Hari pertama menyapa Bali. Lihat Indonesia part #20

2
Khusuk, taken by Sigma 70-200 F2.8

Malam  masih memeluk perjalanan saya dan team Lihat Indonesia di pulau Dewata. Aspal hitam tanpa garis pandu di tengahnya seolah memaksa indera penglihatan kami untuk tetap waspada melalui jalur di bagian barat pulau Bali ini. Namun rasanya kantuk sudah tidak dapat di tahan, dan sebuah pom bensin menjadi tempat kami melepas penat sejenak menghimpun tenaga untuk kembali melanjutkan perjalanan nantinya.

Team Lihat Indonesia sudah memasuki pulau Dewata. Pulau yang menjadi idola bagi setiap pejalan. Pulau yang membuat saya juga merasa aman dan nyaman berada di atas nya. Pulau yang sebagian orang mengkultuskan nya sebagai pulau Dewata, yakni tempat bersemayamnya para Dewa, atau Island of the Gods. Bahkan beberapa orang juga menjuluki nya sebagai pulau seribu pura, karena memang di setiap tempat kita bisa menemukan tempat suci peribadatan umat Hindu ini.

Dingin terasa begitu menusuk tulang. Beberapa sahabat saya memilih untuk merebahkan tubuhnya tetap di jok mobil, tapi rasanya saya ingin melepas penat sambil meluruskan punggung barang sejenak. Di pojokan pom bensin ini ada sebuah ruangan kecil dengan tulisan “Mushola”. Namun ketika saya masuk ternyata mushola ini seolah gak pernah terpakai. Memang mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk Hindu, tapi satu hal yang membuat saya bahagia adalah mereka tetap menyediakan sarana ibadah umat lain di fasilitas umum nya. Dan saya pun meringkuk di dalam mushola tersebut barang sejenak sampai seseorang membangunkan untuk melanjutkan perjalanan.


Perjalanan dari Gilimanuk menuju ke Tabanan biasanya tidak lebih dari 3 jam, namun kondisi macet membuat perjalanan kami hingga menempuh lebih dari 6 jam. Akibatnya beriringan dengan terbitnya matahari kami baru sampai di rumah Made aditya, salah satu anggota team LihatIndonesia yang memang berasal dari Bali tapi status nya sudah BALI.

Seperti biasa saya selalu takjub dengan konsep rumah-rumah di bali. Ada sebuah ruangan untuk keperluan upacara, ada Pura juga sebagai tempat sembahyang dan beberapa ruangan untuk penguninya. Biasanya satu komplek ini di huni oleh keluarge besar. Jadi hubungan kekerabatan masyarakat Bali satu sama lainnya juga biasanya erat. Konsep-konsep rumah tinggalnya juga ternyata berkaitan erat dengan adat dan kepercayaan mereka sebagai penganut Hindu yang taat.

Negeri Seribu Pura
Negeri Seribu Pura

Sebungkus nasi campur mengganjal perut saya dan kawan-kawan pagi itu terasa begitu nikmat. Makannya di sebuah bangunan Bali dengan ornament khas nya. Dan asiknya lagi kami tinggal dan tidur di bangunan itu untuk sementara waktu.

Tidak ada Agenda khusus yang harus kami lakukan hari itu. Sejatinya hanya ingin menikmati suasana Bali dengan bersantai saja. Namun ternyata kedatangan team Lihat Indonesia di pulau Dewata ini di sambut dengan hangat oleh sebuah komunitas TAFT diesel Indonesia chapter Bali. Belasan orang menghampiri ke kediaman Made di Tabanan. Obrolan demi obrolan menggalir. Rencana demi rencana juga di susun selama team berada di Bali.

Bukan kami saja anggota Team yang butuh rehat sejenak. Dua Taft yang menjadi teman perjalanan kami juga perlu rasanya masuk bengkel untuk menjalani pengecekan kondisi mesin dan lain-lain. Hal ini sangat penting karena perjalanan suci masih jauh. Bali-Lombok-dan menelusuri jalur pulang nya juga pasti membutuhkan kondisi mobil yang prima. Dan sebuah bengkel langganan teman-teman TDI Bali menjadi tempat yang pas untuk “mengistirahatkan” dua tetua teman perjalanan kami itu.

Istirahat dulu ya sobattt
Istirahat dulu ya sobattt

Sementara kedua Sahabat petualang sejati itu menjalani perawatan, kami butuh sebuah mobil pengganti untuk sementara waktu. dan Made berhasil meminjam sebuah mobil keluaran baru untuk menjadi teman perjalanan kami sementara sampai si kedua “tetua” sahabat kami itu pulih dan asik untuk diajak berpetualang lagi.

Muter tak tentu arah akhirnya saya mengusulkan untuk pergi ke Tanah Lot saja, berharap mendapatkan sunset yang sempurna. Akhirnya kami pun Cuzzzz mengarahkan laju mobil menuju Tanah Lot. Dan sore itu ternyata sunset tidak terlalu bergelora di tengah ratusan kepala manusia yang berhimpitan ingin menikmati juga suasana senja di Tanah Lot yang syahdu.


Saya merasa menjadi insan paling beruntung sore itu di Tanah Lot, kenapa karena saya bisa menyaksikan sebuah upacara menyucian Barong yang katanya akan mengadakan pertunjukan keesokan harinya. Keberuntungan saya makin yahud karena saya membawa lensa Tele nan aduhai dari SIGMA Indonesia. Ya Sigma Indonesis telah berbaik hati meminjamkan beberapa lensa terbaiknya untuk saya bawa serta dalam perjalanan suci kali ini. alhasil jeprat jepret dari kejauhan saja sudah asik tanpa menganggu kekhusyukan ibadah mereka. Alhamdulillah.

Sesajian
Sesajian
Bocah Bali
Bocah Bali
khusuk berdoa
khusuk berdoa

Dari Tanah Lot arah laju kendaran mengarah ke destinasi asik buat menikmati malam yang Hingar bingar.. Yihaaaa KUTA LEGIAN am caminggggg.

Note : Thank you Sigma for Amazing Lenses

2 COMMENTS

Komennya disini ya..