Memasuki lorong waktu di Cafe Batavia (Test mobile post)

6

Mengunjungi sebuah mahakarya arsitektur dimasa lalu, selalu membuat saya takjub. Hal ini juga saya rasakan ketika memasuki sebuah cafe di sudut kota tua Jakarta. Cafe Batavia namanya. 

Di tilik dari namanya, sudah jelas bahwa banyak sekali sejarah tentang Batavia tersimpan disana. Tapi yang membuat saya salut adalah, semua sejarah itu masih di biarkan lestari di tengah kemoderenan kota Jakarta saat ini.

Barada di kawasan ramai museum Fatahilah, cafe Batavia selalu menarik perhatian para wisatawan. Terutama adalah para wisatawan dari Mancanegara. Hal ini dikarenakan nama cafe Batavia sendiri banyak di tulis di brosur-brosur perjalanan sebagai tempat hangout asik jika mereka mengunjungi Jakarta.

Gedung tempat cafe Batavia beroperasi ini sejatinya adalah bekas kantor administrasi dari VOC pada jaman penjajahan Belanda dulu. Dibangun pada tahun 1805 dan mulai dioperasikan sebagai kantor administrasi baru pada 1850. Terbayang kan lama pembangunannya. Memasuki pintu utama saya di sambut oleh dua pramusaji yang ramah. Namun yang membuat saya agak janggal adalah rata-rata pengunjungnya bule. Mereka sedang asik menikmati alunan musik jazz yang di mainkan oleh sekelompok anak muda di pojok ruangan. Panggungnya sendiri di desain sangat menarik sekali.

Saya penasaran dengan lantai atasnya. Hampir seluruh ruangan di tempeli foto-foto yang sepertinya menyimpan banyak sekali sejarah. Saya berkali-kali berhenti mengamati foto-foto itu berhatap ada satu foto cewek cantik yang mengerlingkan matajua manja kepada saya. Ruangan atas terdiri terlihat luas. Jendela-jendela besar menghiasi hampir semua sisi ruangan. Beberapa tamu juga terlihat asik menyantap hidangannya. Tiba-tiba saya kebelet untuk buang air kecil yang sudah saya tahan dari tadi. Ini yang membuat saya agak menyayangkan objek wisata kota tua ini. Minim sekali fasilitas kamar kecil.

Saya terkesima dengan desain toiletnya yang masih seperti dulu. Dan yang paling penting adalah bersih sekali. Males banget kan masuk toilet umum kalo kotor dan bauk.

Setelah melihat daftar menunya, akhirnya saya sadar kenapa yang datang ke cafe ini mayoritas wisatawan dari manca negara. Harganya itu loh.. Bir pletok khas betawi aja di bandrol dengan harga 45ribu. Nasi goreng seharga yang tidak jauh beda. Tapi semua terbayar dengan keindahan tempat yang di sajikan. Kalau bicara masakannya sih saya lebih suka masakan kaki lima. Mungkin perut saya lebih cocok kali ya.

Sebelum meninggalkan cafe, sempatkanlah untuk berfoto-foto ya. Karena setting cafenya memang luar biasa sekali. 

Cafe Batavia layak dicoba. Memasuki ruangan demi ruangannya kita seolaj diajak kembali menaiki mesin waktu menuju masa Batavia dulu. Masa dimana bangsa kita masih terjajah oleh Belanda. Masa di mana arsitektur ngetrend di Belanda mulai masuk Indonesia. 

6 COMMENTS

  1. Wah, sempat ada tulisannya…rajinnyaa.. Aku juga pengen nulis padahal sempat ke sini lagi, gak bikin foto2 cakep uy. Bagus banget ya, serasa lagi nongkrong2 di Den Hagg (karena banyak bulenya, haha). Kalau bangunan2 sekitar diolah begini juga kan banyak yang bisa dikunjungi, nih.

Komennya disini ya..