Candi Plaosan, Simbol keabadian Cinta

3
Candi Plaosan

Embun pagi masih memenuhi halaman rumput di luar komplek candi. Cahaya yang timbul dari lampu-lampu kecil di pelataran membuat suasana pagi itu begitu sempurna. Siluet candi yang di selimuti kabut terlihat begitu mistis tapi tetap mempesona.

Candi Plaosan sering dikenal juga sebagai candi kembar, karena memang bentuknya kembar. Konon katanya candi ini di bangun sendiri oleh sepasang suami istri yakni Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani. Kedua insan ini berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda jauh. Rakai Pikatan adalah seorang raja ke-6 dari silsilah Mataram kuno yang beragama Hindu, sedangkan Pramudya wardhani adalah gadis Samaratungga dari dinasti Syailendra yang notabene beragama Budha, ternyata masalah klasik seperti ini sudah ada dari dulu kala.

Pagi di Candi Plaosan
Pagi di Candi Plaosan

Kalau di India ada Taj Mahal, ternyata kisah di balik candi Plaosan juga tidak kalah menarik dari sisi romantisme. Candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani sebagai symbol keabadian cinta mereka yang mendapatkan tentangan dari kedua belah pihak. Namun begitu akhirnya mereka bisa menikah.

Candi kembar ini terlihat begitu mempesona ketika pagi hari. Hamparan sawah di sekelilingnya membuat suasana segar segera menyeruak ketika kita tiba di komplek candinya. Sekilas kalau kita lihat candi ini adalah perpaduan antara budaya Hindu dan Budha.

Konon katanya candi Plaosan Lor (utara) dibangun oleh Rakai pikatan, jadi relief-relief yang ada menggambarkan tentang kecantikan seorang wanita, mungkin ini adalah olah imajinasi dari sosok istrinya. Sedangkan candi Plaosan kidul dibangun oleh Pramudya Wardhani, relief yang tersaji terlihat menggambarkan seorang pria, mungkin ini juga imajinasi dari sosok Rakai Pikatan.

Beberapa penamakan candi Plaosan ini
Beberapa penamakan candi Plaosan ini

Candi Plaosan terletak di sebuah dusun yang bernama Plaosan, desa Bugisan. Kawasan candi ini masih berada di kecamatan Prambanan. Untuk mencapai tidak susah kok. Karena letaknya masih di seputaran candi Prambanan, maka bertanya ke siapapun di dekat situ mereka pasti ngasih petunjuk ke kita. Secara gampangnya ambil jalan raya Jogja-Solo, setelah lampu merah Prambanan lurus lagi sampai ketemu Lampu merah lagi. Belok kiri menuju jalanan yang agak kecil, kemudia ketemu perempatan belok kanan. Tidak jauh dari situ ada candi Kembar yang muncul ditengah persawahan.

Menikmati keindahan Plaosan di pagi hari seolah saya bisa merasakan mistisnya candi dengan getaran-getaran agung yang mungkin dulu dibanggun oleh Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani. Sebuah kisah klasik tentang percintaan yang berakir Bahagia dengan symbol keabadian cinta yang terjaga hingga saat ini.

3 COMMENTS

  1. Hai, salam kenal, oke nih blognya 🙂
    Skalian share ya, siapa tahu mau ikutan nih.. nge-Blog traveling skaligus dapat hadiah, total hadiah 12 juta. Bisa cek langsung ya di link berikut bit.ly/11IwgXv
    Thank you ya..

  2. Sedikit koreksi ya mas : pernikahan Rakai Pikatan ini justru tidak mendapat tentangan. Upaya pernikahan ini justru didukung kedua belah pihak (Sanjaya dan Syailendra) dan dianggap simbol penyatuan dan toleransi dua wangsa besar itu.

Komennya disini ya..