Bertemu Peri di Ningle Terrace Furano? – Jepang Trip #7

2

Petang menjelang di Ninggle Terrace (Ningguru Terrace). Suasana hutan pinus itu ramai tapi tetap terasa damai. Rumah-rumah kayu mungil mulai disinari cahaya lampu kuning keemasan. Sebuah petang sederhana nan damai , seperti desa-desa kecil di Hokkaido, Jepang.

Ningle Terrace Hokkaido

Sejatinya, Ningle Terrace adalah komplek pertokoan yang semuanya terbuat dengan cara handmade. Banyak ragam permainan dari kayu, kertas hingga kerajinan besi dan tembaga dijual di lokasi ini. Konsepnya menarik sih, berjalan-jalan menyusuri jalanan yang terbuat dari susunan papan di tengah hutan.

Toko-tokonya dibuat seperti rumah-rumah penduduk di Pedesaan Furano

Ningle atau Ningguru sendiri adalah sebutan dari masyarakat suku Hokkaido untuk mahluk kecil mirip peri yang dipercaya sebagai penjaga hutan disana. Kalau mau bertemu sendiri, silahkan datang kesini. Komplek perkampungan mungil ini ada dalam satu lokasi dengan hotel New Prince Hokkaido, konon kabarnya, akan makin indah kalau pas musim salju tiba.

Jangan Lupa bahagia kak
Warung Kopi di Tengah hutan Pinus

Tak lengkap rasanya jalan-jalan keliling Furano kalau tidak mampir ke hutan pinus nan cantik ini. Ningle terrace menjadi terkenal kerena beberapa Drama Jepang terkenal syuting di lokasi itu. Selain “Kaze no Garden” yang fenomenal juga ada satu lagi film drama Jepang yeng syuting di lokasi ini. “Yasashii Jikan” judulnya. Salah satu settingnya adalah di Mori No Tokei Coffee Shop. Warung kopi ditengah hutan pinus ini terlihat makin romantis dengan lampu-lampu kuning keemasan. Apalagi ketika senja menjelang, romantisnya berlipat-lipat.

OOTD yang gagal :), Motuls Jahat nih, kan kasihan bapaknya nungguin 🙂

Lokasi Ninggle Terrace ini tak terlalu luas. Jadi tidak perlu lama untuk memutarinya. Ada Bar yang buka waktu malam saja. Disanalah satu-satunya tempat yang diijinkan untuk merokok. Jadi kalau kalian berencana main kesini, jangan sembarangan merokok ya kawan.

Kelar muterin Ninggle Terrace, saya kembali ke New Prince Hotel, untuk sejenak melepas penat sebelum ikut rombongan makan malam. Lokasi makan malam kali ini ada di restoran hotel yang letaknya ada dilantai bawah. Tak banyak restoran di sekitar hotel ini, jadi mau tak mau harus makan di restaurant yang disediakan oleh hotel.

Lihat sendal saya, itu sendal hotel. Dengan sandal itulah saya naik turun bukit menuju BAR

Ada dua restaurant yang saya tahu di lokasi ini. Yang pertama adalah Buffe yang ada dilantai bawah, sementara satunya lagi Ada dilantai 1 dengan konsep coffee shop lengkap dengan bakerynya. Namun JNTO mengajak kami untuk menikmati makanan all you can eat di restoran bawah. Dan tahu sendiri kan menu makanan jepang itu enak-enak. Akhirnya saya pun bergerilya kesana kemari untuk menikmati fresh seafood yang enak endes itu. Capit kepiting yang gede-gede itu jadi incaran saya dan semua pengunjung restoran. Jadi harus sedikit ngantri untuk mendapatkannya.

Siang ataupun malam, Ningle Terracenya keren

Karena kebanyakan makan, saya butuh bergerak untuk membakarnya. Untunglah ada ajakan untuk kembali muterin Ningle Terrace dan nyobain Bar yang terletak di bawah ujung jalanan di hutan Pinus itu. Pas berangkatnya sih enak karena jalanan menurun, ditemani cahaya kunang-kunang hutan pinus. Perjalanan menuju Bar makin syahdu dengan deritan serangga hutan dikanan kiri jalan tanah yang sudah dikeraskan.

ini Barnya gaes, gak ada es teh tawar disini 🙂

Sampai di Bar ternyata masih sepi. Padahal saya membayangkan sebuah bar di tengah hutan yang hingar bingar dengan cahaya keemasan memantul, diantara dedaunan yang ada di skitaran bar itu. Namun ternyata, konsep Bar-nya tidak seperti itu. Hanya RIO sang penyiar idola mamah-mamah muda itu yang masuk kedalam Bar. Sementara saya dan yang lain malah kepikiran pulang ke HOtel setelah tahu di Bar itu tidak jualan es teh tawar.

Salah satu yang di jual di Ningle Terrace

Alhasil kami harus jalan menanjak sepanjang perjalanan menuju hotel. Motuls sudah terlihat mandi keringat yang mengucur dari belakang lehernya. Sementara saya masih asik menikmati langkah demi langkah sambil ngitungin kira-kira lemak bagian mana ini yang akan terbakar. Padahal saya dulu selalu menghindari jalanan menanjak seperti itu. Untunglah Tuhan segera ngasih Hidayah ha ha.

Bunga-bunga di English Garden yang lagi pada mekar

Hokkaido memang mempesona, terlebih Furano ini. Lembah cantik yang dikeliling gunung-gunung. Furano Baik dikunjungi saat musim panas seperti ini, maupun saat musim dingin tiba. Sama-sama menarik dan sama-sama punye cerita seru. Jadi mumpung Lavendernya masih mekar, buruan gih main ke Hokkaido. Kalau Ketemu peri di Ningle terrace, salamin ya dari pangerang Tuxedo bertopeng dari Tangerang.

 

2 COMMENTS

Komennya disini ya..