Sedikit cerita dari Misool, Raja Ampat

Hampir satu bulan sudah saya ada di salah satu propinsi di kepala burung Papua. Dan lebih dari separuh waktu di papua saya habiskan di misool, sebuah lokasi yang katanya surga menyelam kelas dunia.

Wolobi IslandWolobi Island, Misool- Raja Ampat

Memang Misool mempunyai pemandangan yang indah sekali. Tidak hanya bawah lautnya saja, tapi juga pantai-pantai dan tebing karstnya ayang memukau.

Semburat cahaya sang surya di pagi dan petang selalu membuat saya takjub dan semakin bersyukur atas nikmat keindahan di Misool ini. Tingkah polah lumba-lumba di pagi hari juga membuat saya semakin betah ada di lokasi ini.

Dari keterangan singkat diatas mungkin kita bisa simpulkan bahwa Misool bagaikan surga kecil yang Tuhan turunkan ke bumi. Tapi mungkin utusan Tuhan yang menurunkan surga itu lupa satu hal. Satu hal yang mungkin dilupakan itu adalah bahwa Misool masih bagian dari NKRI, sebuah republik yang menjamin kecerdasan dan kesejahteraan rakyatnya.

Desa Yellu, Misool-Raja AmpatDesa Yellu, tempat di mana BTS Telkomsel di dirikan

Salah satu contoh dalam hal telekomunikasi. Sejak 2 tahun lalu di Misool sudah masuk jaringan telepon seluler. Semua warga yang saya temui merasa bersyukur dengan hadirnya ini. Mereka bisa berkomunikasi antar desa-desa kecil yang ada di wilayah ini.Β Tapi sayangnya paket data yang di hadirkan telkomsel sebagai provider satu-satunya terkesan setengah hati. Selama saya di daerah ini hanya dua hari saya bisa mengakses internet, itupun nunggu loadingnya saya bisa sambil main petak umpet dulu bersama bocah-bocah Papua yang memanggil saya bapak guru. Dan koneksinya berlangsung singkat tiap harinya. Bahkan keseringan di layar telepon genggam saya dapat pesan manis dari provider bertuliskan “no service”

Angkutan di Misool Angkutan Warga di Misool

Sebelum ada operator seluler ini mereka harus berketinting ria untuk berkunjung ke rumah saudara untuk sekedar bertamu untuk bersilahturahmi. Jangan di bayangkan bahan bakar minyak disini mudah di dapat dan murah ya, premium yang di kota-kota besar seharga delapan ribu lima ratus, di daerah misool ini harus di tebus dengan empat belas sampai lima belas ribu perliter, dan itupun sering terjadi kelangkaan.

Rasanya kok gak adil ya. Pada saat di kota-kota besar orang sudah berlomba-lomba dengan speed internet bermega-mega byte per second, sementara di misool bisa berinternet saja sudah seperti sebuah anugrah besar.

Desa Usaha Jaya, Misool - Raja Ampat Desa Usaha Jaya di Misool

Di tengah derasnya arus pariwisata yang masuk ke Raja Ampat, terlebih Misool, sudah selayaknyalah pemerintah memfasilitasi mereka dengan teknologi informasi. Siapa lagi yang bisa diandalkan untuk membangun Misool kedepannya kalau bukan pemuda-pemuda lokal yang saat ini lebih banyak menjadi penonton ketimbang pelaku di tengah ledakan arus pariwisata yang sulit terbendung. Semoga program-program pemerintahan yang baru bisa sampai di wilayah ini dan tepat sasaran. Tidak hanya sekedar program asal-asalan seperti yang saya dengar dari beberapa pemuda lokal di salah satu kampung.

“Kami diajak pelatihan sablon mas dua minggu ke Jogja, tapi pelatihannya cuma tiga hari karena bapak dinas yang bawa malah ngajak jalan-jalan keliling jogja” ungkap Mastur, salah satu warga lokal di desa Harapan Jaya.


Sang Saka di Desa Harapan Jaya, Misool - Raja Ampat Sang Saka Masih Berkibar di Desa Harapan Jaya, Misool – Raja Ampat

Mungkin kita semua setuju bahwa Raja Ampat terlebih Misool butuh penanganan khusus untuk menjaga spot-spot patiwisata yang berbasis pada alam ini akan terus terjaga kelestariannya. Hal terpenting yang tak boleh dilupakan untuk itu semua adalah sumber daya manusianya, karena mereka yang bersentuhan langsung dengan hal ini. Dan satu hal lagi yang paling penting untuk di renungkan oleh semua pihak adalah, mereka masih saudara-saudara kita dalam kepakan sayap sang Garuda dan masih dalam bingkai NKRI, sudah selayaknya juga kita membantu mereka kawan.

Katong samua basudara bukan?”

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

20 Responses
  1. indri juwono

    wah, seperti bahasan semalam tentang pembangunan sumber daya manusia di daerah pariwisata.
    ayok terus bantu, kak πŸ™‚

  2. hannif andy

    Salam y mas buat kampung saya, FAFANLAP. dan juga pak Harun dan bu Fatma.. titip salam buat mas ismail… sa su kangen misool

    1. Sutiknyo

      Gak cuma papua lho kak, Sangihe, pulau Rote dan Weh juga ujung-ujung negri yang menunggu kdatangan kita juga, yuh ahhh *packing

  3. Indra Setiawan

    Klodi sini sebenarnya cukup 3 hal aja yg sangat di dinantikan sama masyarakat yg jauh dri kota..jalan yg bagus,listrik dan sinyal..

    1. Sutiknyo

      Kalo di misool gak terlalu butuh jalan sih, mreka lebih butuh angkutan laut yang memadai dan murah serta safety.

  4. eviindrawanto

    Tentang kekurangan di negeri-negeri yang jauh darai ibu kota, miris yang sudah berlangsung lama. Semoga pemerintahan baru ini melakukan sesuatu agar pembangunan lebih merata

  5. Lulu Wulandari

    sepakat dengan mas Bolang, mungkin mereka lupa bahwa misool masih bagian NKRI…
    miris sekali nasib daerah di timur, selalu begini… -_-

  6. Rifqy Faiza Rahman

    Tulisan yang menggugah, menyentil halus. Keindahan alamnya kadang tak berbanding lurus dengan kehidupan masyarakatnya. Semoga harapan mereka tetap terjaga, demi masa depan yang merata…

Leave a Reply