Berani bermimpi dari Air Asia Indonesia

12
Bali adalah destinasi penerbangan pertama saya

Gumpalan awan terlihat bagaikan kapas yang terususun rapi di bawah sana, sementara di ujung cakrawala langit juga membiru seperti tengah memamerkan sebuah lukisan indah karya maestro kenamaan. Sementara itu di dalam sebuah burung besi dari maskapai Air Asia Indonesia , terlihat seorang anak muda terlihat tegang sekali. Hilir mudik penumpang dan crew pesawat tidak dihiraukannya. Entah apa yang ada di benaknya sehingga muka pucatnya lah yang di pamerkannya saat itu.

Pemuda itu adalah saya, itu kali pertama saya menaiki sebuah armada dari Air Asia Indonesia yang dulu hanya bisa saya bayangkan dalam angan. Dan penerbangan ini juga yang membawa saya menuju ke pulau dewata, juga untuk pertama kalinya.

Penerbangan pertama landing di Bali
Penerbangan pertama landing di Bali

Penerbangan Jakarta-Denpasar yang hanya sesaat saya rasakan sangat lama sekali. Apalagi hilir mudik penumpang lain menambah kekalutan saya kian menjadi. Saya tidak tahu kenapa, yang jelas waktu itu saya takut naik pesawat. Tapi keinginan menggebu untuk menginjakkan kaki di pulau yang agung itu membuat saya memberanikan diri untuk naik pesawat.

Itu adalah sekelumit kisah perjumpaan pertama saya dengan pesawat. Dan Air Asia Indonesia adalah pesawat pertama yang membuat saya akhirnya berani bermimpi untuk bisa menjelajah lebih jauh lagi mengunjungi ibu pertiwi yang ada di ujung negeri sana. Jika biasanya saya hanya berani dan mampu bepergian dengan menggunakan jalur darat saja, kini saya sudah berani mengalahkan rasa takut saya sendiri ketika berada di dalam sebuah pesawat.

Norak gak papa lah yang penting sampai Bali ha ha
Norak gak papa lah yang penting sampai Bali ha ha

Dan berawal dari kisah kecil itu, harapan saya untuk berkeliling ke segala penjuru mata angin yang ada di bumi ini semakin menggebu. Dan dari kisah itu juga saya selalu rindu menyapa debu jalanan, terik matahari dan orang-orang asing yang selalu menatap curiga di setiap tempat yang saya singgahi. Serta dari kisah perjumpaan saya dengan Air Asia Indonesia untuk pertama kalinya itu juga, mengenalkan saya pada sebuah dunia baru, yakni sebagai penulis perjalanan.

Bukankah adagium W.somerset Maugham pernah berceloteh seperti ini

“ Kalau ingin jadi pengarang, pergilah ketempat yang jauh, atau ,merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang di dapat”.

Dan dari situlah saya berani bermimpi untuk menjadi penulis perjalanan lepas. Karena saya beranggapan bahwa menjadi penulis perjalanan, saya akan lebih gampang melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
program go holiday nya sangat kerenn

Sebuah perjalanan bukanlah hanya sekedar untuk gagah-gagahan saja. Bukan hanya sekedar rasa bangga sudah mendapat tiket penerbangan termurah, atau hostel termurah saja, bahkan gratisan. Lebih dari sekedar itu banyak sekali hakekat dari sebuah perjalanan.

Dengan melakukan perjalanan saya bisa bersyukur atas nikmat yang sudah di berikan oleh Tuhan, itu kenapa dulu kakek selalu meminta saya untuk menjadi pejalan di setiap akhir dongengannya ketika saya sudah siap beranjak  tidur.

“Jadilah pejalan le, dan belajarlah dari perjalananmu”

kira-kira begitulah makna dari setiap dongeng manis yang selalu di perdengarkan kepadaku.

Semua manusia pasti punya mimpi besar, apalagi kaum lelakinya. Menjadi seorang pemberani memang selalu di mulai dengan bermimpi. Columbus misalnya, ketika mimpinya begitu bergelora, pergilah dia melakukan ekspedisinya hingga akhirnya dia menemukan sebuah benua baru.

Tiga tahun lalu saya juga bermimpi bisa menapaki setiap jengkal tanah di bumi Nusa Tenggara. Dari sebuah mimpi itu saya bekerja keras untuk mewujudkannya.

Dan Tuhan ternyata tidak pernah tidur dan senantiasa memeluk mimpi-mimpi kita. Hingga akhirnya saya bisa mewujudkannya, yakni menapaki setiap sudut-sudut yang ada di Nusa Tenggara sana dalam perjalanan yang hampir memakan waktu selama tiga bulan lebih itu.

Dari sebuah perjalanan sungguh banyak ilmu yang tidak diajarkan di sekolah
Dari sebuah perjalanan sungguh banyak ilmu yang tidak diajarkan di sekolah

Ketika satu mimpi kita sudah tercapai, pasti ada mimpi-mimpi besar lainnya. Dan mimpi besar saya dari dulu yang belum tercapai itu adalah Nepal dan Makkah. Dua tempat itu selalu saya gantungkan di angan agar bisa meraihnya. Saya yakin Tuhan tidak akan pernah tidur, ketika kita berusaha untuk mewujudkannya, pasti akan selalu ada jalan yang di kasih oleh Tuhan.

Suatu saat ketika dalam perjalanan keliling Nusa Tenggara bulan lalu, ada sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab dari seorang sahabat baru yang saya temui di jalanan.

“Susah-susah naik motor tiga bulan lebih seperti ini mau cari apa sih mas?”

dan saya pun tercekat,  dalam hati saya hanya bisa bergumam, terlalu banyak yang harus saya ceritakan kenapa saya rela bersusah payah melakukan perjalanan ini. Kalau mau tahu apa yang di cari seorang pejalan, maka jadilah pejalan juga, niscaya kamu akan medapatkan jawaban dari setiap perjalananmu.

Simbok naik pesawat pertama kali..
Simbok naik pesawat pertama kali..

Dari kisah-kisah kecil itulah saya merasa bersyukur sudah kenal dengan maskapai yang identik dengan warna merah ini. Dengan maskapai inilah saya juga bisa mengajak simbok saya yang dulu hanya bisa bermimpi bisa naik pesawat akhirnya kesampaian. Dan saya yang berangkat dari anak seorang janda penjual sayur mayur di emperan toko pasar Rogowangsan, sebuah kota kecil di pantai utara Jawa ini akhirnya berani menggantungkan mimpi setinggi kepakan sayap Air Asia Indonesia yang terbang tinggi di angkasa.

Namun dari itu semua saya masih berharap, maskapai yang sekarang melebarkan sayapnya menjadi Air Asia Indonesia ini bisa menjebatani para anak negeri ini yang ingin menengok ibu pertiwinya di ujung negeri sana. Semoga rute-rute domestik kembali di hadirkan lebih banyak lagi seperti dulu, bahkan di tambah. Karena dengan membuat pejalan suatu negara melakukan perjalanan di negeranya sendiri, otomatis selain rasa naionalisme nya yang tumbuh, maka pemerataan ekonomi dan kesejahteraan juga akan menjadi dongeng manis yang kelak bisa kita ceritakan ke anak cucu.

Cerita ini saya tulis dalam rangka ikut meramaikan Ulang Tahun Maskapai Air Asia Indonesia yang ke-10.

https://www.facebook.com/notes/airasiaindonesia/kompetisi-blog-10-tahun-airasia-indonesia/810741058958974

12 COMMENTS

  1. Hahaa.. aku aja naik motor sebulan lebih dikit Jogja-Labuan Bajo, sering ditanya mau cari apa. Apalagi kamu kak, 3 bulan.
    Video Kembara keren!

Komennya disini ya..