Selamat tinggal pulau Jawa, Lihat Indonesia part #19

10
Bali kami datang

Gelap terlihat memenuhi langit ujung timur pulau Jawa itu. Saya sudah tidak ingat lagi entah sudah hari keberapa perjalanan Jawa-Bali-Lombok ini. Yang selalu teringat adalah sikap ramah orang-orang di kota yang saya singahi.

Beberapa bunyi klakson kapal yang hendak berlabuh atau berangkat sungguh memekakan telinga. Lamunan saya akan indahnya perjalanan dengan hiasan kisah-kisah lucu, unik, dan terkadang sedih seketika buyar dengan bunyi deru mesin kapal dan kerasnya suara klakson kapal.

Masih terngiang rasanya berpisah dengan mas Anto, mbak Novi dan om Eten di sebuah warung pecel lele sederhana tadi. Mereka sudah mengantarkan kami hingga tempat dimana kami harus kembali mencari jalan sendiri untuk melanjutkan perjalanan ini.

Rasa hormat dan terima kasih dari hati yang paling dalam belum sempat terucap rasanya. Tapi bukankah Tuhan tahu setiap isi hati hambaNya, juga buat sahabat-sahabat di jalur yang kami lalui, Garut, Tasik, Jogja, Pacitan, Trenggalek,dan akhirnya Malang. Terima kasih kawan.

Dermaga Ketapang Banyuwangi
Dermaga Ketapang Banyuwangi

Malam itu pelabuhan terlihat ramai seperti biasa. Pelabuhan Ketapang masih menjadi urat nadi pendistribusian barang-barang dari tanah Jawa menuju bumi Dewata di Bali. Terletak di desa Ketapang, Kalipuro, kabupaten Banyuwangi pelabuhan ini menjadi pintu masuk menuju Bali, tak terkecuali kami, team Lihat Indonesia yang sedang melakukan perjalanan dari Jawa-Bali-Lombok.

Beda dengan pelabuhan-pelabuhan lain yang pernah saya kunjungi. Pelabuhan ini terlihat begitu ketat pemeriksaan nya. Beberapa petugas terlihat sibuk memeriksa indentitas kendaraan dan pengemudinya. Saya sedikit khawatir sebenarnya, tidak karena sangkaan teroris kepada kami tapi lebih ke masalah perijinan dan surat-surat kendaraan, dan Alhamdulillah Aman.

Didalam kapal sendiri terlihat begitu riuh sekali. Ada yang sedang menjajakan makanan kecil, tikar bahkan ada sebuah pertunjukan music dangdut di salah satu bagian dek kapal.

Saya hanya berlalu menuju tempat terbuka dan tertinggi. Spot favorit saya ketika sedang berlayar menggunakan kapal ferry seperti ini. Dan ternyata angin di dek paling atas ini mulai kencang, sekencang suara klakson kapal yang kembali memekik karena kapal akan segera berangkat.

Tak berapa lama setelah klakson tersebut hilang dari pendengaran, kapal mulai merangkak meninggalkan dermaga di ujung timur tanah Jawa itu. Tanah dimana etape pertama perjalanan LihatIndonesia ini di mulai, tanah dimana saya menemukan banyak sekali orang-orang baik yang ikhlas membantu perjalanan saya dan team, tanah yang akan selalu saya rindukan untuk pulang dimanapun saya berada, dan tanah yang akan menjadi akhir dari perjalanan ini sepulangnya kami nanti.

Pulau Bali sudah di hadapan, Perjalanan harus terus di lanjutkan. Merekam Indonesia dengan sejujur-jujur nya bukan lah hal yang mudah. Tentu masih akan banyak sekali hal yang akan kami jumpai di Jalanan. Doa dan harapan senantiasa terhaturkan ke hadapan Ilahi.

Halo Bali, Kami datang!

10 COMMENTS

  1. Fantastic site you have here but I was curious if
    you knew of any community forums thyat cover the same topics discussed in this article?
    I’d really love to be a part of group where I can get feedback from other knowledgeable individuals that share
    tthe same interest. If you have any suggestions, please llet
    me know.Appreciate it!

Komennya disini ya..