Titip Rindu buat Pak’e

12

Dua tahun sudah berlalu ketika saya untuk terakhir kalinya dapat memandang dengan haru wajahnya yang tenang dan damai, melapaskannya untuk selama-lamanya menghadap sang Khalik Allh SWT.

Begitu banyak kenangan, keihklasan, ketegaran yang menjadi suri tauladan bagi saya. Tiada lagi yang dapat saya berikan sebagai balasannya atas semua yang di tinggalkannya kepada saya, kecuali do’a memohon kepada-Nyaagar diampuni segala dosa-dosanya, kekhilafannya,  diterima iman Islam nya, di limpahkan rahmat  kepadanya serta mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya.

Bapak adalah guru dari segala guru yang pernah saya jumpai. Beliau mengajarkan kepada saya mengenal Huruf, belajar berbicara, belajar berjalan hingga belajar berpetualang juga sudah beliau ajarkan sejak umur enam bulan lahir kedunia ketika harus berangkat keluar dari kampung halaman nya yang selama ini telah membesarkannya untuk menuju ke pulau sumatra mengadu nasib di perkebunan karet.

Bis Ekonomi yang melayano rute Pati – Peranap (Riau) seolah menjadi saksi. Saksi tentang bocah mungil yang belum genap umurnya enam bulan sejak hari kelahirannya. Namun tuntuan hidup mengharuskannya ikut serta dalam perantauan kedua orang tuanya. Dan bocah itu adalah saya. Banyak sekali cerita yang saya dapay dari bapak, dikala saya menemaninya menakik pohon karey untuk diambil getahnya. Kucuran keringat dan lelah beliau tepis untuk mengumpulkan sekeping dua keping rupiah. Hutang ongkos  bis dari Pati ke Peranap harus segera dilunasi.  Bahkan terkadang ketika musim hujan tiba, hasil getah karet yang bapak dan emak saya kumpulkan tidak mencukupi. Alhasil terpaksa bapak juga harus menicicil tiap bulan diambil dari upahnya selama menjadi buruh di perkebunan karet tersebut.

Kebun karet adalah masa kecil saya. Arena  bermain dan bercengkrama dengan alam sepuasnya. Mengajar anak-anak babi, bermain dengan simpe (anak monyet ekor panjang), mencoba buah-buah hasil hutan hingga belajar berburu.  Namun garis nasib mengharuskan saya juga berpisah dengan emak selama-lamanya.  Kebun karet itu seolah menjadi benang merah dari kisah hidup saya. Saya masih duduk di kelas 1 sekolah dasar saat itu, bahkan arti sebuah kematian juga saya belum terlalu paham.

Mendengar cerita itu semua dari mulut-mulut orang yang sayang kepada beliau, seolah saya ingin kembali memeluk mereka dan membagi kebahagiaan yang saya rasakan kali ini kepadanya.

dan malam ini…

Ketika semua larut dalam doa bersama kepada beliau…

Ketika pemimpin doa mengajak kami melafalkan  LAILAHAILALLAH

Tiba-tiba saya tersedu…

Tanpa terasa airmata menetes satu persatu jatuh ke buku Yassin yang saya pegang…

Tak kuasa rasanya membendung kerinduan saya yang mendalam

Belum sempat rasanya membuat beliau tersenyum bahagia…

Seketika itu juga saya merasakan sebuah pelukan hangat dari samping ..

Ketika saya menoleh saya mendapati beliau tersenyum disana tanpa sepatah katapun..

Saya tidak tau apakah ini halusinasi saya aja atau beliau memang benar-benar hadir disana..

Satu celotehan beliau ketika kami harus pulang ke Pati, ketika lebaran akan tiba. Sebuah celotehan  yang selalu membuat saya meneteskan airmata kalau sedang naik pesawat 

“Nanti kalau kamu sudah berhasil, ajak bapak sama emakmu muleh Pati numpak montor mabur yo le”

Apapun itu alhamdulillah sudah bisa menunaikan amanah beliau untuk terakhir kalinya..

“kalau ada apa-apa bapak mau di “tidur” kan di Pati aja ya le ” pesan terakhir beliau

Bapak memang petualang sejati, hingga di detik-detik terakhir menjelang kepergiannya juga beliau sedang menikmati perjalanan indahnya “pulang” dari pelosok Jambi menuju kampung Halaman nya, Walaupun akhirnya hembusan terakhir nafasnya terjadi ketika beliau sedang “berpetualang” dari Jambi menuju ke Pati.

Petualang Ulung itu pun akhirnya pulang kampung.

12 COMMENTS

  1. dari sepenggal kisah ini, saya langsung tau betapa luar biasanya sosok beliau ini, ya mas. Gak heran darah berpetualang menurun di mas Tiknyo 🙂

    Biasanya fb yang mempertemukan kembali kawan lama…akhirnya, untuk pertama kali ketemu kawan lama lewat blog ^_^

  2. Al fatihah sent ya om.

    Kadang sedih juga kalau inget Pa’e ku yang ndak pernah kulihat karena dah pergi sejak aku kecil.

    But life goes on :’)

Komennya disini ya..