Kopi Canggah, Kopi Enak dari Kutub Cupunagara

2
Pagi di Cupunagara

“Dulu orang sering menjuluki kami sebagai orang kutub mas, mungkin karena dingin dan akses ke Desa kami sangat susah sekali.” tutur pak Wahidin sang kepala Desa Cupunagara saat menjamu saya menikmati enaknya kopi arabika yang diolah dengan wine procesing itu pada sebuah sore.

Lembah yang damai Cupunagara

Desa Cupunagara memang letaknya jauh di ujungnya Subang. Berbatasan langsung dengan Bandung Barat. Desa yang dulu diledekin berada di Kutub ini, sekarang sedang bergiat untuk membuka akses keluar, agar pembangunan dan informasi juga bisa masuk ke Desa ini.

Bahagia ala-ala bareng pak Kades

Pembangunan dari Desa ini, tak lepas dari peran aktif sang kepala Desa, Wahidin Hidayat. Terobosan-terobosan baru dibuat untuk mengangkat potensi desa agar bisa setara dengan desa-desa sebelah yang sudah lebih maju duluan.

Pagi di Cupunagara
Pagi di Cupunagara

Pagi menyingsing, semburat cahaya mentari itu seolah memberikan semangat baru bagi semua warga desa untuk beraktifitas. Sementara saya dan beberapa teman yang menginap di rumah pak Kades, juga tak mau ketinggalan. Kami semua sibuk karena ingin menikmati matahari pagi dari puncak Eurad, salah satu daerah tertinggi di Desa Cupunagara.

Perjalanan ke Puncak Eurad tak begitu jauh kok. Mobil yang saya naiki hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai kelokasi ini. Hanya saja, jalanannya agak menanjak, jadi saya memilih untuk naik mobil dari pada jalan kaki. Nanti kalau lelah, foto-fotoannya diatas gak seru dong ha ha. *ngelesable

Menikmati puncak Eurad pagi hari

Sampai di Puncak Eurad ternyata matahari sudah mlethek atau bersinar terang. Saya pun bergegas menyematkan kamera ke-dudukan tripod untuk membuat timelapse. Sembari timelapse, drone pun saya naikkan. Dan melihat layar monitor preview dari kamera drone yang sedang terbang, saya berdecak kagum akan keindahan yang sedang saya saksikan Layer-layer indah bayangan perbukitan terlihat begitu memukau, mirip Swiss. Apalagi di tingkahi dengan cahaya pagi yang indah dan damai, makin sempurna.

trio libels di puncak Eurad

Puncak Eurad sendiri juga merupakan gerbang masuk ke desa Cupunagara. Jadi keberadaaanya memang ada di dua desa, yakni desa Cupunagara dan Desa Wangun Harja. Pengelolaan puncak Eurad ini dikelola secara swadaya oleh dua desa tersebut. Dan menurut keterangan pak Kades kemarin, bahwa tahun depan akan dianggarkan dari dana desa untuk membangun kawasan wisata ini jadi lebih baik. Tiket masuknya gak mahal kok, cukup Rp 5000 per orang saja.

Arabika Cupunagara

Selain potensi wisata pemandangan, Desa Cupunagara juga punya potensi lain, yaitu Kopi. Kopi arabika yang ada di Desa ini baru sekitar 3 tahun ini, dulunya mereka menanan kopi robusta. Dan dari sekitar 300 hektar tanaman baru kopi Arabika, baru sekitar 15 hektar saja yang bisa dipanen. Kopi-kopi ini diolah sendiri sama BUMDes dengan peralatan seadanaya. BUMDes adalah Badan Usaha Milik Desa. Keberadaan BUMDes juga berkah dari turunya dana desa dari pusat ke desa-desa di seluruh penjuru negeri ini. Dengan modal awal 50 juta yang berasal dari dana Desa, sekarang BUMDes sudah punya omset sekitar 10 juta rupiah perbulan.

Barista Gadungan di Warung Kopi Canggah

Dari tangan dinginnya BUMDes lah kopi Canggah lahir. Dulunya kopi dari Desa Cupunagara ini dipandang sebelah mata sama orang. Namun setelah diolah dengan benar, keberadaan kopi Canggah mulai di perhitungkan oleh para menikmat kopi. Bahkan beberapa pemilik cafe juga sudah menjadi pelanggan tetap dari kopi Canggah ini. Dulu petani menjual kopi dalam bentuk buah segar seharga 900 rupiah per kilogram, sekarang harga kopi biji green bean bisa mencapai 90.000 hingga 130.000 per kilogram.

Kang kopi di Cupunagara

Tak lengkap dong jalan-jalan ke desa penghasil kopi tapi gak melihat proses pengolahananya. Saya sempat berkunjung ke sebuah warung kecil yang letaknya ada dekat dengan sekretariat BUMDes Mukti Raharja. Disana saya melihat bagaimana kopi Arabika hasil dari kebun langusng diolah. Dan saya bahkan sempat ikut mengupas dan mencuci kopi. Ternyata prosesing kopi itu mempengaruhi rasa. Walaupun sama-sama kopi arabika yang dihasilkan, tapi ternyata ketika diolah dengan cara yang berbeda, rasanya juga akan beda-beda. Setidaknya ada 4 cara yang dipakai oleh BUMDes untuk mengolah kopi Canggah, yakni Natural Proces, Honey Proces, semi full washed proces dan terakhir adalah Full Washed proces.

Arabika Cupunagara sebelum dans esudah di proses

Nah setelah nyobain beberapa rasa dari hasil pengolahan tersebut, saya lebih tertarik dengan Honey Proses. Rasanya seperti ada manis-manis dan segarnya buah gitu. Jadi kayak minum lemon tea malah ha ha.

Jalan desa Cupunagara

Jalanan desa yang dulunya susah diakses juga sekarang secara bertahap sudah diperbaiki. Setidaknya ada sekitar 15 kilometer dari total 35 kilometer jalan desa yang sedang diperbaiki.

“Dengan membaiknya jalan ini, akses dan biaya untuk menjual hasil kebun kami juga akan lebih ringan. Karena selain kopi, Cupunagara juga daerah penghasil sayur-mayur yang menjadi andalan Kabupaten Subang, bahkan Lembang. Jadi dengan akses yang baik, kami tidak akan dijuluki orang kutub lagi” Cerita pak Wahidin sambil terkekeh yang juga menutup pembicaraan kami saat itu.

si Mamah yang masakannya uwenak sekali

Perjalanan ke desa Cupunagara kembali membuat satu pelajaran penting buat saya. Dimana kita mau berusaha, Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik. Seperti kisah desa ini yang sekarang sudah mulai membaik dengan turunnya Dana Desa dari Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Semoga desa-desa lain di seluruh penjuru negeri ini juga merasakan hal yang sama.

Bahagia bersama di Cupunagara

2 COMMENTS

  1. wahh view paginya kerena banget tuh, sambil nyeruput kopi canggah panas-panas. pasti nikmat tiada duanya ya.

Komennya disini ya..