Menyusuri jalur Waikabubak – Purukambera di Sumba

9

“din din din” bunyi klakson mobil terdengar berkali-kali, sementara saya masih asik menonton sebuah acara tv di dalam rumah. “itu kali mas travel nya” celetuk Ratih, dan benar di depan rumah yang sudah menaungi saya selama berada di Sumba Barat ini telah menunggu sebuah mobil dengan tulisan SINAR LOMBOK di badan mobilnya.

Hari ini adalah hari terakhir saya berada di Sumba Barat. Sedih rasanya harus meninggalkan segala kenangan dan keindahan yang sudah terukir selama seminggu lebih. Menyesapi keindahan-keindahan yang di tawarkannya seolah saya berada di sebuah negeri yang dipenuhi oleh keindahan-keindahan di dalam nya.

Sinar travel
Sinar travel

Tapi ada awal pasti ada akhir, dan saya berharap ini bukan lah sebuah akhir petualangan saya di Sumba Barat. Suatu saat saya harus kembali kesini dan memeluk kembali segala keindahan yang pernah maupun yang belum saya jelajahi.

Sinar Lombok adalah sebuah jasa travel yang melayani rute Waikabubak (sumba barat) – Waingapu (sumba timur). Pagi ini saya akan menumpang travel ini untuk kembali ke Waingapu. Setelah memasukkan tas carrier saya yang terlihat penuh sesak ke bagasi mobil, saya pun berpamitan ke para sahabat baru yang ada di rumah. Lambaian tangan mereka mengantarkan saya meninggalkan ini semua.

sepanjang perjalanan
sepanjang perjalanan

Sinar lombok melaju di jalanan, saya melemparkan pandangan keluar jendela. Tugu kuda yang menjadi lambang kota Waikabubak ini juga masih tetap membisu, sebuah lapangan bola juga seolah telah bersaksi atas beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di sana, Sebuah gereja terlihat begitu anggun di sudut jalan. Ahhh saya hanya bisa tertunduk harus meninggalkan kota kecil yang damai ini.

Mobil masih melaju dengan kecepatan tinggi, di kanan kiri jalan bukit-bukit hijau khas Sumba terlihat sangat indah. Saya hanya bisa mengabadikan momen-momen tersebut kedalam sebuah kamera digital saya hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah makan sederhana bernama “Lembah Hijau”. Rumah makan yang sama dengan rumah makan yang saya singgahi ketika menempuh perjalanan dari Waingapu menuju ke Waikabubak. Menu yang saya pesan juga masih sama, sepiring nasi lengkap dengan tumis bunga pepaya dan sepotong ayam kampung. Kuah kaldu juga melengkapi menu makan siang saya kali ini.

Kalau musim kering ini jadi ladang penggebalaan
Kalau musim kering ini jadi ladang penggebalaan

Di rumah makan tersebut saya sempat berkenalan dengan pak Frans. Seorang saudagar dari kota Waikabubak. Anehnya beliau menyapa saya dengan bahasa Inggris dengan logat Jawa.  Beliau adalah seorang warga negara Indonesia dari etnis Tioanghoa.  Setelah saya menyebutkan nama akhirnya malah beliau mengajak saya ngobrol dengan bahasa Jawa.

Rupanya pak Frans sedang membawa beberapa hasil bumi untuk di jual di tokonya di kota Waingapu. Ada berbagai macam sayuran dan beberapa kardus palawija hasil bumi. “Sumba Barat itu subur mas bila dibandingkan dengan Sumba timur” begitu beliau berseloroh.

Setelah beberapa saat ngobrol dengan beliau, saya baru sadar ternyata sang bapak Frans ini juga seorang petualang. Datang dari kota Surabaya puluhan tahun yang lalu ke Waikabubak akhirnya Beliau bisa mengembangkan bisnis nya di ibukota Sumba barat itu. Jadwal pesawat dan kedatangan kapal di Sumba juga beliau sangat hafal. Banyak juga kota-kota di nusantara ini yang sudah beliau Singgahi. Asal ngobrol tentang sebuah daerah ternyata kami juga sama-sama sudah menapak kan kai di sana.

danau di sumba
danau di sumba

“Pir Berhenti sebentar” kata beliau kepada pak supir yang terlihat nurut sekali dengannya. Saya fikir beliau hendak membuang air kecil atau melakukan sesuatu di luar sana, namun dugaan saya salah. Dengan semangat beliau membukakan saya pintu mobil dan menyuruh saya keluar untuk memotret sebuah bukit yang terlihat indah di seberang jalan. Oh Tuhan saya hanya bersyukur dan langsung keluar menuju tepi jalan untuk memotret keindahan yang ada di depan mata saya. Kalau boleh mengutip petuah dari sahabat saya sang rocker sejati Nuran “Tuhan selalu melindungi para pejalan” saya kembali merinding. Berkali-kali saya membuktikan petuah itu selama petualangan saya di pelosok-pelosok Nusantara ini.

disuruh berhenti pak Frans dan motret Waingapu dari atas
disuruh berhenti pak Frans dan motret Waingapu dari atas

Mobil beberapa kali berhenti dan pak Frans menyuruh saya memotret. Semua penumpang juga kelihatan asik dan berteriak-teriak sambil menunjukkan lokasi yang bagus buat saya memotret. Tidak ada satupun penumpang yang terlihat jengkel dengan ulah saya dan pak Frans. “nanti kan kalau semua orang tahu keindahan Sumba mereka akan kesini, dan SUmba akan rame, Travel Sinar Lombok juga akan penuh terus bangkunya” begitu beliau berseloroh ketika kami semua larut dalam canda dan tawa selama perjalanan.

Tiba di Waingapu sudah lewat tengah hari. Saya kembali menginap di hotel Elvin, masih dikamar yang sama seperti pertama saya menapakkan kaki di bumi Sumba ini. Travel Sinar Lombok mengantar saya sampai lobi hotel. Setelah menurukan semua barang bawaan, saya berpamitan kepada semua penumpang yang asik itu, tak terkecuali pak Frans. Beliau memeluk saya ketika saya berpamitan kepadanya. Sungguh pengalaman yang luar biasa sekali selama perjalanan tadi.

Waingapu siang itu terasa panas sekali. matahari seolah sedang memuntahkan panasnya ke bumi. Seorang recepcionist menerima saya. “gimana pasolanya pak?” sapaan ramah yang saya dengat ketika saya mendekati mejanya. Dia mempersilahkan saya dengan ramah memasuki sebuah kamar standart bertarif 88.000/malam, setelah itu dia berpamitan sambil menutup pintu kamar.


 

Beli tiket kapal
Beli tiket kapal

“Rel bisa anterin saya jalan-jalan lagi gak siang ini” begitu bunyi sms yang saya kirimkan ke Arel, Seorang pemuda lokal sahabat baru saya yang minggu lalu mengantarkan saya berkeliling Sumba. “Siap Bos” balasan yang membuat saya tidak berfikir dua kali untuk mencari moda transportasi lain. Tidak selang berapa lama dia sudah duduk manis di sebuah kursi di teras kamar saya.  ” Yok jalan sekarang ” ajak saya yang di balas dengan beranjaknya dia dari kursi itu.

“Ke Kantor Pelni dulu ya Rel” pinta saya. Besok pagi saya akan menyeberang dengan menggunakan kapal Pelni ke pulau Flores. Berhubung tiket pesawat dari Waingapu ke Ende masih terbilang Mahal bagi saya, akhirnya saya memilih moda transportasi laut. Meskipun agak lama sedikit tapi saya bisa berhemat karena petualangan ini masih jauh.

Setelah mengantongi selembar tiket kapal KM. Wilis yang akan berangkat ke Ende esok pagi, Saya mengajak Arel ke sebuah pantai yang di pernah di rekomendasikan seorang teman. PuruKambera, sebuah pantai pasir putih yang berada tidak jauh dari Waingapu. Rutenya adalah melewati kawasan wisata LondaLima terus lagi.

Kuda kuda liar sumba
Kuda kuda liar sumba

Pemadangan menuju kesana juga terlihat luar biasa sekali. Bukit-bukit kapur yang di selimuti oleh rerumputan hijau, terlihat berkilau karena di timpali oleh pantulan sinar matahari sore. Kuda-kuda liar juga terlihat asik sekali merumput di bukit-bukit pinggir pantai. Saya senang sekali menyaksikan kuda-kuda itu merumput, terkadang mereka juga saling kajar satu sama lain.

Mendung menggelayut makin menghitam, Tepat ketika saya sampai di Purukambera hujan turun. Di bawah pepohonan rimbun kami berteduh. Lebih dari satu jam rasanya saya menunggu hujan reda. Arel bercerita tentang apa aja, mulai dari nenek moyangnya yang berasal dari pulau Sabu, hingga tentang pacar nya yang diberinya kejutan waktu hari Valentine beberapa hari yang lalu.

Mendung gelap
Mendung gelap

Setelah Hujan reda, saya bergegas ke pantai dan mengabadikan pantai indah itu meski cuaca sangat tidak mendukung. Pantai pasir putih ini terlihat panjang sekali. Pohon-pohon cemara terlihat mendominasi vegetasi disana. bentuk pantainya yang landai tentu ana menjadi lokasi yang cocok sekali untuk bermain air. Duduk sejenak di pasir putih sambil menikmati pemadangan alam sore itu sungguh luar biasa sekali.

Puru kambera
Puru kambera

Sementara itu di belakang saya sinar matahari sedikit memancarkan bias nya walaupun terhalang oleh bukit-bukit. Beberapa lagu di playlist saya mengalun dengan indahnya. Kalau saja Arel tidak  menepuk bahu saya dan mengajak pulang, mungkin saya akan khilaf dan artinya kami akan kemalaman serta harus menempuh rute pulang yang gelap dan sepi.

Setelah menyantap makan malam di sebuah warung sederhana akhirnya Arel mengantarkan saya kembali ke Hotel.  Sebelum pulang saya mengingatkan dia untuk jangan sampai terlambat besok pagi. Besok pagi sebelum berangkat meninggalkan kota Waingapu saya ingin memotret monumen selamat jalan yang ada di luar kota Waingapu. Sebuah Gapura yang diatas nya berdiri sebuah patung seorang ksatria Pasola lengkap dengan kuda dan tombak nya.


 

Pagi Menjelang dan Arel sudah ada di depan hotel, saya sudah membereskan semua barang bawaan saya. “Jadi ke patung kuda bang?” tanya dia. Saya hanya menganggukan kepala sambil buru-buru naik ke boncengan motornya. Motor melaju meninggalkan kota Waingapu menuju sebuah tugu selamat jalan yang sering disebut patung Kuda. Pagi itu sedikit mendung sehingga matahari tidak mengeluarkan pancaran keindahannya. Seteleh merekam keindahan pagi itu di patung kuda saya bergegas membereskan semua barang bawaan saya.

Pagi di tugu pasola
Pagi di tugu pasola

Sambil melirik jam tangan yang saya kenakan ternyata sudah hampir jam 08:00, itu artinya saya sudah harus berada di pelabuhan untuk naik ke kapal yang akan membawa saya menyeberang ke pulau Flores. tidak membutuhkan waktu lama buat saya untuk sampai ke pelabuhan kota Waingapu. Km Wilis sudah terlihat bersandar di pelabuhan.

Setelah berpamitan ke Arel dan memberikan sejumlah rupiah sebagai ganti uang bensin motor nya saya bergegas menaiki kapal.

Arel terlihat melambaikan tanggan nya sambil berteriak “Hati-hati bang, di tunggu kedatangannya ke Sumba lagi”. Saya membalas lambaian tangan  sambil berkata dalam hati “Insyaallahhhhh

Saya masih ingin memeluk Sumba, bercengkrama dengan anak-anak kampung Hupumada, menyambangi bukit-bukit indahnya, bermain di pantai pasir putihnya, berlarian bersama kuda-kuda liar disana, suatu saat nanti. Tangga Kapal sudah diangkat dan kapal akan segera berlayar.

Selamat Tinggal Sumba, tunggu kehadiran saya kembali.

9 KOMENTAR

  1. Udah beberapa tulisan aku ikuti tapi selalu gagal kalau mau kirim komentar gara-gara sinyal di Sumba Barat lemot ampun.. moga-moga yang sekarang ini bisa masuk hehehehe….
    Bener-bener perjalanan yang mengesankan mas.. seneng liat mas melakukan perjalanan ke tempat2 yang aku belum singgahi, semoga tulisan2 itu bisa menggiring aku mengunjungi tempat-tempat itu

  2. “Tuhan selalu melindungi para pejalan” itu kalimat juga bikin saya merinding, bang. Keren sangat huehehehehe… saya masih iri dengan perjalanan ke Sumbanya! Suatu saat saya juga harus ke tempat ini! 😀

  3. Kang baktiar…SUmba emang emoyy ya Sinyalnya he he, saya juga terinspirasi tulisan-tulisan sampeyan tentang Indonesia Timur kang. Mari saling menginspirasi he he

    Tuteh…Hayo kita jalan-jalan bareng lagiiiiii

  4. Ass. Saya terkesa membaca cerita anda selama di waikabubak, saya penah bertugas di waikabubak selama 3,5 tahun sebagai PNS Kantor Pajak di jalan Bhayangkara. Saya sdh pernah ke kampungTarung, nonton Pasola dan acara acara adat yg pernah saya tonton. Pemandanganyang indah, apalagi kalau menggunakan pesawat, seperti sebuah karpet berwarna hijau…sungguh indah skali. Apabil anda pergi kesebuah hotel yg bernama Nihiwatu, tiada duanya dgn yg ada dinegara paman sam, kita bisa berselancar….Kota Waikbubak sungguh sangat berkesan dan banyak kenangan yg indah. Memang apabila malam hari terasa sepi, kalau kita ditengah kota malam hari terasa ramai. Kota Waikabubak, kota yg membuat saya tahu, bhw Indonesia itu indah, semoga dikemudian hari Kota Waikabubak akan menjadi primadonan pulau Sumba. Salam kenal dari saya,

    • Wah senang sekali bisa dinsa di tempat indah seperti itu, Waikabubak selalu meninggalkan kesan yang dalam bagi setiap pengunjungnya. Terima kasih sharing ceritanya

Komennya disini ya..