lele di pinggir sebuah jalan protokol di kota Bandar Lampung saya beristirahat sambil mengisi perut. Dan di tempat itulah om Doddy menjemput saya.
Setelah meletak kan tas di rumah, ternyata ada undangan lagi untuk menikmati lezatnya kopi lampung. Terletak tidak jauh dari tugu Gajah yang menjadi maskot kota Bandar Lampung, terdapatlah sebuar warung kopi yang lezat itu. Dengan konsep Outdoor (tanpa atap) rasanya cozy sekali menyeruput lezatnya kopi Lampung sambil bercengkrama bersama para sahabat baru. Di warkop itu saya juga bertemu dengan om Budi dan beberapa sahabat baru dari Lampung yang berasal dari berbagai macam latar belakang pekerjaan yang berbeda.







