Bintang sang Bintang Lapangan

1
Kia, adiknya Bintang yang comel

Mentari baru saja bergerak naik ketika saya membuka tirai jendela di hotel Sahid Jaya tempat saya menginap. Entah saya tidur terlalu larut atau terlalu lelah pindah-pindah kota terus, hingga akhirnya pagi ini saya harus mengalah sama matahari.

Selamat Pagi Solo

Pagi ini semangat saya begitu membuncah. Riang, bahagia dan haru campur aduk. Bisakah saya nanti menahan airmata haru ketika ketemu mereka? itu pertanyaan besar yang harus saya temukan jawabannya. Saya akan bertemu para inspirasi yang akan berjuang membawa nama baik ibu pertiwi di ajang Paragames 2018 yang akan segera digelar.

Suasana Pelatnas di Aula YPAC Surakarta

YPAC (yayasan pendidikan anak cacat) Surakarta. Sebuah tempat yang akan dipakai para atlit Boccia berlatih selama pelatnas menjelang pertandingan. Jujur, saya sedikit terganggu dengan nama Yayasan Pendidikan Anak Cacat disini. Sepertinya kata-kata itu sudah harus diganti dengan anak berkebutuhan khusus.

Memasuki aula yang menjadi tempat mereka berlatih, saya melihat ada sekitar 10 atlit yang sedang latihan. Saya Fikir mereka atlit pelatnas semua, ternyata hanya 8 orang yang atlit pelatnas, sementara 2 orang lagi itu murid di YPAC sini yang ikut berlatih menyemangati teman-temannya yang akan berlaga di Asian Paragames 2018.

Senyum Manis Bagas

Salah satu peserta yang bukan atlit pelatnas itu Bagas. Anak ini senyumnya riang sekali. Ketika saya baru masuk ruangan dia juga menyambut saya dengan senyumannya. Bagas belum cukup umur untuk jadi atlit Boccia. Batasan umur atlit Boccia adalah 16 tahun. Namun dia punya semangat yang luar biasa untuk membantu menyemangati sahabat-sahabatnya yang akan bertanding demi harkat dan martabat bangsa.

Bagas sang penyemangat
Potrait of Bagas
Bagas sang Inspirasi

Lain lagi kisah Bintang. Remaja yang berusia 16 tahun ini asalnya dari Bekasi. Dia bersekolah di sini karena mamanya sudah muter-muter mencarikan sekolah SMP Negeri di Bekasi tapi tidak ada satupun SMP yang menerima bintang bersekolah di sana. Otaknya cerdas, anaknya juga ramah.

Bintang dengan bola andalannya

Bintang adalah salah satu dari 8 altit Boccia yang akan bertanding di Asian Paragames 2018 mendatang. Bintang dan teman-temannya patut bangga, karena team mereka inilah yang pertama kali di turunkan untuk hajatan international seperti Asian Paragames 2018 ini. Yah, tahun ini, Indonesia menurunkan team Boccia untuk pertama kalinya, memperkuat team Indonesia dalam Asian Paragames 2018 6-13 Oktober 2018 mendatang.

Bola Boccia

Mendengar nama Boccia pertama kali saya juga binggung. Ini olah raga seperti apa yang model pertandingannya. Setelah melihat Bintang dan teman-temannya berlatih, saya jadi sedikit mengerti tentang olah raga ini. Pertama kali dimainkan itu di New York pada tahun 1984. Cara bermainnya sederhana sekali. Setiap peserta atau team diberikan 6 bola dan mereka akan melemparkannya ke bola jack yang berwarna putih. Hasil pertandingannya adalah siapa yang berhasil melemparkan dari 6 bola tersebut paling dekat dengan bola jack. Nah yang terdekat itulah yang akan jadi pemenang. Sesimpel itu.

Nunggu bis jemputan

Selama Pelatnas, mereka biasanya berlatih pagi dan sore hari. Ketika sore menjelang, Bintang dan teman-temannya bersiap meninggalkan aula YPAC tersebut untuk kembali beristirahat mengumpulkan tenaga untuk kembali berlatih keesokan harinya. Satu bus yang sudah didesain khusus akan menjemput mereka di depan gedung YPAC tersebut. Lift kecil di pintu bus akan mengangkat kursi roda mereka ke atas bus. Bintang dan teman-temannya satu persatu naik kedalam bus dengan bantuan para pelatih dan pendamping. Sementara Bagas terlihat digendong sang bapak untuk dipindahkan dari kursi roda ke motor yang sudah terparkir di trotoar jalan. Dada saya tiba-tiba sesak ketika melihat Bagas di gendong pindah dari kursi roda ke jok motor. Kasih sayang sang bapak terlihat luar biasa sekali sore itu. Berangkat dan pulang latihan, Bagas diantar keluarganya.

Atlit dan Official team Boccia Indonesia

Keberadaan Pelatih disini berperan ganda. Selain melatih mereka juga mendampingi Bintang dan teman-temannya. Kadang mereka terlihat akrab sekali bercanda dan meledek satu sama lainnya. Seolah itu menjadi obat buat kerinduan mereka pada kampung halaman dan keluarga. Memang selama Pelatnas di Solo ini, mereka harus berpisah dengan keluarga.

Narcis berdua sama Kia, Adiknya Bintang

“Lebaran kemarin saya tidak pulang ke Bekasi mas, karena harus latuhan” tutur Bintang ketika saya nanya tentang keluarganya.

Bintang di fotoin Adiknya

Beruntungnya, beberapa hari sebelum team berangkat ke Jakarta, keluarganya menyusul dari Bekasi. Sang mama menuturkan bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyemangati Bintang dan teman-temannya. Yah peran keluarga terasa begitu penting disaat-saat seperti ini.

“Bintang itu cita-citanya tinggi mas, dia ingin kuliah. Makanya pas selesai SMP di YPAC ini dia minta dicarikan sekolah umum saja, biar ijasahnya bisa diterima di kampus-kampus. Soalnya pengalaman dari beberapa kakak kelasnya, yang Ijazah SLB susah diterima di kampus-kampus biasa” mamanya Bintang bercerita ketika kami sedang menunggu bis jemputan atlit yang datangnya telat.

Ceria saat latihan

Berita tentang diskriminasi buat teman-teman berkebutuhan khusus di sekolah normal ini sering saya dengar. Dan kisah Bintang ini menambah betapa belum bersahabatnya sistem pendidikan kita buat mereka, Bintang dan teman-temannya. Padahal jiwa mereka juga merah putih. Hidup mereka juga berjuang demi merah putih berkibar paling tinggi di ajang Asian Paragames 2018 nanti.

Bintang in Action

Perjalanan kali ini membuat semangat hidup saya seolah di suntik kembali. Banyak pelajaran bersyukur saya pelajari dari para inspirator muda ini. Bintang hanyalah satu contoh dan bukti bahwa penyandang disabilitas juga bisa berprestasi.

Satu hal yang harus kita garis bawahi disini. Mereka para atlit Asian Paragames ini tidak butuh belas kasihan dari kita. Yang mereka butuhkan adalah doa dan kobaran semangat untuk terus berjuang demi nama baik bangsa di Asian Paragames 2018 nanti. Sudah sepatutnya juga kita mendoakan, mendukung dan menyemangati mereka, agar bisa menjadi yang terbaik dan membanggakan ibu pertiwi.

Bagas sang penyemangat

Buat Bintang dan semua sahabatku yang akan berjuang membela Merah Putih di Asian Paragames 2018 nanti,

Percayalah kawan, tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu ada disamping kita. Jadi kobarkan semangat dan berusahalah yang terbaik, Tuhan akan memberikan jalan terbaik buat kita.

Dengan helatan akbar ini juga saya berharap, semoga masyarakat Indonesia lebih bisa menghargai saudara-saudara kita para pejuang seperti Bintang dan teman-temannya ini di seuruh indonesia.

Vani Srikandi Boccia

Karena indonesia ini bukan milik segelintir orang saja, tapi indonesia ini ada di setiap darah dan daging semua warganya, termasuk sahabat-sahabat saya ini.

Selamat berjuang Bintang, Semoga kamu bisa menjadi bintang di lapangan Boccia nanti. Amin.

*sebelum terbang pulang, saya menyempatkan diri mampir ke pabrik gula Colomadu, keren.

Colomadu
Didalam Colo Madu
Senja di Colo Madu

1 COMMENT

  1. jleb banget mas’e sampe mbrebes mili aku…
    tetap semangat dan terus berjuang ya atlit Asian Paragames (walau telat ngucapin) saya harap mereka diapresiasi dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah

Komennya disini ya..