Pancasila Rumah Kita, Dari Ende Untuk Indonesia

12
Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende
Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Pancasila Rumah Kita, Rumah untuk kita semua

Nilai dasar Indonesia, Rumah kita selamanya

Untuk semua puji namanya, Untuk semua cinta sesama

Untuk semua warna menyatu, untuk semua bersambung rasa

Untuk semua saling membagi

Pada semua insan, sama dapat sama rasa

…oh Indonesiaku.


Lirik lagi lamanya bang Frangky itu terdengar begitu merdu dan syahdu malam itu. Malam dimana semua warga nusantara memperingatinya sebagai hari kelahiran dari Pancasila. Lima dasar negara yang menjadi landasan dalam berkehidupan di negara Republik Indonesia.

Penyalaan obor peringatan hari lahirnya Pancasila oleh Bupati Ende
Penyalaan obor peringatan hari lahirnya Pancasila oleh Bupati Ende

Tidak tau kenapa saya jadi sentimentil sekali malam itu. Mungkin hanya segelintir orang yang ingat bahwa hari itu adalah hari lahir pancasila. Tanpa hadirnya Pancasila, Indonesia beluk tentu seperti ini.

Dan malam ini, dibawah pohon sukun lima cabang, saya berdiri terpekur. Membayangkan bagaimana dulu bung Karno duduk di bawah pohon itu. Hingga akhirnya dari bawah pohon itulah Pancasila tercetus.

Semua hening ketika detik-detik penyalaan obor peringatan hari lahirnya Pancasila akan di mulai. Bupati Ende yang malam itu memimpin acara peringatan di daulat untuk menyalakan obor bersama regu Pramuka.

Joged Gawi bersama di lapangan pancasila
Joged Gawi bersama di lapangan pancasila

Setelah obor peringatan lahirnya Pancasila menyala, hening mulai mencair. Dan kondisi lapangan pancasila malam itu kembali hingar bingar. Musik mengalun mendendangkan lagu-lagu daerah dengan irama beat yang asik untuk menari. Tiba-tiba tangan saya di tarik untuk ikut membuat lingkarang besar dilapangan.

“Mama saya tidak bisa menari” elak saya pada ajakan seorang wanita setengah baya di tengah lapangan.

“Tidak apa-apa adik, Manari Gawi sangat mudah kok” jawaban sang mama yang membuat saya mulai antusias untuk ikut menari.

Dengan satu dua kali latihan gerakan, akhirnya saya bisa ikutan menari Gawi.

Menari Gawi Bersama
Menari Gawi Bersama

Tidak jauh beda dengan poco-poco atau sajojo sebenarnya. Gerakannya hanya pengulangan dari gerakan-gerakan sebelumnya.

Satu hal yang bisa saya garis bawahi dari tarian ini. Semua bergandengan tangan dan melakukan gerakan yang sama. Tidak ada perbedaan yang terlihat. Dari bupati hingga rakyat biasa bergandengan tangan membentuk satu lingkaran dan melakukan gerakan yang sama. Sama halnya dengan sila ke tiga dari pancasila yakni “persatuan indonesia”.

Patung Bung Karno di Taman Pancasila Ende
Patung Bung Karno di Taman Pancasila Ende
Nonton Bareng film Ketika Bung Di Ende
Nonton Bareng film Ketika Bung Di Ende
Bung Karno dan Pohon Sukun Lima Cabang
Bung Karno dan Pohon Sukun Lima Cabang

Malam ini saya dan teman-teman blogger serta media yang hadir bersama rombongan kementerian Pariwisata terlihat bergembira. Semua bersyukur atas nikmat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila hadir sebagai landasan berkehidupan dan berbangsa. Pancasila Rumah Kita, Dari Ende Untuk Indonesia.

12 COMMENTS

  1. Sudah beberapa tahun terakhir ini saya membaca buku-buku tentang Bung Karno, mencari pembenaran. Seorang bapak bangsa yang tak sempurna, tapi jasa-jasanya dikerdilkan selama masa rezim orde baru. Baru pada zaman Gus Dur, nama Bung Karno mulai digaungkan lagi. Tanpa bermaksud apa-apa, jelas Bung Karno jauh lebih dicintai dan dirindukan rakyatnya hingga sekarang :’)

Komennya disini ya..