Tutut dalam bingkai kenangan masa kecil

19
Setelah di bersihkan, cukup sederhana bumbunya, tapi segarnya tiada tara

Buat saya, pernah hidup di desa itu adalah sebuah anugerah. Bisa merasakan bahagianya ngangon kambing sambil main bareng sahabat-sahabat kecil, bisa merasakan menu-menu khas yang susah di dapat-jika kita hidup di perkotaan. Tutut salah satunya. Binatang yang biasa hidup disawah dan selokan ini, ternyata nikmat sekali di santap dengan brabuk (nasi jagung). Dusun Ngantru, tempat saya tumbuh itu adanya di desa Banjarsari, kabupaten Pati. Sebuah desa yang hampir tiap tahun terendam banjir dan dicumbu oleh kekeringan. Ibarat kata orang tua di kampung dulu “usum udan rak iso ndodok, nek ketigo ra iso cewok“. Jika musim penghujan kita gak bisa jongkok karena kakus-nya kerendam air, ketika musim kering gak bisa cebok karena gak ada air. Terdengar jorok sih, tapi memang benar adanya kondisi kampung saya itu seperti itu.

Selepas ngarit (nyari rumput untuk ternak) ataupun ngangon (menggembala) kambing, biasa saya dan teman-teman mampir ke pematang-pematang sawah yang ada airnya. Jika sawahnya sedang kering, sungai atau saluran-saluran air di persawahan jadi area bermain kami. Sembari berenang dan bercanda biasanya kami sambil mengumpulkan besusul (tutut) kalau orang kota bilang. Satu kantong plastik rasanya sudah cukuplah untuk bekal makan malam bersama simbok dirumah. Biasanya selalu ada bonusnya beberapa ekor yuyu, sejenis kepiting tapi hidupnya di sawah.

Lebaran bareng simbokku
Lebaran bareng simbokku

Tutut biasa di olah menjadi sayur pedas sama simbok. Tugas saya adalah memecah ujung cangkang tutut biar nantinya enak di sedotin jika sudah masak. Kenikmatannya adalah kuahnya yang pedas segar, serta gurihnya daging tutut. Kalau yuyu biasanya di olah simbok jadi bothok, di haluskan bersama kelapa muda dan bumbu, lalu di kukus.
Sudah lama rasanya saya tidak menikmati hiruk pikuk pasar tradisional. Nah beberapa hari lalu, sengaja ingin menikmati pagi di pasar tradisional dekat rumah. Nah di pasar inilah saya menemukan setumpuk tutut segar di meja seorang nenek tua, yang sepertinya sudah bertahun-tahun berjualan di pasar itu.

Niat awal hanya ingin membeli sedikit saja untuk obat kangen. Karena jika kebanyakan juga akan ribet membersihkan dan mengolahnya. Nah ketika saya bilang sepuluh ribu saja, si nenek langsung meraub takaran berupa mangkok kecil dan mulau memasukkan berpuluh-puluh tutut segar itu kedalam plastik. Dan saya pun bingung sambil menanyakan kembali untuk konfirmasi bahwa saya hanya membelinya seupuluh ribu saja.

“tidak apa-apa atuh jang, ini juga nenek sendiri yang mencarinya” sahutan si nenek lengkap dengan senyum sumringah. Nah senyum-senyum tulus dipasar tradisional inilah yang selalu saya rindui. Saya selalu suka dengan aura bahagia yang keluar dari senyum para pedagang yang ada di pasar tradisional. Senyum hangat yang dulu selalu saya lakukan untuk menarik para nyonyah dan pembeli lainnya untuk mampir ke jejeran sayur mayur segar dagangan simbok di emperan kios orang.
Mungkin kehangatan dan ketulusan inilah yang membuat simbok enggan untuk meninggalkan pekerjaannya. Pekerjaan sebagai pedagang sayur di sebuah emperan kios di pasar Rogowangsan Pati. Kalau ditilik dari penghasilan yang cuma tidak lebih dari dua puluh ribu perhari, bukanlah jumlah yang besar. Tapi dari penghasilan jualan sayur di emperan toko inilah, simbok berhasil membuat saya dan kakak menyandang gelar sarjana.

Lebaran-dulu
Mbok Djasmi dan Keluarga

Saya tidak bisa melarang simbok untuk berjualan. Mungkin kenangan dan kehangatan serta canda para sahabatnya itulah yang membuat beliau bertahan dengan keadaan sehat walatiat sampai sekarang ini. Itu juga yang saya rasakan ketika sedang berada di pasar tradisional.
Masa-masa itu memang terkadang sangat ingin kita rengkuh kembali. Masa kecil yang bahagia, walaupun harus bersahabat dengan bermacam ragam kekurangan. Tapi bukankah kekurangan itu yang membuat kita berfikir kreatif untuk bisa keluar dari kekurangan agar bisa hidup lebih layak?

19 COMMENTS

  1. akuuuu kangen mangan tutuuuuuuuuut mas 😀

    jadi inget jaman SMA hampir tiap hari mampir di warung tutut di sendang sani Tlogowungu, bercanda ria ngobrol ma temen dan harga makan tentu saja muraaah..

    sayang saiki wes gag dodolan 🙁 , entah kapan bisa nikmati Tutut lagi

  2. waaah masih ada ya Mas?? klo di kampung yudi, dulu bernama aboee. sama persis seperti itu. sayangnya, seiring dengan perkembangan jaman, Aboee, menjadi langka berganti dengan keong hitam yang beracun dan nggak bisa di makan.

    kini, di beberapa warung nasi aceh besar, hanya menyediakan Cu, Sejenis Keong yang hidup di pinggir pantai,tapi berair payau, bentuknya juga beda, aah jadi kangen masakan masa kecil 🙂

Komennya disini ya..