Ikhlas dari sekotak molent

“A, maaf nunggu dulu ya, masih digoreng molennya” suara serak dari bapak penjual molen langganan saya pada pagi tadi.

Tak biasanya beliau sampai telat seperti itu. Biasanya saya cuma menghentikan motor di depan gerobaknya saja, dan bilang “a, 3 bungkus ya”, tak sampai satu menit 3 bungkus molen enak sudah di sodorkan ke say. Padahal saya melihat sendiri beliau baru mengemas molennya yang panas ketika saya memesannya. Kerjanya sungguh cekatan. Dibantu dengan 3 anak dan keponakannya, membuat speed kerja mereka sungguh luar biasa. Saya selalu takjub dengan cara kerja mereka.

Si bapak sebagai kapten, tugasnya melayani pelanggan, juga menggiling adonan tepung yang akan dipakai membungkus irisan pisan. Sementara anaknya bertugas mengiris pisang dan menggoreng. Sementara dua lagi tugasnya membungkus pisang dengan adonan. Perfect menurutku. Dan saya menjadi pelanggan tetapnya sejak 2006. Ketika itu saya memang selalu melewati jalanan tempat dia jualan ketika berangkat kerja. Karena si bapak ini hanya berjualan dari jam 6 pagi sampai jam 9 pagi. Durasinya cuma 3 jam, tapi entah sudah berapa puluh bahkan ratusan kotak molen yang dijualnya. Dan jujur, itu molen terenak yang pernah saya makan. Pisang, tepung dan ukurannya sangat pas untuk menemani secangkir kopi atau teh.

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk menuliskan kisah si bapak adalah senyum dan ikhlasnya beliau dalam berjualan. Ketepatan waktu pasti juga bentuk kepuasan tersendiri buat saya, selain attitude belia. Sembari menunggu molen pesanan saya digoreng tadi, saya memperhatikan gerak gerik beliau dalam melayani pelanggannya. Tak jarang dia juga meminta maaf dengan raut muka iklas benget ketika bilang bahwa pesanannya akan tertunda, karena sedang digoreng. Tak jarang mereka rela menunggu, namun banyak juga yang harus terburu-buru, meninggalkan si bapak dengan begitu saja. Dan beliau selalu mengakhiri kalimatnya dengan ucapan terimaka kasih. Begitu juga yang dilakukannya ketika menyerahkan 3 kotak molen pesanan saya.

Mungkin cara berdagangnya inilah yang membuat saya dan mungkin puluhan pelanggannya selalu kembali lagi kepadanya. Kualitas dan rasa molennya juga tak berubah. Bedanya, dulu cuma berdua, sekarang beliau sudah berempat. Namun pagi ini, beliau dapat orderan yang lumayan banyak karena ada rombongan ibu-ibu dekat situ mau arisan. Makanya beliau agak kuwalahan. Namun saya juga tak terlalu lama menunggu kok. Cuma sekitar 5 menit saja. Dan 1 kotak molen, harganya cuma 6 ribu rupiah, berisi sekitar 15 molen. Kadang saya berfikir, dari mana si bapak ini mengambil keuntungan. Tapi kembali lagi pada satu pepatah jawa lama “gusti allah ora sare” (tuhan tidak tidur, beliau sudah tau rejeki mana untuk siapa, tak kan mungkin tertukar).

Melihat kisah berjualannya si bapak, saya jadi inget cerita kakek tentang kanjeng Nabi yang juga seorang pedagang. Iklhas dan pasrah marang gusti, setelah upaya menjaga kualitas hasil dagangan kita sudah dilakukan. Semoga berkah terus ya A dagangannya.

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker

Related Posts

1 Response

Leave a Reply