Bu Neni sang pelukis ombak Bono dari Pelalawan

2
Membatik

Dibalik sebuah jendela lebar, Bu Neni, perempuan separuh baya terlihat sedang asik membatik. Tangannya yang cekatan terlihat berkali-kali mencanting cairan malam dan menorehkannya pada lembar kain mori putih yang dipangkunya. Beliau terlihat menikmati sekali proses seni yang sedang digelutinya.

“Lumayan mas, bisa dapet 3 juta lebih sebulan kalau pas lagi banyak pesanan. Bisa buat biaya anak kuliah dan menambah kebutuhan keluarga” ceritanya sambil tetap berkonsentrasi membatik. Bu Neni adalah istri dari seorang pekerja dari PT.RAPP, sebuah perusahaan dibawah naungan APRIL Group. Dari hasil jerih payah suami, bu Neni bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Dan dari hasil membatiknya, bu Neni bisa mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri.

Batik menjadi jalan Bu Neni berkreasi

Bu Neni gak hanya sendiri. Bersama beberapa rekannya sesama istri-istri dari karyawan dari APRIL Group, beliau bergabung dalam kelompok batik Andalan. Motif utama yang menjadi kebanggan rumah batik ini adalah ombak Bono. Seperti kita tahu, bahwa ombak Bono memang menjadi kebanggaan masyarakat sungai kampar khususnya dan propinsi Riau pada umumnya. Kenapa ombak Bono menjadi begitu terkenal, karena di dunia ini hanya ada dua fenomena alam seperti ini, yakni di brasil dan sungai Kampar. Terjadinya ombak bono sejatinya adalah pertemuan arus dari laut yang masuk ke dalam sungai Kampar. Dan sekarang nama ombak Bono sudah sangat terkenal di kalangan peselancar dunia.  Karena hal inilah Rumah Batik Andalan memakai nama Bono sebagai trade mark dari batik yang diproduksi.

Hidroponik juga jadi salah satu metode bercocok tanam disini
Okra yang segar
Deretan Okra

Tidak hanya rumah batik, di BPPUT (Balai Pengembangan dan Pelatihan Unit Terpadu) yang dikembangkan perusahaan  ini juga ada beberapa kegiatan lainnya, di antaranya adalah perkebunan, peternakan dan rumah madu. Saya tertarik sekali dengan budidaya perkebunan sayur-mayur yang di kembangkan. Hamparan kebun sengaja disediakan untuk masyarakat anggota dari BPPUT ini berlatih. Ada beberapa tanaman sayuran seperti cabai, jagung, terong, okra, kangkung dan beberapa jenis lainnya. Terlihat juga beberapa modul hidroponik yang lengkap dengan tanaman sawi yang segar-segar. Selain tanaman ada juga beberapa kolam ikan juga terlihat di samping kebun. Wah lengkap sekali rasanya BPPUT ini, bisa jadi andalan 4 sehat 5 sempurna untuk kebutuhan gizi keluarga.

Jadi memang program ini ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar kebun dan pabrik, tempat perusahaan ini melakukan usahanya. Melalui program pemberdayaan masyarakat sekitar inilah program CSR dari perusahaan diimplementasikan.

Madu sialang yang Lezat

Satu hal yang paling menarik buat saya siang itu di BPPUT adalah rumah madu. Yess,  madu sialang memang sangat terkenal sekali di wilayah Riau. Madu pohon yang tingginya melebihi tinggi pohon kelapa ini sangat susah diambil. Butuh perjuangan untuk mengambilnya. Nah dulu, sebelum ada rumah madu ini, para pencari madu biasa menjualnya dengan cara sederhana. Dan hasil yang diperolehnya juga gak terlalu banyak. Dengan adanya rumah madu ini, madu-madu dari masyarakat ini bisa dikemas dengan baik dan di kasih label dengan menarik, otomatis harga jualnya juga naik. Imbasnya buat para pencair madu ini juga mendapatkan hasil yang lumayan jika dibanding cara kemasan tradisional sebelumnya.

Batik Bono keceh, ada yang lihat saya lagi surfing di motif batiknya gak?

Semua hal tersebut diatas adalah bentuk perhatian dari perusahaan untuk keberlangsungan yang terjadi di lingkungan sekitar perusahaan dalam bentuk community development. Untuk keberlanjutan jangka panjang dalam bentuk konservasi dan perlindungan hutan, perusahaan juga sudah berkomitmen untuk mendukung konservasi, restorasi ekosistem hutan alam dan lahan hutan gambut, dan wilayah yang penting secara ekologis, hidrologis dan areal yang secara budaya dinilai penting pada areal operasi perusahaan.

Kalau ngomongin pabrik kertas dan pulp, bukan hal baru buat saya. Belasan tahun yang lalu, ketika baru lulus dari STM, saya merantau ke Propinsi Riau, diajak oleh bapak dari salah satu teman baik saya. Beliau adalah pekerja Forestry division dari sebuah pabrik pulp dan paper. Jadi lingkungan kerja pertama yang saya kenal adalah lingkungan pabrik kertas dan pulp. Tak selang beberapa lama, akhirnya saya juga menggantungkan hidup dari perusahaan itu. Mengais sedikit rejeki supaya bisa menabung dan melanjutkan kuliah. Memang saya bukan berasal dari keluarga yang mampu, jadi harus membanting tulang sendiri guna melanjutkan sekolah.

Karena Bahagia itu sederhana

Satu hal pesan simbok yang selalu membuat saya semangat saat itu adalah “Pendidikanlah yang akan bisa memutus tali kemiskinan di keluarga kita”. Dan perjuangan saya di tanah rantau berawal dari pabrik kertas dan pulp ini. Hingga akhirnya setelah melewati perjuangan yang melelahkan hampir  5 tahun, saya bisa membuat simbok tersenyum dengan ijazah sarjana saya. Dan ketika proses wisuda berlangsung, rasa bangga yang luar biasa saya rasakan, karena bisa menyelesaikan kuliah dengan hasil keringat saya sendiri. Terbayang perjuangan tiap hari harus berangkat kerja jam 5 pagi dan pulang sampai rumah kembali jam 11 malam, karena letak pabrik dan kampus tempat saya kuliah sangat jauh. Setidaknya saya harus menempuh waktu sekitar 2-2.5 jam perjalanan untuk sampai ke kampus dari tempat kerja saya, setiap hari.

Tidak hanya saya, mungkin hingga ribuan orang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Dan sudah menjadi tanggung jawab perusahaan juga untuk memenuhi hak dari setiap karyawannya. Beberapa fasilitas seperti perumahan, pendidikan, sarana olah raga, pengembangan usaha kecil menengah, sudah disediakan oleh perusahaan untuk para karyawan dan anggota keluarganya. ini Juga sejalan dengan pengelolaan hutan yang berkelanjutan (Sustainable Forest Management Programme/SFMP). Seperti kebijakan “tanpa bakar” misalnya. Dengan adanya kebijakan ini, kebakaran hutan yang hampir terjadi tiap tahun di propinsi Riau bisa ditanggulangi. Bahkan perusahaan juga memberikan reward yang lumayan besar untuk desa yang selama musim kemarau tidak mengalami kebakaran lahan.

Kalau Ke Riau jangan lupa cobain Asam Pedas ya

Perjalanan singkat di bumi Lancang Kuning ini membuat saya belajar banyak hal. Kisah bu Neni juga memberikan semangat baru bagi saya untuk tetap berkarya. Bait cerita perjalanan kali ini sudah kembali membuka lembar demi lembar kenangan yang sudah lama terkubur. Kenangan tentang sebuah perjuangan anak kampung yang ingin memperbaiki kehidupannya dan meraih cita-citanya di masa yang akan datang.

2 COMMENTS

Komennya disini ya..