Saatnya Bertualang

19
Senja

Perut dan tenggorokan saya rasanya terbakar api yang paling panas. Seperti di tusuk-tusuk bara besi dengan ganas. Beberapa kali jatuh tersungkur di parit kecil jalan trans Flores. Untunglah ada seorang bapa tua yang menolong saya untuk singgah kerumahnya. Dia merawat saya dengan welas asih. Dia bopong ransel biru usang saya di pundaknya. Sementara tangan kirinya memapah agar saya bisa jalan dengan seimbang. Saya sudah tidak sadar lagi sedang berada dimana saat itu. Yang saya ingat, petang kemarin saya masih di Kupang, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Aimere, sebuah daerah yang ada di daratan Flores.

Tengah malam saya bertemu dengan beberapa anak muda dari daratan Flores. Mereka sedang asik membicarakan sesuatu. Kebiasaan saya memang selalu tergelitik dengan perbincangan warga lokal seperti itu. Sembari berbincang mereka menawari saya minuman bening dalam botol air mineral.

“Ini sopi paling bagus mas dari Aimere”

Pertama saya menggeleng halus, karena pernah hampir tepar juga dengan sopi di perjalanan-perjalanan sebelumnya. Namun rayuan “sebagai persahabatan mas” akhirnya saya tida bisa menolak. Begitulah lelaki, agak susah berfikir jernih kalau sudah urusa “persahabatan”. Hingga saya lupa pernah punya rekam medis yang tidak bagus dengan radang pencernaan saya.

Malam makin larut, dan entah sudah berapa botol sopi “kepala” yang kami minum bersama. Satu gelas di gilir keliling. Ada satu yang bertugas membagikan teguk demi teguk sopi itu kepada kami berenam.

Pagi menjelang, kapal sudah hampir merapat di dermaga Aimere. Kepala saya sudah pusing sekali. Beberapa kali perut rasanya ingin memuntahkah sesuatu namun saya menahannya. Ibu-ibu yang melihat saya bolak balik kamar mandi dan menimbulkan suara nyaring ketika ingin muntah mengira saya masuk angin atau mabuk laut. Bahkan ada satu nona manis yang menawarkan minyak kayu putih kepada saya. Muka saya pucat, nafas tersengal. Namun saya tidak rela jika harus mati dengan kondisi seperti itu. Rasa menyesal benar-benar saya rasakan saat itu.

Sama-samar saya melihat senyum lelaki renta di samping tempat tidur tikar yang saya pakai. Semula saya mengira itu adalah bapak saya. Namun akal sehat saya segera berbisik, “bolang bapakmu sudah meninggal beberapa tahun lalu”. Saya bahagia sudah mulai sadar. Akal sehat saya sudah mulai berjalan. Lelaki tua itu terus memijit kepala saya dengan ramuan berbau aneh yang belum pernah saya cium sebelumnya. Perlahan-lahan ingatan saya mulai pulih. Lelaki tua itu menyodorkan gelas yang sudah tidak bening lagi berisi teh hangat kepada saya. Perlahan saya meminumnya dan memulihkan kembali akal sehat saya.

“Puji Tuhan kamu sudah sadar nak, kemarin bapak lihat kamu mabok di jalanan dekat pelabuhan, trus bapak bawa pulang”

Saya mengamati lekuk kerut wajahnya. Senyumnya begitu tulus. Di pojok ruangan saya melihat ransel biru usang yang sudah menemani perjalanan saya selama ini. Satu yang saya ingin lakukan saat itu, mengambil air wudhu dan berterima kasih pada tuhan karena masih diberi kesempatan hidup.

Saya beranjak dari tempat tidur, menuju ke sumur belakang rumah. Pak Frans, nama lelaki tua itu sepertinya tidak rela melihat saya yang masih agak sempoyongan. Beliau memapah saya ke sumur belakang. Bahkan ketika saya kesulitan mengocorkan air dari timba, beliau membantu saya mengambil air wudhu.

Saya menggelar sarung warisan dari alamrhum bapak di lantai tanah rumah pak Frans sebagai alas saya ibadah. Beliau meninggalkan saya sendirian di ruangan kecil rumahnya. Sepertinya beliau tau kalau saya ingin menunaikan ibadah sholat. Dan pagi itu, setelah sholat sunnah Taubat beberapa rekaat, airmata mengalir sangat deras sekali. Saya tidak tau  apakah ini ungkapan terima kasih atau penyesalan saya kepada Tuhan. Dan sejak pagi itu 18 bulan lalu, saya tidak pernah meminum alkohol lagi seberapa persenpun itu. Terimakasih Gusti Allah sudah mengirimkan pak Frans untuk menolong saya, walaupun kami punya keyakinan yang berbeda. Kalau boleh mengutip lagunya Marcel “Tuhan itu satu, kita yang tak sama”.

Dan pada sebuah petang yang hangat, pak Frans mengajak saya duduk di dipan bambu yang beliau buat sendiri.

“Minum kopi dulu anak, biar asik ceritanya”.

Panjang lebar kami bercerita. Hingga petang menjelang. Namun satu hal yang membuat imaji saya terusik. Satu pertanyaan simpel yang sampai saat inipun saya kewalahan menjawabnya.

“Anak pergi jauh-jauh daei tanah Jawa ini, apa yang dicari?”

Pertanyaan simpel yang membuat nikmat kopi yang saya minum langsung terasa hambar. Dan pagi ini, hari ketiga perjalanan saya di timur Indonesia, saya kembali menemukan pertanyaan itu. Deru masin kapal Fajar Indah yang saya tumpangi menuju misool, seperti langsung padam ketika saya mendengar pertanyaan itu. Hening dan sepi langsung saya rasakan kembali. Seperti saat pak Frans bertanya pada saat itu.

Memasuki karang-karang yang jadi pintu gerbang Misool
Memasuki karang-karang yang jadi pintu gerbang Misool

Namun satu pesan almarhum kakek dulu waktu saya masih di bangku SD yang hingga saat ini tidak pernah saya bisa lupakan.

“Dadio wong ing paran, lan sinauo teko paran” kalau di terjemahkan salam bahasa Indonesia kurang lebih artinya seperti ini. “Jadilah pejalan/musafir, dan belajarlah dari perjalananmu”.

Satu hal yang selalu menguatkanku untuk kembali menapaki jalanan asing yang belum pernah saya datangi, rindu tatapan curiga dari orang-orang asing yang belum pernah saya jumpai, rindu debu jalanan, rindu sengatan matahari dan rindu bertemu dengan senyum-senyum ramah dari sahabat sebangsa dan setanah air yang tinggal di ujung negeri.

Perjalanan Mempertemukan saya dengan banyak sahabat baru
Perjalanan Mempertemukan saya dengan banyak sahabat baru

Somerset Maugham pernah berkelakar “kalau mau jadi pengarang, pergilah ke tempat jauh atau merantaulah ke negeri orang. Dan tulislan pengalaman-pengalaman yang kamu dapat”. Saya sedang mengikuti saran dari Somerset. Pergi jauh ke timur Indonesia. Bahkan kalau ada sahabat yang bertanya “kapan pulang?” Saya sangat susah untuk menjawabnya. Saya tidak tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Namun satu hal yang kembali selalu saya ingat adalah pernyataan dari mas Golagong, penulis idola saya. “Jadi lelaki memang harus pergi,tapi dia juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi di rumah.

Misool, 12 November – Day 3 #KembaraKeTimur

 

SHARE
Previous articleJeonju Hanok Village
Next articleWELCOME TO PERTH

19 COMMENTS

  1. MasyaAllah……greget baca pengalamannya >.<
    betapapun banyak cerita ini itu mengenai sebuah daerah, saya yakin Allah murah hati menempatkan tangan-tangan panjangnya untuk menolong sesama.

    Sayapun merasakannya beberapa kali. Dan semoga kita bisa menjadi orang yang seperti itu juga. Jaga kesehatan oom!

    • Hati kita akan kaya dengan pengalaman-pengalama yang luar biasa yang itu tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah manapun. Jalanan mengajarkan kita banyak sekali hal. mari terus berjalan

  2. Kalau baca tulisamu ini kak, seolah-olah aku ikut perjalananmu juga, membayangkan, dan turut merasakan.

    Jadi ingat satu kejadian, dulu sempat istirahat sebentar di Mataram, ketemu orang asalnya Ambon, beliau bilang ” Tenang saja Indonesia ini paling ramahnya orang, sekali sapa mereka akan bercerita panjang lebar ”

    Pak frans emang baik banget, belum kenal saja sudah tolong dan bantu kamu kak.

  3. merinding pas baca pertanyaannya pak frans. “apa yang membawa mas bolang jauh ke tanah papua ?” saya ingin sekali mengepak barang untuk perjalanan seperti ini semoga ada waktu entah kapan 🙂 tinggal bersama warga sekitar adalah perjalanan dambaan saya. terima kasih sepenggal ceritanya mas bolang 🙂

Komennya disini ya..