Gambuh, Tari Tradisional Bali Yang Kian Langka. Lihat Indonesia #24

3

Di sebuah siang yang tidak terlalu panas, saya kembali menyusuri sudut-sudut desa seni yang sudah di kenal luas di kancah mancanegara ini. Sebuah gang yang tidak terlalu lebar menuntun langkah saya menuju ke sebuah tempat yang masih melestarikan sebuah drama tari tradisional kuno yang merupakan cikal bakal segala jenis tarian Bali ini.

I Wayan Budiarsa namanya. Pada saat matahari sudah mulai condong ke arah barat, pria Bali ini masih tekun mengajari para ksatria-ksatrai cilik yang sedang belajar menari tarian Bali. I Wayan terlihat gagah bak ksatria dalam memberikan contoh-contoh gerakan kepada muridnya. Tak terkecuali sang murid, merasa tidak mau kalah dengan sang guru, bocah-bocah kecil ini juga tegap membusungkan dada laksana ksatria yang gagah berani.

Satriya Lelana
Satriya Lelana

Dilain waktu saya juga sempat melihat I Wayan Budiarsa ini melatih para penari cilik perempuan. Gerakan-gerakan tangganya terlihat gemulai tapi tetap menyiratkan sebuah kesan indah dari sebuah gerakan tari tradisional.

Sementara itu bocah-bocah kecil di belakangnya khusuk menirukan gerakan-gerakan yang di ajarkan oleh sang guru. Mereka seolah menjelma jadi bidadari-bidadari kecil yang lincah sedang bersendau gurau satu sama lainnya.

Latihan nih..
Latihan nih..

saya sempat mencoba sedikit gerakan dan di bimbing oleh pelatih yang sangat sabar ini. Memang agak susah gerakan-gerakannya. Membutuhkan sebuah ketekunan dan kesabaran yang luar biasa jika ingin mempelajarinya. Tak sembarang orang bisa menguasainya.

Latihan sendiri harus di bawah pengawasan pelatih yang sabar dan berpengalaman. Kesalahan sedikit gerakan bisa menghancurkan keharmonisan keseluruhan dramatari gambuh itu sendiri.

Sebuah sanggar yang tidak bisa dikatakan mewah menjadi tempat I Wayan Budiarsa dan sang bapak yang juga seorang maestro tari tradisional mengajar tarian Bali kepada siapapun yang ingin belajar.

Tujuan nya sangat mulia yakni ingin melestarikan kesenian yang ada di bali, khususnya drama tari tradisional gambuh yang saat ini menjadi tontonan langka di hampir seluruh wilayan Bali.


 

Kesenian tari tradisional gambuh sendiri merupakan sebuah drama tari yang biasa di pentaskan secara komunal. dan biasanya juga tari tadisional jenis ini di pentaskan hanya pada saat upaca-upacara penting saja.

Padahal pada jaman dulu, dimasa keemasan raja-raja Bali, kesenian drama tari tradisional gambuh ini menjadi sebuah tontonan yang sering di pertunjukan. Hampir semua puri mempunya balai pegambuhan, sebagai tempat pementasan seni tari tradisional ini.

Satu hal yang manarik perhatian adalah terdapat di deretan para pengiring musiknya. Seperti di ketahui bahwa drama tari tradisional gambuh adalah sebuah harmonisasi antara gerak tari dan musik pengiringnya.

Yang khas dari tari gambuh adalah beberapa suling yang terbuat dari bambu. Suling yang menjadi instrumen utama dari ansamble gamelan gambug disini beda dengan yang saya sering lihat. Panjangnya hampir 90cm,  Alat musik bambu ini bertugas membawakan seluruh melodi gending, baik tabuh instrumental maupun gending iringan tari. Untuk memainkannya tentu di butuhkan tehnik dan kepekaan musikalitas yang tinggi.

I Wayan Budiarsa
I Wayan Budiarsa

I Wayan Budirsa banyak sekali berkisah tentang perkembangan gambuh. Mulai dari jaman-jaman keemasannya drama tari tradisional ini hingga saat ini yang mati segan hidup tak mau. Tari tradisional gambuh membutuhkan sebuah perhatian khusus dari kita semua.

Jangan sampai suatu hari kelak jika tarian sakral ini di akui oleh negara asing baru kita semua kebakaran jenggot sibuk mengecam ini dan itu. Padahal saat ini menurut penuturan sang bli Wayan ini, justru lebih banyak bule yang belajar tari tradisional ini di sanggarnya.

Sekali lagi saya harus mengela nafas mendengar ini semua.

Sebuah estetika pencapaian yang dulu pernah diraih oleh drama tari tradisional gambuh seolah tergerus tak terurus.

Fungsi utamanya dalam bidang sosial dan keagamaan mulai memudar. Makna-makna kultural dan filosofis yang dulu sempat mengawalnya terpental jauh dan makin embuh (gak jelas). Gelombang globalisasi yang materialis-kapitalistik yang berkembang seolah membuat cikal bakal dari kesenian bali ini berlinangan air mata.

3 COMMENTS

Komennya disini ya..