Mbok Djasmi kartini ku

14

“ayo tho le, gek ndang , jeh akeh kae jagunge” mbok Djasmi yang berada di posisi belakang sedang membantu mendorong sepeda kumbang tua yang kami jadikan alat untuk mengangkut jagung-jagung hasil tebasan simbok ke rumah kami.

Pada musim panen jagung seperti ini simbok memang sibuk mendatangi para petani yang ada di desa kami. Biasanya beliau membeli jagung itu langsung di sawah, karena harganya relatif murah dibandingkan jika sudah berada dipinggri jalan raya. Alhasil kami harus mengangkutnya dengan bantuan sebuah sepeda kumbang yang sudah tidak muda lagi menuju kerumah untuk kemudian di bersihkan karena simbok akan menjualnya ke pasar menjadi jagung rebus.

Simbok adalah wanita perkasa, walaupun hanya berjualan sayur mayur di emperean kios di sebuah pasar tradisional di daerah kami, beliau punya mimpi besar. melihat anak-anaknya menyandang gelar agar hidupnya tidak susah seperti yang sedang beliau jalani.

Simbok naik pesawat pertama kali..
Simbok naik pesawat pertama kali..

Kepingan demi kepingan uang recehan beliau kumpulkan tiap harinya tanpa merasa lelah. terkadang juga diajak menjadi buruh masak jika ada acara-acara yang di gelar di gedung pertemuan seperti resepsi pernikahan. Dan momen seperti inilah yang selalu kami tunggu, karena biasanya simbok akan membawa pulang makanan-makanan lezat sisa pesta yang jarang kami nikmati.

Simbok bukanlah wanita hebat seperti raden ajeng Kartini yang setiap tanggal 21 april selalu di peringati oleh seluruh kaum hawa di negeri ini. beliau hanyalah seorang janda yang harus berjuang demi kelangsungan hidup keluarga kami dari berjualan sayur di pasar.

Saya mengenal simbok pertama kali adalah ketika sebuah peristiwa besar baru saya menimpa saya. Ibu meninggal akibat kecelakaan di pelosok Jambi, hinga beliau di makamkan di sana juga. Sepeninggal ibu, bapak membawa saya kembali ke tanah jawa, ditanah kelahirannya ternyata beliau menitipkan saya kepada simbok, dan beliau akhirnya menikah lagi dan sibuk dengan keluarga barunya. Sementara saya di asuh simbok yang saat itu sudah menjadi janda dengan dua orang anak. Saya menjadi anak ketiganya, itu artinya beliau harus menghidupi saya juga yang saat itu masih berumur enam tahun.

Abis sungkeman pas lebaran
Abis sungkeman pas lebaran

Saya menjadi anak beliau yang paling kecil. Kakak pertama saya perempuan setelah lulus SMA memilih untuk menikah dan ikut dinas suaminya yang seorang polisi ke Timor timur. Sementara kakak saya yang nomer dua laki-laki berumur lima tahun diatas saya.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakak kedua saya dan simbok. Masa kecil kami bukanlah sebuah masa kecil yang di harapkan oleh setiap bocah. Simbok mengajarkan kemandirian kepada  kami. Mulai dari nyuci baju sendiri hingga nyuci perkakas makan ketika selesai kami pakai. Tak jarang kami harus menyantap sarapan sego wadang (nasi kemarin yang hampir basi) sebelum berangkat sekolah.

Urusan rumah tangga saya dan kakak saya sudah paham betul. Seperti kalau mau menyapu lantai rumah harus di siram air dulu sedikit-sedikit supaya debunya tidak berterbangan, yah lantai rumah kami waktu itu masih berupa tanah yang akan berdebu kalau disapu.

Tak jarang pula kami berdua membantu meringankan beban simbok dengan menjadi buruh apapun selepas sekolah. Mulai dari buruh ngangsu (mengambil air dengan cara memikul) karena daerah kami memang terkenal kekeringan jika musim kemarau dan banjir ketika musim penghujan datang. Dari buruh ngangsu di rumah-rumah tetangga kami bisa membantu simbok meringankan dalam hal membayar uang sekolah.

Mbok Djasmi adalah wanita hebat yang pernah saya kenal setelah kematian ibu. Beliau menjadi sosok ibu baru buat saya. kasih sayang yang beliau berikan tulus seperti ibu kandung saya sendiri. Semangat yang beliau tularkan juga membuat saya dan kakak-kakak saya berani bermimpi lebih tinggi. Bukankah tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita dan akan mewujudkannya ketika kita bersungguh-sungguh untuk berusaha.

Simbok dan keluarga kakak laki-laki saya
Simbok dan keluarga kakak laki-laki saya

Kami yang hanya anak dari seorang janda penjual sayur di emperan toko berani menggantungakan mimpi setinggi langit berkat semangat hidup dari simbok. Dan sudah kewajiban kami juga untuk menggapai mimpi-mimpi itu demi kebanggaan seorang janda penjual sayur di hari tuanya nanti.

Ternyata Tuhan benar-benar memeluk mimpi kami. Dengan semangat saya mengumpulkan rupiah demi rupiah dari menjadi buruh pabrik untuk melanjutkan kuliah, hingga akhirnya saya bisa meraih kelar sarjana. begitu juga dengan kakak saya, dengan semangat yang di tularkan oleh simbok dia bisa menghadiahkan simbok dengan gelar s2 nya.

Simbok kini sudah semakin tua, namun semangatnya masih luar biasa. Beliau tidak mau ketika saya mengajaknya untuk tinggal bersama, begitu juga dengan kakak saya. Beliau masih memilih untuk tetap tinggal di Pati dan melakukan aktifitas berjualan sayur mayur di emperan toko seperti biasa. Kami berdua tidak bisa melarang, mungkin dengan begitu simbok merasa bahagia, berinteraksi dengan para sahabatnya di pasar. Bersendau gurau dengan cerita-cerita yang tengah beredar dikalangan pedagang.

Rumah yang dulu berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah alhamdulillah sudah bisa kami perbaiki untuk di tinggali simbok. Beliau terlihat gembira sekali ketika saya membelikannya sebuah kulkas untuk pertama kalinya dulu.

“koyo neng omahe nyah Tien yo le” simbok berseloroh yang membuat hati saya langsung sesak.

Nyah Tien adalah juragan simbok yang sering mengajaknya menjadi buruh masak ketika ada sebuah acara.

Beberapa saat lalu beliau berceloteh ketika saya sedang mudik menengoknya. Katanya ada seorang temannya sesama pedagang sayur di pasar datang kerumah dan menyangka simbok adalah babu (pembantu) di rumah kami.

Dalam kesempatan terakhir berbincang dengan simbok, beliau mengutarakan niatnya sambil berseloroh ke saya.

“simbok kok pengen ke Bali yo le” dada saya langsung sesak.. Insyaallah secepetnya ya mbok.

Satu hal yang selalu saya junjung tinggi dari pribadi simbok adalah ketabahan dan jiwa besarnya. Wanita mana coba yang rela di tinggalkan suaminya untuk menikah lagi dan rela berhubungan baik dengan sang istri baru mantan suaminya. Dan beliau melakukan itu, ini saya buktikan sendiri, beliau dengan tulus mengasuh saya seperti anaknya sendiri, padahal saya, anak yang diasuhnya itu adalah anak dari madu atau istri baru mantan suaminya.

Simbok ku kartiniku
Simbok ku kartiniku

Bagi saya mbok DJASMI adalah Kartini dalam hidup saya. Memang dia tidak punya literasi-literasi hebat seperti yang ada di biografi ra kartini, Tapi dia punya Hati yang luar biasa setidaknya buat kami anak-anaknya.

Selamat Hari Kartini Simbok ku.

14 COMMENTS

  1. Menyentuh banget sampe terharu dan sesak membacanya. Hati Mbok Djasmi seluas samudra, ketulusannya bisa menjadi teladan 🙂 Thanks for share this amazing story

  2. Gila…. Yang bikin tangisku meledak adalah “…padahal saya, anak yang diasuhnya itu adalah anak dari madu atau istri baru mantan suaminya.” Ya Allah luar biasa wanita ini. Mbok Djasmi ini hatinya terbuat dari apa Mas?

Komennya disini ya..