Sosok Mas Enggar di belakang pulihnya Ekosistem alam Sitiarjo. LihatIndonesia part #16

0
Pantai Watuleter menjadi daerah MPA (marine protective area)

Sebuah jembatan melintang dengah gagah nya diatas sebuah sungai yang damai. Saya tidak tau kenapa tempat itu dinamai Bajul mati, Bajul artinya buaya dalam bahasa jawa. Apakah dulunya di temukan buaya mati di lokasi itu, entah lah

Siang terasa begitu menyengat ketika saya dan rombongan team LihatIndonesia mencapai lokasi tersebut. Sebuah pondokan kecil di pinggir sungai yang letaknya tidak jauh dari jembatan Bajul mati menjadi tempat saya beristirahat sejenak. Matahri seolah memanggang seluruh mahluk bumi yang berada di daerah Sitiarjo tersebut.

Mungkin masih tersimpan sebuah memori tentang sebuah banjir bandang yang meluluh lantak kan beberapa desa di sekitar sini. Air bah tiba-tiba datang menghanyutkan apapun yang ada di sana. Volume sungai tidak dapat menamung limpahan air karena terjadinya pasang di samudra hindia dimana muara sungai ini berasal. Mungkin alam sedang menyeimbangkan dirinya.

Sebutir kelapa muda rasanya nikmat sekali di nikmati pas tengah hari yang menyengat. Sebuah tangga terbuat dari bambu terlihat di depan sebuah pondokan kecil yang saya pakai untuk beristirahat. Mas Enggar dan istrinya terlihat sibuk menerima kami disana dengan senyum dan candaan mereka yang hangat.

Susur sungai Bajulmati untuk memantau ekosistem magrove
Susur sungai Bajulmati untuk memantau ekosistem magrove

Namun ada sebongkah emas yang terpatri di sanubarinya. Keinginan untuk menjaga keseimbangan alam di wilayah Sitiarjo telah merasuki alam dan fikiran nya. Hingga akhirnya sejak 2007 berdirilah sebuah komunitas desa yang di beri nama KOMISOKI (komunitas masyarakat ekonomi solidaritas untuk konservasi). Sejak berdiri pertama kali komunitas ini adalah swadaya masyarakat.

Mereka bersama-sama mulai memperbaiki alam yang ada di wilayah Sitiarjo. Merosotnya jumlah tangkapan nelayan juga merupakan faktor kenapa komunitas ini di dirikan. Analisa dari kemerosotan jumlah ikan yang di tangkap nelayan itu dikarenakan kerusakan lingkungan.Adalah mas Enggar, seorang pria yang sudah menjejak kan usianya pada angka empat puluh an. Berprofesi sebagai pedagang ikan di  Sitiarjo.Sekilas tidak ada yang bisa di banggakan dari sosok mas Enggar. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul dengan siapapun juga biasa saya temui di pelosok-pelosok Indonesia dikala saya sedang melakukan perjalanan.

Sedangkan tujuan dari pilar-pilar konservasi ini sendiri adalah untuk pemulihan alam itu sendiri, dengan pulihnya ekosistem yang sudah rusak dengan sendirinya ekonomi secara keseluruhan juga akan pulih. Selain itu sasaran lainnya adalah wisata edukasi, untuk berbagi ilmu bagaimana cara menjaga alam sekitar dengan baik.Pilar dari kegiatan komunitas ini sendiri diantara nya adalah :

1. Konservasi Manggrove
2. Konservasi Terumbu Karang dan Penyu
3. Kegiatan wisata susur sungai.


Namun siapa sangka jika di pantai ini menjadi tempat idaman penyu untuk singgah dan bertelur. Setidaknya ada 4 jenis penyu yang singgah di pantai ini, Penyu sisik, penyu Hijau, penyu Belimbing dan penyu abu-abu. Meski belum seterkenal Pantai Sukamade yang bisa di pastikan tiap malam ada penyu yang mendarat, Pantai ini juga layak di jadikan tempat pembelajaran segala hal tentang penyu. Bahkan goal dari komunitas Komisoki ini sendiri adalah mendirikan sebuah Rumah Penyu yang terletak tidak jauh dari pantai Watu leter itu sendiri. Di dalam rumah penyu itu sendiri nantinya sebagai tempat penetasan dan tempat penelitian segala hal tentang Penyu di Sitiarjo.

Namun sayang saya dapat kabar beberapa hari sejak di mulai pembangunan nya, rumah penyu yang belum jadi ini di porakporandakan oleh angin yang menyapa kawasan ini.Pantai Watuleter, letaknya tidak jauh dari lokasi pantai Goa cina yang kami inapi dengan berkemah kemarin malam. Pantai ini cenderung sepi dan belum di kenal masyarakat luas. Sekilas juga seperti biasanya pantai, ada pasir putih dan ombaknya yang lumayan dahsyat karena berada di jalur selatan pulau Jawa yang berbatasan dengan samudra hindia yang terkenal dengan ombak nya yang dahsyat.

Dari sosok sederhana mas Enggar ini saya banyak sekali belajar. Dengan sebuah tekad yang kuat pasti Tuhan menuntun setiap langkah kaki untuk sebuah perbaikan alam. Mas Enggar hanyalah mas Enggar, Seorang pria yang lahir di bulan Februari 1972 ini adalah sosok yang patut di jadikan panutan buat generasi muda sekarang. Berawal dan minimnya pengetahuan dia tetap tekun mewujudkan mimpinya memulihkan eksistem alam yang ada di Sitiarjo. Langkahnya semakin mantap dengan penetapan pantai Watuleter menjadi daerah MPA (marine protective area) oleh Kementrian Kelautan dan perikanan Republik ini. Semoga Ekosistem yang ada di Sitiarjo pulih dan tidak ada lagi bencana akibat dari rusaknya ekosistem alam.

Sukses terus mas Enggar dan Komisoki nya.

… dan roda perjalanan team LihatIndonesia berlanjut semakin ke ujung timur pulau Jawa.

Komennya disini ya..