Meko, Pulau mungil nan indah yang diapit 3 gunung api

4
Pulau Meko

Cuaca terasa begitu panas menyengat waktu itu. suasana dermaga kecil itu terlihat sepi. di hadapan saya terbentang hamparan laut yang membiru, sementara di belakang saya berdiri dengan kokoh perbukitan yang terlihat tandus. Sementara dijajaran rumah warga yang tak begitu banyak, ada satu bangunan yang terlihat menonjol Mesjid.

Dermaga kampung Meko

Itulah yang saya lihat ketika pada sebuah siang di sebuah kampung kecil yang letaknya ada di pesisir pulau Adonara Flores Timur. Berasal dari nama kampung inilah, sebuah pulau pasir kecil yang terletak tak jauh dari situ juga dinamai serupa, Pulau meko. Masyarakat Meko mayoritas adalah suku Bajo. Namun sudha kawin mawin campur juga dengan beberapa daerah pesisir di Indonesia. Bapak yang kapalnya kami sewa berasal dari kepulauan Riau nenek moyangnya.

Tempat ini menarik karena terletak diantara tiga gunung berapi, yaitu gunung api Ile Ape yang ada di Lembata, Gunung api Ile Boleng yang berada di Adonara dan satu lagi gunung api Batutara, yang sampai saat ini masih sering menyemburkan lava ke laut. Berada diantara tiga gunung itu rasanya pulau mungil itu menguarkan aura romatisme yang luar biasa.

Jalur dari Tobilota

Perjalanan menuju kampung Meko ini ada dua jalur. Waktu datang pertama dulu saya memakai jalur Waiwerang. Jadi rutenya adalah, naik kapal motor dari pelabuhan Pelni Larantuka menuju ke Dermaga Waiwerang yang ada di Adonara. Dari sana kita bisa melanjutkan perjalanan ke kampung Waiwuring. Jangan salah sebut ya karena nama-nama di daerah ini hampir mirip. Nah dari kampung Waiwuring ini kita bisa menyewa perahu nelayan. Harganya sekitar 300-400 ribu rupiah, itu sudah pulang pergi ya, jadi bapak nelayana-nya nungguin kita.

beningnya dah kayak paha Ceribel belum ya?

Tapi pastikan bapak nelayannya gak ketiduran di perahu seperti saya dulu, jadi harus nunggu sampai jam 9 malam ketika air pasang baru bisa beranjak dari pulau mungil itu karena perahu kami kandas. Jarak tempuh dari Waiwerang ke Waiwuring sekitar 1 jam, sementara dari Waiwuring ke pulau Meko naik perahu juga sekitar 1 jam.

Model dadakan

Jalur kedua yang kemarin saya tempuh adalah Dari pelabuhan Pelni Larantuka saya naik kapal motor menuju dermaga Tobilota di pulau Adonara. Jaraknya gak jauh, hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja. Dari sini baru dah menyusuri jalanan Adonara yang sudah bagus. Hanya beberapa bagian saja yang masih rusak, seperti waktu mau masuk ke kampung Meko. Butuh waktu sekitar 1-2 jam perjalanan dari Tobilota menuju ke kampung Meko. Sementara dari Kampung Meko ke pulau Meko cuma butuh waktu sekitar 15 menit saja naik perahunya. Oh ya, harga sewa perahunya juga murah kok. Per orang di bandrol sekitar 15 – 20 ribu saja. Itu kalau kita datang berbanyak ya, kemarin kami datang berempat, sewa kapalnya sekitar 100ribu saja. Sangat terjangkau dibanding dengan harga dari kampung Waiwuring waktu itu.

Sampai di Meko

Di Kampung Mekko ini belum ada listrik, tapi sudah ada beberapa bangunan baru yang diperuntukan jadi homestay sepertinya. Menurut keterangan masyarakat lokal yang ada disana, homestay ini akan di kelola oleh para pemuda kampung yang ada disini. Sinyal juga sudah mulai ada, namun harus ke ujung dermaga dulu. Saya kemarin waktu di pulau malah bisa live di Instagram karena sinyalnya 4G, keren. Padahal dulu belum ada sama sekali waktu saya datang pertama kalinya. sehingga terjadilah drama itu ha ha.

Pulau Meko itu hanya segitu luasnya

Pulau Meko sendiri sejatinya hanyalah sebuah gusung pasir yang akan tenggelam ketika air pasang tiba. Namun ketika air agak surut dia menjadi daratan kecil yang berpasir putih dan berair jernih. Tak ada ombak besar disini, hanya ariak-riak ombak kecil saja, jadi buat yang mau main air disini, sangat cocok sekali. Bahkan anak-anak juga pasti akan suka sekali bermain air dan pasir disini. Yang perlu diperhatikan adalah, tak ada satupun peneduh di lokasi ini, tadi harus menyiapkanya perlindungan sendiri seperti memakai tabir surya. Tapi ingat, gunakanlah tabir surya yang ramah lingkungan. Carilah beberapa merek yang sesuai dengan kebutuhan. Misal kita mau ke Pulau Meko ini, carilah yang waterprof sun screennya, atau yang sesuai dengan kulit anak-anak kalau mau ajak si kecil main kesini.

Hanya ada ombak-ombak kecil seperti ini

Sekilas warna-warna pasir yang ada di pulau meko ini juga berwarna pink. Ini pasti berasal dari pecahan-pecahan karang seperti yang ada di pink beach pulau Komodo ataupun pantai Tangsi yang ada di Lombok. Snorkling agak ke tubir-tubirnya juga menarik lho kawan. oh ya, untuk mengecek jadwal pasang surut air laut sekarang sudah banyak kok aplikasi di ponsel. kalau saya biasa pakai aplikasi “Tide” namanya. Sebenarnya ini saya pakai untuk diving di tempat berarus, jadi kita akan tahu periode pasang surutnya untuk mengetahui kapan arus pasang atau surut akan berlangsung di lokasi dive tersebut. Tapi bisa juga ternyata untuk lihat pasang suruut di Pulau Meko ini, jadi kita tahu kapan waktu terbaik untk datang kesana. Hal ini penting, ketika surut pulau ini sih biasa saja soalnya ha ha.

mandi dulu gaes, biar kulitnya kinclong

Oh ya, saran saya buat kalian yang mau datang kesini, bawa motor saja dari Larantuka. Karena akan bebas menentukan waktunya dan mau kemana saja waktu di Adonara. Ada sebenarnya Ojek atau mobil yang bisa dipesan dari Waiwerang, tapi biasanya biayanya lumayan tinggi. Mendingan sewa motor di Larantuka trus bebas dah jalan-jalan kesini. seperti saya, Rizal, Valen dan om Berry kemarin. Jadi kapan kalian ke Meko?

Bersiap menyeberang kembali ke Larantuka
Senja di Dermaga

4 COMMENTS

Komennya disini ya..