Perpustakaan Gedheg di tepian Pantai Kondang Merak, Lihat Indonesia Part #14

6
Perpustakaan ini gudang ilmu bagi anak nelayan

Malang terlihat begitu cerah pagi itu, meskipun hawa yang di bawa oleh semilirnya angin pagi masih menyiratkan kesejukan. Rasa lelah dan kantuk masih mendera tapi perjalanan ini harus terus di lanjutkan. Sebuah perjalanan sederhana yang belum seberapa bila di bandingkan dengan perjalanan nya  Ernesto Che Guevara dalam  The Motorcycle Diaries-nya yang Epic.

Namun jika di tilik dari tujuan kami, Team Lihat Indonesia melakukan perjalanan yang hampir 2 bulan kurang beberapa hari saja. Merekam segala yang kami lihat, atau melihat Indonesia dengan lebih real, ada sedikit kesamaan dengan perjalanan apik nya Che Guevara tersebut. Banyak fakta yang kami dapatkan selama perjalanan yang membuat hati saya miris bahkan terkadang kuncuran air mata terpaksa keluar meski saya harus bersembunyi dari rekan-rekan selama perjalanan agar tidak terlihat cengeng.

Perjalanan menuju Kondang Merak
Perjalanan menuju Kondang Merak

Lanjutan perjalanan kali ini akan mengarah ke bagian selatan dari kota Malang, tepatnya ke sebuah daerah yang bernama pantai Kondang Merak. Mungkin pantai indah ini belum se-terkenal kakak nya yang berjarak hanya beberapa kilometer saja, pantai Balekambang.

Pantai Balekambang sendiri sudah ramai di kunjungi para wisatawan. Akses yang mudah dan lengkapnya fasilitas yang ada membuat kunjungan wisatawan di pantai ini selalu banyak, terlebih pada musim libur atau akhir pekan.Belum lama rasanya Matahari pagi mengusir embun pagi untuk pergi dari ujung-ujung rerumputan yang tumbuh subur di kota Malang ini. Semua terlihat begitu sibuk dengan tugas masing-masing. Saya yang bertugas mendokumentasikan perjalanan ini juga sudah me-ngecek kembali segala sesuatu yang harus saya kerjakan ketika perjalanan nantinya akan di mulai.

Namun hal beda akan kita jumpai di Pantai Kondang Merak. Pantai ini cenderung sepi dan kurang diminati pengunjung. Tapi siapa sangka justru karena kesepiannya inilah tercipta sebuah harmoni keindahan yang tiada tara. Pantai pasir nya yang kecoklatan membentang begitu luas dan bersih. Bebatuan karang yang memagari sebagian pantai juga adalah sebuah maharya yang maha sempurna dari sang pencipta. Belum lagi karang-karang yang menyembul di tengah laut ketika air surut, sungguh sebuah perpaduan alam yang cantik, dan jika kita lihat kesemuanya itu berpadu dalam sebuah bentang cakrawala yang indah.

Namun terlalu naif jika saya hanya melihat daerah ini dari keindahannya semata. Banyak sekali yang perlu di benahi lagi dari sistem kepariwisataan yang ada disini. Akses menuju ke lokasi ini tidak semudah ke lokasi Pantai Balekambang yang sudah dengan mudah di akses.

“Nanti kita akan melewati Jurang mayit lho mas” begitu ngerinya saya mendengar celotehan mas Anto yang kebetulan barada dalam rombongan Team Lihat Indonesia ini. Setidaknya ketika saya melewati tikungan tanjakan yang curam itu merasa sedikit bergidik. Selain itu jalan menuju lokasi ini juga belum layak untuk mengangkat daerah ini menjadi lokasi wisata yang di gadang-gadang bisa mensejahterakan masyarakat sekitar. Hanya orang-orang yang suka dengan petualangan akan dengan suka cita mengunjungi lokasi wisata ini.

Satu hal yang menyita perhatian saya, sebuah bangunan yang berdinding anyaman bambu (gedheg) yang terlihat bolong di beberapa bagiannya. Namun di balik sederhananya bangunan rumah itu saya menemukan sebuah gudang ilmu yang tak terkira nilainya. Saya menemukan sebuah perpustakaan kecil yang dikelola oleh mas Mas Andik dari Sahabat Alam dan pak Edy. Pak Edy ini adalah seorang pria yang usianya sudah hampir senja tapi semangat yang dia punya masih ’45. Beliau pernah mengecap pekerjaan sebagai cheef di berbagai hotel mewah di ibukota.

Ilmu meramu bumbu-bumbu menjadi masakan sudah tidak di ragukan lagi. Dan ilmu inilah yang beliau ajarkan kepada ibu-ibu yang ada di kampung nelayan yang letaknya berada di lokasi wisata pantai Kondang Merak ini. Beliau mendedikasikan ilmu dan sisa Usianya untuk alam dan keharmonisan alam yang ada di Pantai ini. Bersama mas Andik beliau mengajarkan cara menanam dan memelihara karang kepada warga kampung nelayan. Mungkin hasilnya tidak bisa langsung di lihat karena pertumbuhan karang sendiri butuh waktu yang lama dan pantai ini juga berada di garis selatan  Jawa yang terkenal dengan ombak ganasnya, Tapi kepedulian mereka terhadap alam dan masyarakat Kondang Merak patut diacungi jempol. Bravo

EOS 60D_26394

“Minat baca anak-anak sini bagus lho mas, bahkan beberapa diantara mereka adalah juara kelas, padahal sekolahnya jauh di kampung sebelah” Mas Andik berkelakar ketika saya berusaha memasuki perpustakaan sederhana itu. Hanya beberapa buku yang sudah terlihat usang, mungkin karena keseringan di baca oleh warga kampung itu. Beberapa majalah tentang alam juga saya jumpai.

Terbersit keinginan untuk mengisi perpustakaan sederhana ini dengan buku-buku yang lebih anak-anak. Karena yang paling banyak berkunjung ke perpustakaan ini adalah anak-anak, dan gayung bersambut, kedatangan Team Lihat Indonesia ke perpustakaan ini juga tidak dengan tangan kosong. Ada beberapa buku yang akan memperkaya koleksi buku-buku yang ada di sini, Namun rasanya buku-buku yang kami bawa hasil sumbangan om Ipung anggota Komunitas Taft Diesel Indonesia chapter Jogja ini kurang muatan anak-anaknya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini tergerak ikut membantu menyumbangkan buku-buku bacaan anak-anak. Jika di kota-kota besar sedang di ramaikan dengan slogan-slogan kampanye menimbulkan minat baca pada anak, mungkin bocah-bocah anak nelayan di kampung ini sudah sampai pada level diatas nya yakni menciptakan kreatifitas anak dari membaca buku.

Perjalan harus kami lanjutkan kembali setelah menikmati makan siang dengan menu olahan hasil laut yang memang sudah terkenal di pantai ini. Mau tau rasanya? Lezat tiada terkira, Ilmu dari pak Edy mungkin sudah menular ke ibu-ibu yang masak di warung-warung kecil yang ada di lokasi wisata ini. Namun saya masih penasaran dengan satu kuliner khas daerah ini yang sering saya baca sepanjang perjalanan. Enthog Pedas…ah suatu saat nanti harus ada kesempatan kedua bercengkrama dengan keindahan pantai ini, dan Entog Pedas pastinya.

6 COMMENTS

  1. Saya paling suka dan paling sering main ke Pantai Kondang Merak, baik itu sekadar camping atau bakti sosial di sana karena sudah lama kerjasama dengan warga sana. Sudah beberapa kali even nasional dan 2x even internasional kami gelar di sana. Perpustakaan itu juga atas inisiatif Pak Edi. Apalagi main ke pantai2 ke barat Kondang Merak yang tak banyak orang tahu, ada lebih dari 3-4 garis pantai di balik karang2nya 🙂

Komennya disini ya..