Perjalanan Pertama Saya, Jadi Perjalanan Terakhir Ibu

9

Kota kecil di pesisir Jawa itu masih terlihat basah oleh air hujan yang menggenang di beberapa bagian. Sementara itu hilir mudik pengguna jasa terminal tak menghiraukan kaki dan sepatunya basah oleh genangan air bekas hujan tadi. Sesosok bocah laki-laki kecil yang terlihat masih duduk di bangku sekolah dasar terlihat menggigil dengan wajah pucat pasi. Sementara sang ibu, berusaha mengeringkan rambut bocah itu dengan sapu tangan yang dikeluarkannya dari tas plastik usang di pangkuannya. Dan bocah itu adalah saya. Sepenggal kisah yang tidak akan pernah saya lupakan. Perjalanan yang akhirnya menjadi kisah perjalanan terakhir saya bersama ibu.

Saya percaya bahwa selalu ada rencana dari Tuhan untuk umat-Nya. Biasanya saya tidak akan berontak, ketika bapak dan ibu harus berpamitan untuk pergi merantau ke tanah Sumatra. Sementara saya dititipkan di rumah saudara, karena harus bersekolah. Bapak dan Ibu rela meninggalkan saya, karena di kebun karet tempat mereka bekerja, tidak ada sekolah. Karena mereka harus bekerja menjadi buruh di hutan kebun karet majikan di pedalaman kota Bangko, Jambi.

Tapi, siang itu sepertinya saya tidak rela untuk ditinggal. Sekuat tenaga saya berontak dan berlari mengejar elf yang membawa ibu dan bapak ke terminal seleko, Pati. Dalam guyuran hujan, saya terus berlari. Hingga akhirnya hujan reda, ketika saya masuk kedalam area terminal yang ramai dipadati penumpang dan para pengantar. Hari itu adalah hari baik untuk bepergian. Sebagai masyarakat Jawa, bapak dan ibu juga selalu mencari hari baik untuk memulai sebuah hajat atau keinginan. Ibu melihat saya dan terus berlari memeluk. Hingga akhirnya hati beliau luluh dan mengijinkan saya untuk ikut serta merantau. Dan itu perjalanan pertama saya ke tempat jauh yang tidak pernah saya fikirkan sebelumnya.

Suasana bis ekonomi penuh sesak. Bangku yang seharusnya dipakai berdua, akhirnya kami pakai untuk bertiga. Sesekali saya dipangku bapak atau ibu. Bocah laki-laki umur 7 tahun,yang sudah duduk di bangku sekolah dasar, seharusnya sudah diwajibkan membayar satu tiket sendiri. Namun permohonan bapak kepada supir bis dikabulkan dengan catatan kami harus berbagi bangku. Karena biaya merantau itupun harus berhutang dulu kepada pak Supir. Nanti pak supir yang akan menagih kepada majikan tempat bapak bekerja. Dan gaji bulanan bapak pun harus rela dipotong untuk membayar biaya perjalanan itu. BB biasanya istilah model seperti itu, bayar belakangan.

Perjalanan dengan bis ekonomi reyot melintasi jalur lintas sumatra bukanlah perkara mudah. Bis berkali-kali rusak, sehingga waktu tempuh perjalanan bisa sampai tiga hari tiga malam. Dan biaya makan yang harus dikeluarkan bapak untuk kami bertiga juga pasti akan membengkak. Tak Jarang kami harus berbagi nasi. beli dua bungkus dimakan bertiga. Bahkan terkadang cuma sebungkus untuk saya dan ibu makan. Sementara bapak rela manahan lapar demi kami berdua.

Sesampainya di Bangko, saya tetap harus dititipkan pada teman bapak yang tinggal di daerah transmigrasi. Daerah SPD namanya kalo gak salah waktu itu. Saya yang sudah mau naik kelas dua saat di Jawa, terpaksa harus mengulang kembali ke kelas satu, karena tidak membawa surat pindah dan persyaratan-persyaratan lainnya yang dibutuhkan. Tinggal bersama keluarga asing yang belum pernah saya temui, bukanlah hal mudah.

Untunglah bapak dan ibu seminggu dua kali datang menengok saya. Hiburan paling indah saat itu adalah bertemu bapak dan ibu setiap rabu sore dan sabtu. Bapak harus rela diboncengi ibu selama hampir 5jam perjalanan dengan menggunakan sepeda jengki yang sudah tidak baru lagi. Bapak tidak pernah menginap, karena memang tidak ada libur dalam kamus kerjanya beliau. Sistem bagi hasil yang tidak menguntungkan dipihak bapak pun harus diterima ,demi menafkahi anak dan istrinya. Saya salut dengan perjuangan beliau. Sementara ibu, rela meninggalkan keluarganya yang berkecukupan, demi cintanya pada bapak.

Minggu kedua setelah perjalanan panjang dari tanah Jawa itu, musibah menimpa keluarga kami. Ibu yang tengah dibonceng bapak dalam perjalanan menuju tempat saya dititipkan, panik melihat ada mobil truck kayu yang jalannya oleng kanan kiri. Sementara bapak masih tetep fokus pada jalanan didepannya. Dalam keadaan panik ibu meloncat, dan kebetulan sang sopir lepas kendali hingga menabrak ibu. Benturan yang sangat keras menyebabkan ibu meninggal di tempat kejadian. Dan hasil penyelidikan polisi, sang sopir dalam keadaan mabuk kala itu.

Desa Karang Birahi, Tempat ibu beristirahat untuk terakhir kalinya

Derai tangis pecah ketika saya masuk rumah sepulang sekolah. Saya dikasih tahu teman bapak tentang peristira itu. Dan kematian adalah hal asing yang belum pernah saya sadari sebelumnya. Dalam dekapan tetangga rumah diatas motor, air mata saya hanya bisa meleleh. Membayangkan bakal tidak ada lagi yang akan menjenguk saya ketika hari rabu dan sabtu sore. Bakal tidak ada lagi yang mengusap rambut basah saya ketika habis main hujan-hujanan. Bakal tidak ada lagi orang yang akan saya ceritain tentang kenakalan teman-teman saya di sekolah. Dan ternyata ini rahasia Tuhan, kenapa saya tidak mau ditinggal dua minggu lalu sebelum kejadian ini. Dan ternyata, perjalanan panjang pertama saya itu, jadi perjalanan terakhir ibu.

Sugeng Ndalu mak, Anakmu kangen. Al-Fatihah

SHARE
Previous articleHidup Mudah Dengan Jenius

9 COMMENTS

Komennya disini ya..