Bersua ORA di Pulau Komodo. [Sailing Flores – Lombok Part-3]

5
musim kering di pulau Komodo
musim kering di pulau Komodo

Pulau Komodo sudah dikenal banyak kalangan. Baik dari dalam maupun luar negeri. Ketenaran ORA membuat pulau Komodo ini menjadi salah satu destinasi terbaik dunia.

Pagi menjelang, baru saja saya membuka mata ternyata kapal sudah memulai pelayaran. Diujung langit sana terlihat semburat rona yang begitu menakjubkan. Riak gelombang juga tidak sebehat kemarin petang. Pak Dulah terlihat tersenyum dibalik kemudi kapal sambil mengucapkan selamat pagi. Rupanya secangkir kopi Panas berhasil membuat mata saya melek sempurna. Duduk dianjungan kapal sambil menikmati secangkir kopi panas dan menikmati setiap detik munculnya matahari sebagai tanda sebuah hari akan dimulai.

Dermaga loh Liang Pulau Komodo
Dermaga Loh Liang pulau Komodo

Menu sarapan sudah terhidang di ruang makan kapal. Matahari juga sudah mulai meninggi. Tanpa komado kedua kalinya, kami bertujuh sudah duduk melingkari sarapan pagi. Kegiatan makan bareng seperti ini membuat kami bertujuh langsung bisa menyatu. Celotehan demi celotehan menemani kami sepanjang pelayaran ini. Dan dalam waktu beberapa jam saja kami langsung seperti sudah kenal lama. Mungkin karena perasaan sepertualangan yang sama kali ya ha ha.

Pelayaran pagi ini mengarah ke sebuah pulau habitat komodo lainnya di Taman nasional komodo, yakni pulau Komodo. Belum afdhol rasanya melihat komodo tapi tidak mampir ke pulau komodo. Kapal berlabuh di dermaga Loh Liang. Di Loh Liang ini kami harus melapor kembali ke kantor Taman nasional, dari akan kembali di damping oleh ranger untuk berkeliling pulau melihat habitan alam di pulau Komodo.

Gerbang Pulau Komodo
Gerbang pulau komodo
perbukitan di pulau komodo
perbukitan di pulau komodo

Ranger kembali menjelaskan kepada kami tentang trek yang akan di lalui. Meski udah beberapa kali mengunjungi pulau ini saya tetap ikut mendengarkan keterangan sang ranger. Satu pesan yang harus dipatuhi setiap orang yang masuk ke dalam pulau Komodo ini adalah sama dengan di pulau Rinca. Larangan untuk terpisah dari group dan membuat gaduh adalah pantangan ketika kita sedang trekking di pulau Komodo.

Pemandangan-di-pulau-komodo
Pemandangan-di-pulau-komodo

Trek yang dipilih adalah medium trek. Dalam trek ini kami di pandu oleh seorang ranger naturalisasi dari warga desa komodo. Oh ya di pulau Komodo ini ada satu desa yang dihuni lebih kurang 200-300 an kepala keluarga. Di desa ini juga beredar kisah tentang asal usul Ora (sebutan buat komodo) yang konon katanya adalah saudara kandung dari warga desa Komodo, jadi jarang terdengar kabar bahwa warga desa Komodo di mangsa oleh Komodo itu sendiri. Mereka hidup berdampingan dengan damai hingga sekarang layaknya seorang saudara kandung.

Water Hole adalah spot pemberhentian pertama hampir semua trek yang ada di pulau Komodo. Di spot ini biasanya rusa-rusa akan mencari air untuk minum. Dan di spot ini jugalah biasanya Komodo mangincar mangsanya. Terlihat beberapa rusa juga terlihat sedang asik beristirahat di bawah pohon asem yang tidak jauh dari sumber air.

pohon gersang di pulau komodo
pohon gersang di pulau komodo

Perjalanan dilanjutkan menuju hutan asam dan bukit sulphurea. Dari atas bukit ini kita bisa meluaskan pandangan melihat perbukitan pulau komodo dan luasnya laut. Matahari juga seolah memberikan bonus panas yang luar biasa. Memang saat saya berkunjung ke pulau ini adalah musim kemarau. Matahari bersinar begitu terik, dan rumput-rumput di pulau ini juga terlihat sudah menguning bahkan di beberapa tempat sudah mati.

Narsis di Sulphurea hill pulau Komodo
Narsis di Sulphurea hill pulau Komodo
Sulphurea hill pulau komodo
Sulphurea hill pulau komodo

Dari bukit Sulphurea perjalanan kembali menuruni bukit menuju bukit lainnya yakni bukit Fregata. Dari atas puncak Fregata hills ini pemadangan begitu indah. Laut biru dan dermaga Loh liang terlihat begitu mempesona. Belum lagi layer-layer perbukitan di belakang dermaga yang merupakan sebuah teluk juga terlihat indah. Saya selalu suka dengan puncak fregata ini. Ingin rasanya duduk berlama-lama di bawah bohon perdu yang ada disana. Namun Lokasi ini juga masih daerah habitatnya Komodo, saya tidak ingin duduk berdiam diri dipuncak ini sendirian. Gak asik juga kan jika tiba-tiba muncul seekor komodo yang ingin menemani kita ha ha.

Pemadangan dari Fregata hill pulau Komodo
Pemadangan dari Fregata hill pulau Komodo
Komodo-sedang-makan-kambing
Komodo-sedang-makan-kambing

Dan trekking siang itu berakhir di sebuah rumah makan. Sebotol minuman dingin berhasil menghela haus dan panas nya suhu di pulau Komodo. Sedang asik duduk di restoran ternyata sedang ada acara pemberian makan komodo di depan restoran. Posisi duduk saya yang di pinggir sangat strategis untuk melihat lebih jelas komodo memangsa hewan buruannya. Dalam waktu sekejab dari segala penjuru datanglah komodo mengarah ke seekor kambing yang sengaja sudah di persiapkan. Ngeri sekali melihat cara komodo memangsa hewan buruannya. Tulang-tulang di tubuh rasanya ngilu seketika melihat lahapnya mereka merobek tubuh kambing di bawah pohon asam itu.

Cerita Sebelumnya silahkan baca di sini http://lostpacker.com/jelajah-pulau-rinca/


 

Bersantai di pulau Komodo
Bersantai di pulau Komodo
Narsis di Fregata hill pulau Komodo
Narsis di Fregata hill pulau Komodo

5 COMMENTS

Komennya disini ya..