Air Terjun Sipiso Piso, Si Cantik di Pinggir Danau Toba

“Di sinilah surga itu kawan!”

Begitulah kira-kira bathin saya kala itu berkata.

Sebuah hamparan keindahan yang ada di hadapan saya, seketika memukau dan menghilangkan penat yang sudah menjalar hampir ke seluruh aliran darah di tubuh saya.

Peluh yang mengucur dengan deras akibat menuruni ratusan anak tangga juga seolah sekejap kering, berganti dengan kesejukan tempias bias-bias air yang menempel di kulit tubuh.

Sementara itu di hadapan saya terlihat sebuah air terjun yang menjulang tinggi, jatuh diantara tebing-tebing hijau akibat lumut-lumut yang menempel indah, air terjun Sipiso-piso.

Akhirnya sampai di air terjun sipiso-piso
Akhirnya sampai di air terjun sipiso-piso

Air terjun Sipiso-piso ini terletak di desa Tongging, kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Air terjun yang berjarak sekitar 24 kilometer dari Kabanjahe ini mempunyai ketinggian sekitar 120 meter. Derasnya air yang mengalir dan jatuh dari sebuah sungai diatas tebing ini, kalau dilihat dari jauh sekilas menyerupai sebuah ‘piso’ atau pisau, dari sanalah asal mula nama Sipiso-piso ini.

Memandang air terjun ini dari gardu pandang yang berada di Desa Tongging membuat saya berdecak kagum. Di sebelah kiri saya adalah sebuah lembah nan cantik letak Desa Tongging berada,  persis di tepi Danau Toba dengan segala keindahannya.

Sementara di sebelah kanan saya, terhampar sebuah tebing indah yang diatasnya terlihat subur sekali dengan beragam jenis tanaman sayur mayur. Dari tebing itulah jatuh sebuah air terjun yang konon katanya tertinggi di negeri ini.

Sebuah panorama yang akan memanjakan mata siapapun yang datang kesini.

Trekking ke air terjun sipiso-piso
Trek menuju air terjun sipiso-piso ini banyak sekali anak tangganya

Melihat jumlah anak tangga dari atas menara pandang ini saja rasanya sudah bikin jiper hati saya. Maklum saja, hampir 7 tahun terakhir, saya sudah menggantungkan predikat anak gunung menjadi anak pantai. Padahal kalau dibandingkan dengan waktu jadi anak gunung, mendaki Gunung Marapi di Sumatera Barat saja saya suka berlari.

Nah, saat melihat anak tangga menuju air terjun yang terlihat seperti ular karena meliuk-liuk ini rasanya saya sudah jiper duluan haha… Apalagi cedera lutut masih membayangi saya ketika harus melakukan pendakian. Yah, sebuah luka lama yang harus saya kesampingkan kali ini, demi melihat langsung Sipiso-piso.

Perlahan tapi pasti, saya mulai menuruni anak tangga, satu demi satu. Pemandangan yang memukau seolah bergembira menyambut kedatangan saya. Terik matahari juga seolah riang sekali siang itu, padahal waktu perjalanan kesini, kami dibayangi oleh mendung hitam yang menggelayut diatas Danau Toba, tapi alhamdulillah cerah hadir kembali.

Gemuruh air terjun sudah mulai terdengar, namun kaki ini rasanya sudah mulai lelah. Peluh di kepala juga sudah mulai bercucuran. Tenaga yang tersisa juga sudah mulai menipis. Citra hanya cengar-cengir saja melihat saya bermandikan keringat.

Satu per satu anak tangga saya tapaki. Trek ini sebenarnya lumayan terjal, jadi bagi kamu yang merasa kondisi tubuhnya kurang sehat atau kurang prima staminanya untuk menuruni anak tangga menuju ke air terjun sebaiknya menikmatinya saja di menara pandang.

Ini baru turun, cerita lebih seru akan terjadi ketika nanti naik kembali dari air terjunnya.

Menuju air terjun Sipiso-piso
Terlihat sudah dekat tapi masih mayan buat dengkul oglek

Gemuruh dan bias air saya rasakan ketika saya sampai di pos terakhir, sebuah air terjun maha sempurna ada di hadapan saya. Hujan juga tiba-tiba hadir walau rintik-rintik. Suasana air terjun sepi, tidak ada satupun pengunjung siang itu. Hanya saya dan Citra.

Hamparan bunga-bunga liar juga tumbuh di sekitar jatuhnya air terjun. Jika dilihat sekilas, seperti hamparan permadani hijau mahal dari negeri timur tengah sana. Sesekali bunga-bunga itu bergoyang akibat angin yang berhembus dari jatuhnya air.

Susah sekali memotret di lokasi ini. Namun saya tidak kehabisan akal, kamera saya kerudungi dengan plastik yang emang khusus dibuat untuk melindungi kamera seperti saat harus memotret waktu hujan turun.

Di depan lensa, saya lindungi dengan filter yang hanya dalam hitungan detik basah oleh embun air. Paling tidak, saya bisa mengabadikan momen air terjun indah ini. Selain itu pintar-pintarlah membaca angin, disaat angin ke arah kita tentu akan sulit karena bias air juga mengikut angin. Begitu angin berhembus ke arah lain segeralah memencet tombol rana di kameramu.

Lansekap air terjun sipiso-piso
Lansekap menawan air terjun sipiso-piso

Lumut-lumut yang menempel di dinding tebing semakin mempercantik air terjun Sipiso-piso ini. Bahkan kalau kamu beruntung, seringkali terlihat pelangi di lokasi ini.

Pohon-pohon pinus yang ada di sekitar air terjun juga seolah membuat suasana disini makin nyaman untuk melepas penat setelah berpeluh keringat menuruni anak tangga tadi.

***

Setelah puas menikmati pesona keindahan sipiso-piso dari dekat, saatnya perjuangan dimulai lagi. Saya harus menaiki satu demi satu anak tangga lagi yang jumlahnya ratusan, dengan kemiringan hampir 80 derajat. Pasti bukan hal yang mudah dan pasti akan sangat menguras tenaga dan mempertaruhkan mental juga.

Satu demi satu anak tangga mulai saya naiki, namun berkali-kali saya harus berisirahat mengatur nafas dan menyeka peluh yang mengucur deras, sudah seperti derasnya air terjun saja haha…

Citra tidak henti-hentinya menyemangati sambil cekikikan melihat muka saya memerah karena kepanasan dan kecapekan.

Lelahnya trekking menuju air terjun
Trekking menuju air terjun sipiso-piso

Diketawain Citra justru malah membakar semangat saya untuk meneruskan perjalanan. Satu persatu anak tangga kembali saya tapaki hingga akhirnya sampailah di pos terakhir sebelum gardu pandang.

Setelah menenggak berliter-liter air putih kok saya ingin menghiasi suasana indah duduk memandang hamparan danau toba ini dengan secangkir kopi. Alhasil sebuah kopi hitam pun dihidangkan oleh seorang ibu penjaga warung.

Sampai kembali di menara pandang saya mampir ke sebuah warung sambil menunggu becak motor yang sudah saya pesan. Tidak lama setelah sebuah sms terkirim, becak sudah muncul dan kami bertiga menikmati gorengan di sebuah warung kecil disana.

Hujan kembali turun ketika saya berada di atas becak untuk kembali ke Simpang Merek (nama lokasi). Abang Marbun pengendara becak motor ini orangnya asik sekali. Sepanjang perjalanan dia berceloteh tentang segala hal. Bahkan saya d antarkan ke sebuah pangkalan angkot yang akan membawa saya ke Kabanjahe saat hujan masih mengguyur.

Suasana yang menenangkan di Air terjun Sipiso-piso
Suasana yang menenangkan di Air terjun Sipiso-piso

Untuk sampai ke Kabanjahe saya harus menaiki sebuah angkot yang penuh sesak dengan karung-karung kopi. Sepertinya komoditi ini akan dijual ke pasar di Kabanjahe atau bahkan malah akan dibawa menuju Medan. Sampai di Kabanjahe saya harus berpindah angkot lagi menuju Brastagi untuk mengambil barang-barang bawaan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju kota Medan.

Dari sini, diperlukan waktu sekitar 3 jam lagi untuk tiba di Kota Medan. Apalagi dengan kondisi jalan kecil dan berkelok-kelok yang rentan sekali dengan kemacetan. Akibat kemacetan inilah saya akhirnya harus menginap satu malam lagi di kota Medan karena ketinggalan pesawat.

Atas rekomendasi dari kawan saya menginap di hotel transit. Tapi kok rasanya kesialan saya malam itu berlipat-lipat. Setelah ketinggalan pesawat dan harus membeli lagi tiket dengan harga 3x lipat harga tiket promo saya yang hangus, saya juga mengalami kesialan di hotel ini.

Ceritanya begini, karena sudah capek dan ingin sekali beristirahat dikamar, saya diantarkan oleh seorang tukang ojek ke hotel ini. Abang ojeknya baik sekali, dan kami pun terlibat dalam obrolan demi obrolan tentang segala hal.

Sewaktu check-in, saya memilih kamar dengan harga 100 ribu/malam. Yah, untuk melepas lelah dah menanti jadwal keberangkatan besok pagi saya rasa sudah cukup memadai. Setelah menyerahkan KTP dan membayar (disaksikan oleh abang ojek), saya kemudian naik ke kamar sambil dibantuin sama si abang ojek ini.

Nah, masalah muncul ketika saya mau check-out keesokan paginya. Bermaksud  meminta KTP saya ke resepsionis eh kok saya dikasih tagihan kamar lagi? Menurut mereka saya belum membayar biaya kamar. Padahal jelas-jelas saya sudah membayar dan disaksikan oleh abang ojek saya.

Karena malas berpolemik takut ketinggalan pesawat lagi akhirnya saya mengalah dengan membayar sebesar 100 ribu lagi. Si abang ojek saya juga kelihatan marah sekali sama resepsionis hotel itu. Tapi, ya sudahlah, anggap saja bumbu-bumbu perjalanan, bukan?

Pelajarannya, bila menginap di hotel, setidaknya mintalah kwitansi pembayaran bila sudah membayar biaya kamar saat kedatangan.

Waktunya pulang
Waktunya pulang

Bang Silalahi kemudian mengantarkan saya ke terminal bandara Polonia (saat itu). Dia bergegas pamit karena harus mengantar anaknya ke sekolah.

Perjalan mengarungi keindahan Aceh Singkil hingga Air terjun Sipiso-piso harus saya akhiri. Semoga suatu saat saya bisa kembali menikmati keindahan alam semesta di salah satu ujung Pulau Sumatera ini. Semoga.

***
Mengunjungi air terjun Sipiso-piso ini adalah cerita perjalanan saya saat mengunjungi Medan—Aceh Singkil—Toba medio 2012 yang lalu. Terdapat beberapa informasi terkait harga atau lainnya yang mungkin tidak relevan lagi saat ini.

Penganut Pesan Kakek "Jadilah pejalan dan belajarlah dari perjalanan itu". Suka Jalan-jalan, Makan-makan, Poto-poto dan Buat Video. Cek cerita perjalanan saya di Instagram dan Youtube @lostpacker