Enjoy Makassar, Sekali layar terkembang pantang biduk kembali ke pantai

0
Sunset di Makasar

“Dulu kota ini namanya adalah ujung Pandang, namun biar lebih familiar dan menjual maka diantilah nama ujung pandang dengan makasar” begitu yang saya dengar dari pak Emir yang menjemput saya di bandara Hasanudin Makasar.

Sembari pak Emir bercerita panjang lebar tentang Makasar saya lebih suka melempar pandangan keluar jendela mobil, melihat aktifitas penduduk di sepanjang jalan dan rumah-rumah adat Bugis yang ujung atapnya bersilang, sekilas mengingatkan saya pada tipe rumah-rumah melayu yang pernah saya temui di propinsi Riau.

Orang Bugis mempunyai filosofi sekali layar terkembang pantang biduk kembali ke pantai, mungkin karena filosofi itulah hampir di seluruh pesisir nusantara kita bisa menemukan orang-orang Bugis yang berprofesi sebagai nelayan, jadi dapat disimpulakn bahwa suku Bugis adalah suku penjelajah.

Benteng Rotterdam
Benteng Rotterdam

Setelah melepas lelah sejenak di sejuknya ruangan hotel, niat untuk berkeliling Makasar kembali menggebu, dah karena waktu sudah sore hari maka diputuskan untuk mengunjungi benteng Rotterdam yang terletak tidak jauh dari hotel Pantai gapura tempat saya menginap. Sore itu cukup ramai sekali keadaan di benteng tersebut, mungkin karena libur terakhir sebelum bulan Puasa, jadi kebiasaan di hampir seluruh negeri ini memuaskan diri dengan sekedar mengobrol sambil menunggu matahari terbenam di ufuk cakrawala. Bangunan benteng sendiri banyak yang tidak terawat, bekas penjara pangeran diponegoro juga masih bisa kita lihat di benteng tersebut. Memandang lautan dari puncak benteng ini kita akan bisa melihat pemandangan yang luar biasa indah, dengan matahari mulai beranjak turun ke peraduannya.

Menikmati senja di BALAIRATE SUNSET BAR hotel pantai gapura merupakan pengalaman tersendiri, memandang sunset ditemani segelas kopi Toraja sungguh kenikmatan yang luar biasa indah. Matahari perlahan turun menuju peraduannya, dan setelah benar-benar tenggelam warna langit sungguh luar biasa, gradasi warna yang sungguh menakjubkan, dalam hati berkata Terima kasih Allah SWT atas nikmatmu ini.

Menikmati Palumara kepala ikan dan gulai kepala ikan kakap merah menjadi agenda kuliner malam kami, semangkuk palumara dan gulai ikan di hidangkan, sekilas seperti biasa saja tapi setelah mencicipi kuah dari palumara ini, rasanya pengen segera melahap semangkuk palumara tersebut, rasa kuahnya yang sedikit asam dengan potongan kepala ikan kakap merah yang nikmat sekali, wah lupa dah capek yang sudah terasa seharian. “lho kok belum di foto?” celetuk temen saya, wah rupanya terbuai dengan nikmatnya palumara terebut saya lupa untuk mendokumentasikan makanan ini. “wah harus pesen semangkuk lagi neh” kataku dalam hati, kebetulan dua teman saya juga baru datang akhirnya dengan pembenaran menemani mereka makan saya memesan kembali semangkuk gulai kepala ikan, bersamaan dengan pesanan palumara teman saya, akhirnya saya punya dokumentasi foto makanan ini.

Lagi asik motret si bapak yang punya rumah makan ini bertanya kepada saya? “untuk apa mas di poto?” kalau untuk majalah tadi kepala ikannya kita kasih yang bagus mas” begitu kata si bapak tersebut, wah sudah lah pak..sudah keburu nafsu, akhirnya saya bisa merasakan nikmatnya kulineran di Makasar.

Kembali dari Bantimurung menuju goa leang-leang juga menambah penyesalan yang tiada tara, bayangkan mobil kami harus merayap dibalakang rombongan gerak jalan anak TK yang langkahnya kecil banget, sementara menurut teman saya yang sudah naik motor mendahului kami panjangnya hampir 10km, rasa cemas ketinggalan pesawat segera merasuki pikiranku, dalam hati selalu berdoa supaya ada keajaiban supaya tidak ketinggalan pesawat pulang ke Jakarta, selang beberapa saat keajaiban itu muncul, rombongan gerak jalan krucil ini berbelok ke jalan lain…Terima kasih Allah, kau telah mengabulkan doa hamba-Mu.

Laju mobil dipercepat mengarah ke bandara, teman saya bertanya “masih sempat makan siang gak?” dan kami pun mampir makan siang dengan menu sup ikan dan kepala ikan bandeng bakar. Setelah makan dengan tergesa kami menuju bandara, dan perjalanan keliling Makasar ini harus berakhir, rasanya kurang puas berkeliling selatan Sulawesi ini, semoga suatu saat akan kembali kesini lagi, Pantai bira, pulau Selayar dan taman laut Takabonerote menjadi agenda kunjungan ke Makasar selanjutya.

Keesokan harinya rencana berlanjut ke pulau Samalona dan mengunjungi komplek wisata airterjun bantimurung dan goa leang-leang. Baru saja memasuki gerbang komplek bantimurung yang merupakan patung seekor monyet pemandangan luarbiasa segera terlihat, bukan luar biasa indah tetapi luar biasa ramainya, seolah seperti sarang semut, saya yang seorang moody segera hilang mood untuk eksplore bantimurung lebih jauh, hanya sekedar melihat seperti apa air terjun yang terkenal dengan taman kupu-kupunya tersebut, namun sayangnya saya tidak menjumpai satupun kupu-kupu disana, malahan banyak kupu-kupu yang sudah diawetkan sebagai hiasan dinding saya jumpai di depan pintu masuk lokasi wisata tersebut. Niat awal ingin meluncur denga ban di air terjun tersbut harus saya kubur dalam-dalam.

Tips :
Jangan pernah ke Makasar dan Toraja pada waktu moment agustusan, di hampir semua jalan ada rombongan gerak jalan yang dapat dipastikan akan memacetkan laju kendaraan anda, bahkan menurut pak Emir jika pas puncak acara jalur dari Makasar ke Toraja bisa ditempuh dalam waktu lebih dari 24jam, padahal rute normalnya adalah 8jam.

Selamat berlibur.

Komennya disini ya..