Magisnya Satonda dan Segarnya air terjun pulau Moyo [Sailing Flores – Lombok Part-5]

6
Pak Kapten dan temannya di Satonda
Pak Kapten dan temannya di Satonda

Selat sape adalah sebuah selat yang memisahkan dua propinsi, yakni Nusa tenggara timur dan barat. Selat sape juga terkenal dengan ombaknya yang dahsyat. Kapal oleng kanan kiri di hempas ombak ganas. Angin bertiup kencang sekali. Kris berusaha menurunkan layar untuk membantu laju jalannya kapal menyusuri perairan selat sape. Pak Dulah sudah mengenakan kopiah hitam nya. Dari 2 hari yang lalu saya memperhatikan tanda-tanda di diri pak Dulah. Setiap kapal oleng di terjang ombak, beliau selalu duduk santai di belakang kemudi dengan kopiah hitam nya, sedangkan jika cuaca cerah dan laut tenang kopiah itu pun di lepasnya. Dan malam ini beliau duduk di belakang kemudi dengan jaket hitam dan kopiah hitam, maka kami harus waspada.

Penikmat Senja
Penikmat Senja

Ombak terus mengganas. Siapapun yang pernah melewati selat sape dengan kapal kayu seperti saya pasti akan merasakan hal yang sama. Namun di sisi lain saya justru bisa bersyukur. Berserah diri kepada sang pencipta alam semesta ini membuat perlayaran ini benar-benar sebuah petualangan seru yang pasti akan membekas di sanubari terdalam siapapun yang ada di kapal ini.

Setelah menyapa pak Dulah, dan beliau hanya tersenyum sambil terus berkosntrasi mengemudikan laju kapalnya, akhirnya saya naik ke ruang tidur yang ada di atas ruang kemudi kapal. Ternyata di ruang tidur goyangan kapal terasa lebih dahsyat. Malam terasa masih panjang. Setelah berdoa dan berserah diri saya pun akhirnya terlelap.


Pulau Satonda di perairan Sumbawa
Pulau Satonda di perairan Sumbawa

Pagi kembali Hadir, kapal Parewa Indah yang di operasikan oleh Kencana Tour ini pun sudah menyisir perairan dangkal di dekat pulau Sumbawa. Bekas letusan gunung tambora juga bisa kita lihat dari atas kapal. Air tenang dan jernih membuat kapal melaju dengan tenang. Menjelang siang pak Dulah menambatkan kapal di dekat pulau Satonda. Sama dengan tempat-tempat lain karena tidak ada dermaga yang bisa di singgahi, akhirnya kami di jemput oleh sebuah jukung untuk bisa mendarat di Pulau Satonda.

Merapat ke pulau Satonda
Merapat ke pulau Satonda
Welcome to Satonda
Welcome to Satonda

Letak pulau Satonda ini sendiri berada di sebalah utara pulau Sumbawa. Terdapat sebuah danau air asin yang merupakan daya tarik utama pulau ini. Keberadaan danau air ini di duga akibat dari letudan gunung ribuan tahun silam, sementara air asin yang ada di danau di indikasikan berasal dari Tsunami yang terjadi akibat letusan gunung Tambora pada tahun 1815. Untuk mencapai danau air asinnya, saya hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berjalan menyusuri anak tangga yang sudah di buat oleh pengelola.

Bermain Kano di danau pulau Satonda
Bermain Kano di danau pulau Satonda

Pertama menceburkan diri saya sedikit khawatir. Karena hanya saya dan eduard yang ada di danau itu. Kondisi danau gelap, saya tidak bisa melihat bawah danaunya seberapa dalam. Tapi saya segera menepis kekhawatiran saya dan menikmati berenang di danau air asin yang asik itu. Dan benar rasanya asin ha ha. Danaunya sendiri tenang, dan cenderung sedikit mencekam malah yang saya rasakan. Menurut beberapa sahabat malah menuturkan bahwa danau itu masih di keramatkan. Tapi ya diluar itu semua seru juga berenang disini.

Kalibuda, Pohon harapan yang ada di pinggir danau Satonda
Kalibuda, Pohon harapan yang ada di pinggir danau Satonda
Batu-batu harapan yang tergantung di Kalibuda
Batu-batu harapan yang tergantung di Kalibuda

Ada satu hal unik yng saya perhatikan dari tadi. Beberapa karang tergantung di pohon yang terletak di pinggir danau. Dan tidak hanya kerang ternyata, ada botol minuman, ada bungkus rokok, ada sepatu bekas. Dan rasa penasaran saya akhirnya terjawab dengan keterangan sang ibu penjual di warung kecil yang terdapat di pulau ini.

“Itu pohon Kalibuda namanya, orang sering menyebutnya pohon harapan”

Jadi ternyata orang-orang sekitar yang masih percaya dengan hal-hal ini mempercayai bahwa pohon Kalibuda ini bisa mengabulkan keinginannya. Jadi setiap ada keinginnan, mereka datang ke danau ini dan mengantungkan sesuatu sambil memanjatkan doa kepada sang leluhur. Nah jikalau doa mereka terkabul, mereka akan kembali ke pohon itu dan melepas sesuatu yang dulu di gantungkan sambil menggelar upacara syukuran kecil dengan memotong ayam. Hal yang menarik sekali ternyata. Legenda-legenda yang hampir ada di penjuru negeri ini semakin memperkaya khasanah destinasi wisata yang ada.

Istirahat sejenak di pulau Satonda
Istirahat sejenak di pulau Satonda
Bersiap meninggalkan pulau Satonda
Bersiap meninggalkan pulau Satonda
Karena kapal tidak bisa merapat, kami menggunakan perahu kecil ini
Karena kapal tidak bisa merapat, kami menggunakan perahu kecil ini

Pulau Satonda semakin terlihat kecil, kapal melanjutkan perjalanannya menuju pulau Moyo. Pulau ini terletak di sebalah utara pulau Sumbawa. Pulau yang memiliki garis pantai sepanjang 88km ini tidak cukup rasanya kalau kita explore dalam waktu singkat. Keindahannya sudah tidak di ragukan lagi, bahkan konon katanya mendiang lady Diana dan mick jagger rela meluangkan waktunya untuk berlibur menikmati keindahan pulau ini.

Merapat ke pulau Moyo
Merapat ke pulau Moyo

Kapal tidak merapat di dermaga, tapi di sebuah hulu sungai kecil. Dan akhirnya kami ketemu dengan air tawar, setelah beberapa hari penggunaan air tawar di kapal terbatas. Dan saatnya berendam. puas-puasin menikmati air tawar di sungai kecil itu. Namun ternyata tujuan kapal berlabuh di dekat muara sungai ini bukan lah sungai nya itu. Tapi ada sebuah air terjun ajib di tengah hutan sana.

Air terjun di pulau Moyo ini indah
Air terjun di pulau Moyo ini indah

Dan di perlukan sedikit tenaga untuk trekking menuju kesana. Tidak lama, setelah menyeberang beberapa sungai kecil selama 20 menit an kita aka menjumpai sebuah keindahan alam di tengah pulau Moyo. Sebuah air terjun dengan larik-larik pola yang indah. Air yang mengucur deras karena bergesekan dengan dinding batu sungai seolah menyerupai lukisan yang indah.

Bersantai di air terjun pulau Moyo
Bersantai di air terjun pulau Moyo
Air terjun di pulau Moyo
Air terjun di pulau Moyo

Dan di beberapa bagian terdapat kolam-kolam yang terbentuk oleh alam di bebatuan. Kolam-kolam kecil ini menjadi tempat yang pas untuk berendam di bawah air terjun dengan pesona hutan yang ada di pulau Moyo. Semua terlihat begitu gembira bisa menikmati keindahan ini. Tak terkecuali Semua pak Dulah dan kris yang ikut mandi bersama kami.

Mengisi air tawar ke kapal dari pulau Moyo
Mengisi air tawar ke kapal dari pulau Moyo
Bersiap meninggalkan pulau Moyo
Bersiap meninggalkan pulau Moyo

Puas menikmati keindahan air terjun di pulau Moyo, kapal akan segera melanjutkan pelayaran. Dan biasanya di pulau inilah spot untuk mengisi kembali persediaan air tawar untuk di kapal. Eduard berusaha membantu kris mengangkat galon berisi air tawar menuju bibir pantai untuk kemudian diangkat menggunakan perahu kecil menuju ke kapal.

Semua terlihat begitu segar, setelah sekian hari harus mengirit penggunaan air tawar di kapal akhirnya terpuaskan dengan bermain di bawah air terjun yang indah. Pak Dulah sudah duduk kembali di belakang kemudi kapal nya, artinya perjalanan akan segera di mulai. Beberapa saat menjelang sunset Acoy sang koki kapal sudah menghidangkan menu makan malam. Wah jam di pergelangan tangan saya masih menunjukan pukul 17:00.

“Kita akan melewati gelombang asik pak, jadi nanti pas Gelombang datang kita tinggal tidur” wah ternyata makan di percepat supaya pas gelombang nanti semua sudah tinggal menikmatinya sambil berbaring tiduran ha ha.

Tempat tidur kami di kapal
Tempat tidur kami di kapal

Tapi benar adanya sesaat setalah makan malam kami yang kesiangan gelombang datang. Kapal oleng kanan dan kiri dahsyat. Pak Dulah sudah mengenakan kopiah hitam sambil sesekali melirik langit di atas kapal. Dan rerbaring di kasur tipis yang terdapat di ruang tidur adalah pilihan yang tepat, dan tidak tau kenapa asal mulai rebahan di kasur itu tidak butuh waktu lama, saya langsung terlelap.

Ketika terbangun kapal sudah diam, namun langit masih gelap. Ternyata pak Dulah masih terjaga sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Rupanya dari keterangan beliau kita bermalam sejenak di gili Bola. Dan kapal akan melanjutkan pelayaran kembali sesaat menjelang subuh nanti menuju ke pelabuah kayangan Lombok. Dan malam ini saya tidur di depan ruang kemudi kapal bersama para crew.

Daratan Lombok sudah terlihat
Daratan Lombok sudah terlihat

Baru saja terlelap sejenak, kapal sudah harus melanjutkan kembali pelayarannya. Menjelang subuh ombak juga masih terasa dahsyat. Hempasan-hempasan air nya beberapa kali bahkan masuk kedalam kapal. Pulau Lombok sudah terlihat samar-samar. Pelabuhan Kayangan di pulau itu akan menjadi akhir dari penjelajahan kapal ini, tapi bukan akhir dari perjalanan saya. Kami semua akan berpisah dipelabuhan. Empat hari tiga malam melalui sebuah petualangan seru bersama membuat kami dekat satu sama lainnya. Banyak sekali cerita seru yang akan bisa kami kenang kembali di suatu saat nanti.

Menuju dermaga Kampung baru pelabuhan kayangan di lombok
Menuju dermaga Kampung baru pelabuhan kayangan di lombok

Tepat pukul 09:00 kapal merapat di dermaga kampung baru, Labuan Lombok. Dermaga rakyat ini berada tidak jauh dari dermaga ferry yang biasa melayani rute Lombok-Sumbawa. Semua berjabat Tangan dan saling bertukar kontak email maupun telepon. Bahkan Doren, pacarnya Eduard menuliskan sebuah note kecil di buku saku saya.

“From Hollandia, Thank you so much for the pleasant company, I loved the boat trip and we’ve experienced so many funny and beautiful moments. I’m really looking forward to your photos and video. You Produce amazing work J . regards Doren and Eduard”

Meskipun berat tapi setiap pertemuan harusnya ada perpisahan. Dan masing-masing kami harus kembali melanjutkan perjalanan kembali. Pak Dulah, kris dan semua crew kapal Parewa indah melepas kami di dermaga. Banyak sekali moment lucu dan indah terekam dalam lensa kamera saya. Dan ini adalah akhir dari pelayaran seru dari bumi Flores menuju ke pulau Lombok.

Sebagai Bangsa Bahari tentu kita hidup tidak jauh dari Laut. Nenek moyang kita juga seorang pelaut handal. Berdasarkan kisah-kisah masa lalu kita banyak belajar tentang kehandalan nenek moyang kita mengarungi lautan negeri ini bahkan dunia malah. Dan di pelayaran seru ini saya membuktikan akan kisah handalnya sebuah kapal phinisi dan tangguhnya pelaut Bugis yang sudah terkenal di penjuru dunia.

6 COMMENTS

Komennya disini ya..