Pemandian air panas di Ciseeng Bogor coret

12

Ciseeng Bogor adalah sebuah tempat wisata alternatif yang ada di dekat perbatasa dua kabupaten, Tangerang dan Bogor. Gara-gara me-replay postingan nya seorang sahabat lama di wall nya dia tentang pemandian air panas di Ciseeng Bogor, eh malah ketempuhan jadi tukang ojeknya ke lokasi tersebut ha ha, walaupun  akhirnya jadi sebuah petualangan seru.

Walaupun sudah  24jam melaksanakan tugas sebagai seorang kuli dan sedikit capek bercampur ngantuk akhirnya saya terima tantangan dari Marley, seorang sahabat ngeluyur dari jaman dahulu kala untuk mengeksplore beberapa lokasi pemandian air panas yang ada di beberapa lokasi di daerah Ciseeng.

inilah Tujuan kami, sumber air panas di Ciseeng
inilah Tujuan kami, sumber air panas di Ciseeng

Berawal dari menunggu si tukang telat ini di sebuah taman kecil di samping lampu merah German Center Bsd, terlihat beberapa motor terparkir di taman tersebut. Akhirnya ikutlah saya dengan pede-nya parkir disamping mereka di urutan paling kanan. Setelah beberapa lama duduk karena nungguin si tukang ngaret ini belum datang-datang juga, eh ada seorang ibu muda mencolek pundak saya dari belakang, “ke dalam mas” begitulah ucapan yang keluar dari mulut ibu-ibu tadi.

Dengan polosnya saya pun mengantarkan sang  ibu tadi sampai kedepan rumahnya yang tidak jauh dari lokasi lampu merah tersebut. Beberapa orang di taman tersebut terlihat memperhatikan saya. Hingga di tengah jalan saya baru tersadar ternyata orang-orang tersebut adalah tukang ojek yang mangkal disitu, dan ibu ini adalah pelanggan nya. Pantesan senyum-senyum sinis saya dapatkan dari bapak-bapak tersebut. Sesampainya di depan rumah si Ibu mengeluarkan uang sepuluh ribuan buat saya, setelah saya jelaskan kalau saya disitu sedang menunggu teman saya, ibu itu hanya senyum dan tertawa ngakak ha ha ha.


 

Sekembalinya saya di lokasi tersebut saya segera meminta maaf kepada bapak-bapak ojek yang ada disitu, dan uang sepuluh ribuan yang dipaksa nerima oleh si ibu tadi saya habiskan untuk mentraktir lima gelas kopi buat bapak-bapak yang sedang mangkal di area itu. Tak selang beberapa lama dari saya menenggak kopi di gelas plastik tersebut terlihat Marley nonggol dengan tampang tidak berdosanya.

Rute yang saya lalui melewati taman Tekno BSD, lurus lagi kearah Puspitek, hingga ketemu dengan pasar Prumpung. Dari situ terdapat simpang empat, jika ke kiri kita melalui jalur bis ke Parung dan Bogor, jika ambil arah ke kanan kita akan di bawa ke daerah Tigaraksa Tangerang. Jalan lurus lah yang saya ambil, karena disitu terdapat tulisan “Bogor via Ciseeng”.

Pasar Prumpung sendiri biasanya macet jika di pagi hari, namun kebetulan siang tadi pasar terlihat sedikit lengang hingga saya bisa memacu si Rio motor matic kesayangan saya dengan agak sedikit kencang. Tidak sampai 30 menit dari lokasi saya bertemu Marley tadi di kawasan German center saya sudah berada di parkiran lokasi wisata Tirta Sanita, pemandian air panas di daerah Ciseeng.

Pemandian air panas
Pemandian air panas

Setelah melahap sebongkah kelapa muda yang terlihat nikmat sekali, karena cuaca memang sedang terik sekali siang tadi. Saya mencoba bertanya-tanya kepada seorang ibu penjual kelapa muda. Ternyata ada dua lokasi pemandian air panas disini, yang pertama adalah Tirta sanita yang memang sudah di kelola dengan baik, terletak di sebuah gunung yang masyarakat setempat menyebutnya gunung Panjang atau ada juga yang menamainya gunung hitam. Karena sudah di kelola dengan baik  sehingga memasuki lokasinya saja kita dikenakan charge yang dua kali lebih mahal jika dibandingkan dengan lokasi pemandian yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Berendam yuk
Berendam yuk

Pemandian kedua adalah sebuah pemadian air panas yang dikelola oleh masyarakat setempat sehingga memasuki lokasinya hanya mengeluarkan recehan sebesar tiga ribu rupiah. Jika hendak mandi di kolam-kolam yang dibentuk oleh masyarakat tersebut kita harus merogoh kocek lagi sebesar lima ribu rupiah. Namun sayangnya ketika saya berada di lokasi itu, kolam air panasnya sedang di kuras, jadi hanya ada kolam-kolam kecil jika ingin berendam. dikarenakan cuaca juga sedang terik maka saya hanya menikmatinya saja, sambil sesekali memencet rana kamera saya untuk mengabadikannya.

Segelas es teh manis menghilangkan dahaga saya siang itu, dari berbincang dengan sang penjual es teh tersebut saya dapat keterangan bahwa ada satu lagi gunung yang mengeluarkan air panas. Gunung peyek namanya, dan untuk menuju ke lokasi tersebut tidaklah mudah, karena harus melewati jalan-jalan setapak di belakang area Komplek TNI kompi Nuklir. Saya penasaran sekali dengan lokasi tersebut gara-gara si ibu penjual es teh bilang ke saya “kalau yang di gunung peyek itu jarang turis lokal kesana mas, yang banyakan kesana adalah turis Jepang dan Korea”. Ini adalah sebuah pembenaran ketika sebuah artikel yang pernah saya baca tentang dimuatnya liputan pemandian air panas tersebut di sebuah majalah Jepang.


 

 

Setelah turun ke parkiran motor lagi saya mencoba bertanya dengan seorang satpam yang sedang bertugas disana, “kalau gunug Peyek dimana ya pak?”. Dengan sedikit aneh sang satpam mencoba menjelaskan, namun di akhir kalimat beliau agak ragu, karena jalan nya belok-belok menurutnya. Akhirnya saya minta kepada seorang pemuda lokal disana untuk mengantarkan saya menuju lokasi tersebut. Tidak jauh ternyata tempatnya, namun kesana nya kita harus melewati komplek TNI yang akan susah memasuki gerbangnya jika kita terlihat membawa kamera besar dan peralatan fotografi lainnya. Saya pun menyembunyikannya di sebuah ransel baju yang saya bawa.

Gunung Peyek
Gunung Peyek

Setelah melewati kompi Nuklir tersebut jalanan berubah menjadi jalan setapak dan berlanjut dengan berjalan di pematang sawah. “itu mas gunungnya” kata si akang pemuda menunjuk sebuah bukit batu kecil. “whatttttssss” mungkin kalau hati saya bisa berkata akan keluar perkataan seperti itu. Bukit kecil ini dinamakan gunung? Padahal dalam pikiran saya sudah di cekokin akan sebuah gunung yang tinggi dengan telaga air panas nya, ternyata hanya sebuah bukit batu. Dan dari situ timbul kesimpulan saya, jadi mungkin karena dia ceper seperti peyek makanya gunung ini dinamakan gunung Peyek.

Narsessss
Narsessss

Dari atas Gunung bukit kecil itu  saya di buat takjub dengan pemandangannya. Tiga buat lubang kecil yang mirip dengan Jacuzi hotel mewah dengan sember air panas alami nya, di padu dengan pemadangan persawahan di hadapannya, amboy indahnya negeriku Indonesia ini.

lokasinya
lokasinya

Setelah puas memotret dan sedikit mengambil footage Video lokasi indah itu, saya pun bergegas untuk menceburkan diri di hangatnya jacuzi kecil itu. Cuaca mendung menambah nikmatnya sore di dalam sebuah jacuzi indah. Namun tidak selang beberapa lama ternyata hujan turun, dan hebatnya lagi disitu tidak ada pondokan atau tempat berteduh.

Dengan sedikit terburu-buru saya segera memasukkan peralatan elektronik yang saya bawa kedalam sebuah plastik dan dimasukkan kedalam tas.  Hanya ada hammock yang saya bawa yang bisa menutupi dua tas kami. Setalah merasa semua aman akhirnya saya kembali lagi ke dalam jacuzi mewah saya dengan air panas yang bersumber dari alam langsung di tengah hujan yang begitu deras.

narcessss
narcessss

Tidak jarang mata saya terasa perih karena terciprat oleh air belerang yang meloncat keatas karena tetesa air hujan jatuh diatas nya, sementara Marley asik berada di jacuzi sebelah saya. Setelah hujan reda saya membuka bungkusan parasut hammock, dan viola tas saya basah sedikit, sementara tas nya Marley yang berada di bawah basah kuyup, dari situ saya baru tahu ternyata bahan hamcok saya bukan parasut yang bisa menahan air hujan. Maafkan saya sobat ha ha ha.


 

 

Ketika hendak pulang munculah ide untuk mencari jalan memutar melewati pematang sawah yang terlihat indah dan tenang sore itu, namun dari situlah permasalahan timbul, setelah berjalan lumayan jauh, melewati sebuah batang kayu rapuh yang dipakai untuk menyeberang parit juga, namun yang kami temukan hanyalah sebuah pagar pembatas area komplek TNI. Akhirnya jalan turun kembali ke pematang sawah, dan itu bukanlah hal mudah karena jalan kecil itu sangat licin sekali, serta tertutup oleh ilalang yang hampir setinggi tubuh saya.

Sok sok an berpetualang
Sok sok an berpetualang

Setelah sekian lama berjalan akhirnya si Marley menemukan sebuah pintu dan ternyata itu adalah pintu belakang komplek wisata pemandian air panas Tirta Sanita. Dan beruntungnya lagi disaming itu ada warung, sebuah keberuntungan muncul disaat kami hampir tersesat dan kelaparan karena belum melahap makan siang.

Setelah memesan seporsi mie rebus saya kembali berjalan-jalan di seputaran lokasi wisata tersebut. Ada sebuah gunung kapur yang tidak terlalu tinggi, di samping-samping dinding gunungnya terlihat lapisan sendimen yang terbentuk dari aliran air panas yang mengalirinya. Setelah menaiki puncaknya saya kembali turun dan terihat seorang bapak-bapak sedang membenarkan sebuah selang air panas yang ternyata bocor.

Diatas sumber air panas
Diatas sumber air panas

Dari beliau inilah saya mendapatkan informasi bahwa sumber air panas ini sudah di tutup beton dan dialirkan ke masing-masing lokasi pemandian yang ada di lokasi ini, itu juga sebabnya kenapa saya tidak menemukan sumber air panas di gunung kapur ini.

VIP room
VIP room

 

Setelah melahap semangkuk mi rebus dan setengah piring nasi, urusan perut sudah aman, tinggal menikmati hangatnya air panas di kolam VIP, karena di kolam biasa sudah tutup diakibatkan hari sudah menjelang magrib. Sampai di kolam VIP ternyata terdiri dari kamar-kamar, dan harganya tidaklah mahal untuk menikmati berandam di air panas alami, cukup sepuluh ribu kita sudah dapat menikmati sensasi hangatnya air panas gunung kapur ini. Sementara si Marley masih membasuh kaki kotornya karena lumpur pematang saya segera menceburkan diri di sebuah bak yang tidak terlalu besar, di atas kepala saya ada sebuah selang kecil yang selalu mengeluarkan air panas.

Berendam di VIP
Berendam di VIP

Nikmat sekali rasanya, rasa capek berjalan di pematang sawah terasa hilang seketika. Saya menaruh lutut di bawah pancuran air panas tersebut, sambil mengusap-usapnya teriring doa semoga cedera lutut yang saya alami selama ini segera sembuh. Begitu saya keluar dari bak air panas karena sudah merasa kepanasan si Marley gantian menceburkan diri setelah saya paksa karena takut kepanasan, dan benar dia kepanasan ha ha. padahal si bapak petugas menawarkan bak sebelah, namun dia terlihat enggan dengan panas nya.

Saya sengaja membiarkan pintu kamar mandi itu terbuka supaya banyak oksigen masuk ke ruangan kecil itu. Hanya beberapa saat terlihat si tukang telat itu keluar dari bak karena kepanasan ha ha, hanya demi untuk berfoto ternyata dia mau menceburkan diri ke dalam bak air panas ha ha.


 

Masalah kembali muncul ketika kami keluar dari lokasi komplek pemandian tersebut. “mas yang punya motor itu ya?” kata pak satpam dengan muka agak aneh. “ya pak” jawab saya dengan enteng, ternyata oh ternyata ulah saya dan si Marley sudah merepotkan para satpam dan warga sekitar kelabakan mencari keberadaan kami karena hingga larut malam belum kembali, mereka khawatir kita kenapa-kenapa, kerana dari keterangan si bapak pernah ada yang hilang di daerah itu dan lima hari kemudian baru muncul kembali di tempat yang sama, katanya di sembuyikan mahluk halus penunggu daerah situ.

Benar atau hanya untuk menakut-nakuti kami saja saya tidak tahu, yang jelas terlihat raut-raut muka yang kesal mereka melihat kami, maafkan kami bapak-bapak sekalian. Segera setalah meminta maaf kepada mereka kami berpamitan untuk kembali ke peradaban dunia ha ha. Sebuah pengalaman singkat yang seru.

Buat Marley sukses ya dengan pengelanaan kamu selanjutnya, berkeliling dunia seperti kakak senior Marcopolo.

12 COMMENTS

  1. He he he baru beli buku tamu soalnya kang…gak tau sebelumnya..

    Silahkan di coba berendam di mata air panas yang tidak jauh dari Jakarta, murah meriah lagi he he

    *masih nyari2 theme lom nemu yang simple dan aikecing neh he he*

  2. Akhirnya gue ke Ciseeng! Gue cuman ke gunung peyek doang, ga tertarik ke pemandian sih. Tapi … baknya terlihat menarik, apalagi ga harus repot nunggu mengisi bak. Gue iri karena lu ke gunung peyek pas hujan. Enak dong! Gue pas equinox. Super absurd. Anyways… emang berkat lu, gue jadi pengen ke sini. Pol banget gunung peyek itu.

Komennya disini ya..